8 Kecamatan Rawan Bencana

ilustrasi rawan bencana alam
Foto : IST

ARGA MAKMUR, Bengkulu Ekspress – Sebagian besar lokasi rawan bencana alam di Kabupaten Bengkulu Utara (BU) adalah di pesisir pantai. Seperti di Kecamatan Air Napal, Batiknau, Lais, Ketahun, Putri Hijau, Air Besi, Enggano dan Air Padang. Jenis bencana alam yang sering terjadi di sejumlah kecamatan tersebut adalah banjir, gempa bumi, tanah longsor dan gelombang tinggi air laut.

Sehingga Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menganggap Kabupaten Bengkulu Utara salah satu Kabupaten yang rawan bancana. Untuk itu, diperlukan tindakan yang tanggap setelah terjadi bencana seperti mendirikan posko, evakuasi, pemberian kebutuhan dasar, mengerahkan relawan, pembinaan mental dan memakamkan jenazah jika ada korban meninggal.

“Karena menjadi salah satu Kabupaten rawan bencana, BPBD Kabupaten Bengkulu Utara harus tanggap menindak lanjuti jika terjadi bencana alam. Mulai dari mendirikan posko sampai mengerahkan relaman dan upaya lain untuk membantu korban bencana alam,” jelas Kepala BPBD Kabupaten Bengkulu Utara, Agus Arifianto.

Selain itu, lanjutnya, BPBD Kabupaten Bengkulu Utara juga melakukan pencegahan jatuhnya korban jiwa jika terjadi bencana alam. Salah satunya membentuk sekolah siaga bencana di SMAN I Lais dan SMKN I Air Napal, pemasangan rambu bencana sebanyak 20 titik rawan bencana longsor, gempa bumi dan gelombang tinggi, serta pembentukan desa tangguh di Kecamatan Enggano.



“Kita juga meminimalisir jatuhnya korban jiwa dengan melakukan sosialiasi di sejumlah tempat rawan bencana. Kita bentuk sekolah siaga bencana, memasang rambu rawan bancana,” pungkas Agus.

BPBD Kabupaten Bengkulu Utara tidak ingin korban bencana alam berjatuhan seperti gempa bumi di Lombok, NTB. Untuk itu, BPBD akan semaksimal mungkin melakukan sosialisasi terkait kewaspadaan jika menghadapi bencana alam. Sosialisasi dirasa hal yang cukup penting untuk mencegah korban jiwa, mengingat bencana alam tidak bisa diprediksi kapan datangnya. “Masyarakat harus waspada, terutama yang tinggal dititik rawan bencana alam. Karena bencana alam tidak bisa diprediksi kapan datangnya,” pungkas Agus.(167)