7 Langkah Sukses Meninggalkan Bisnis Anda

Exit strategy pinned on noticeboardPernahkah Anda berpikir tentang bagaimana Anda akan meninggalkan bisnis yang sudah dibangun? Kebanyakan pebisnis hanya berpikir bagaimana membangun sebuah bisnis, tanpa pernah sekalipun berpikir tentang bagaimana meninggalkannya.Padahal cepat atau lambat Anda harus meninggalkannya. Kita toh tidak bisa hidup untuk selamanya. Cepat atau lambat suksesi perlu terjadi.

Suksesi tersebut bisa berarti menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada anak-anak atau menjual bisnis kepada orang lain. Itu mengapa setiap pemilik bisnis perlu mempunyai sebuah exit strategy.

Merancang exit strategy bukan berarti menyerah, ini hanya soal tahu kapan harus mengucapkan selamat tinggal, dan dalam keadaan seperti apa mengatakan selamat tinggal. Ini bukan tentang pesimisme, melainkan tentang perencanaan yang cerdas. Exit strategy harus berdampingan dengan tujuan bisnis.

Masalahnya, banyak pemilik bisnis yang tidak memiliki exit strategy. Akibatnya mereka tidak mampu merencanakan bagaimana untuk mencapai tujuan mereka tersebut. Mereka tidak mampu memaksimalkan nilai dari penjualan bisnis dan memastikan hal tersebut menarik bagi pembeli.
Berikut tujuh tips tentang bagaimana menangani kedua siklus kehidupan, bisnis Anda dan Anda sendiri:

1.Jangan Biarkan Kepemimpinan Anda Rusak.
Hal pertama dan yang utama adalah menyadari sepenuhnya bahwa Anda tidak atau belum meninggalkan bisnis, sehingga Anda harus terus proaktif dalam memimpin.
Inisiatif kepemimpinan kedua yang perlu Anda ambil – dan ini agak personal adalah: menyiapkan diri untuk mendirikan bisnis sebagai jalan Anda untuk keluar.

2. Sadar bahwa Anda Mengenakan “Dua Topi”.
Saat membuat exit strategy, Anda mengontrol dua hal yang tidak terkait: jalan keluar Anda sendiri dan menjaga perusahaan berjalan lancar.
Kedua ‘topi’ ini kadang-kadang memerlukan perhatian lebih dari Anda pada waktu tertentu. Artinya Anda mungkin perlu memberikan lebih banyak tanggung jawab kepada bawahan Anda.

3. Fokuslah Pada Aset Anda.
Aset tidak saja mengacu pada nilai moneter dari perusahaan Anda – inventaris, properti, dan bahkan keuntungan yang diharapkan dapat dihasilkan di masa mendatang. Hal tersebut juga mencakup para karyawan, pengetahuan institusional mereka, basis pelanggan, dan banyak lagi. Pastikan bahwa tidak ada hal-hal yang lolos dari radar fokus Anda saat merencanakan exit strategy.

4. Ketika Membuat rencana, Jangan Terburu-buru
Maksudnya adalah, kapan pun Anda bisa meninggalkan bisnis, hanya saja diperlukan rencananya yang matang.

5. Bersiaplah untuk (potensi) Pasar dengan Cara Baru.
Jika Anda memutuskan untuk menutup bisnis, pemasaran produk Anda akan melambat dan akhirnya berhenti. Jika Anda mengalihkan kendali bisnis pada seseorang, pastikan dia mengetahui apa yang selama ini cocok dengan perusahaan, dan apa yang akan mereka ubah dan coba selanjutnya.

6. Menyusun strategi seperti seorang pemenang.
Pasar adalah sebuah medan perang, dan pertempuran tidak pernah berakhir. Pada kenyataannya hal itulah yang membuat banyak pebisnis memutuskan untuk mundur, karena mereka mengalami “kelelahan dalam bertempur”.

7. Gunakan Pengetahuan Bisnis Anda untuk Bekerja.
Pengetahuan bisnis secara umum melampaui industri itu sendiri. Semakin banyak Anda tahu tentang pasar, cara kerja persaingan, memaksimalkan aset, dan lainnya, semakin akurat Anda akan mampu menghargai bisnis Anda. Anda juga akan lebih mudah untuk membenarkan penilaian aset dan kekayaan bisnis Anda secara keseluruhan. (**)