600 Hektar Sawah Terancam Gagal Panen

Bengkulu
GAGAL PANEN: Wabup Bengkulu Selatan saat meninjau sawah petani yang kekurangan air lantaran air irigasi kecil sebab sebagian besar dipakai untuk KAD, Selasa (3/1).

SEGINIM, Bengkulu Ekspress –Wakil Bupati Bengkulu Selatan (BS), Gusnan Mulyadi SE MM mengatakan, saat ini ratusan hektar sawah petani di Kecamatan Seginim kekurangan air. Akibatnya padi yang ditanam terancam gagal panen.

“Akibat kekurangan air, 600 hektar sawah di Seginim terancam gagal panen,” katanya saat meninjau hamparan sawah di Seginim, Selasa (3/1).

Gusnan mengatakan luasnya sawah yang kekeringan di Seginim ini lantaran air irigasi dari bendungan Selepah yang memanfaatkan sungai Air Nipis sebagian besar digunakan untuk sumber air bagi kolam air deras (KAD).

Akibatnya banyak air yang terserap oleh KAD dan tidak masuk kembali ke saluran irigasi. Sehingga sawah dibagian hilir kekurangan air.

“Dari pantauan saya, sawah kekurangan air ini karena keberadaan KAD yang airnya tidak kembali lagi ke saluran irigasi,” ujarnya.

Dengan temuan tersebut, dalam waktu dekat, dirinya akan berkoordinasi dengan pihak komisi irigasi dan balai pengairan. Sebab tanpa adanya ketegasan terhadap KAD yang tidak sesuai aturan tersebut, maka sawah petani yang saat ini sudah ditanam akan gagal panen. Sehingga petani terancam kelaparan.

“Saya akan koordinasikan dengan pihak balai dan komisi irigasi, agar mencarukan solusi bagi KAD sehingga air tidak terbuang sia-sia, sebab jika tidak ada ketegasan, maka 600 hektar sawah yang saat ini padinya sudah ditanam akan gagal panen,” tandas Gusnan.

Sementara itu, Marhen Harjono MM, salah satu tokoh muda pemerhati pertanian di Kecamatan Seginim mengatakan, di Kecamatan Seginim terdapat 1500 hektar sawah yang berada di beberapa hamparan yakni ataran Lukap, Ataran Kukus, ataran air putih, ataran tanjung tebat dan ataran air Kluangan.

Saat ini airnya sudah kering karena dibagian hulu atau dekat bendungan ada 10 titik kolam air deras. Sedangkan sumber air KAD ini langsung mengambil dari saluran irigasi. Sedangkan air yang berada di KAD ini sebagian besar tidak kembali ke saluran irigasi. Namun terbuang ke sungai Air Nipis kembali. Akibatnya sawah dibagian hilir kekurangan air. “Sebenarnya air irigasi besar, namun karena adanya KAD tersebut, menyebabkan air irigasi tidak sampai ke bagian hilir sehingga mengalami kekeringan, jika tidak segera dicarikan solusi, maka sawah tersebut akan gagal panen dan terancam alih fungsi,” terang Marhen. (369)