60% Wilayah Rejang Lebong Rawan Longsor

1. longsorCURUP, Bengkulu Ekspress – Wilayah Kabupaten Rejang Lebong yang berada di jalur pegunungan Barisan sangat rawan akan terjadinya bencana longsor.  Bahkan menurut pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rejang Lebong, Rafriyal ST, 60 persen wilayah Rejang Lebong rawan akan bencana tanah longsor.

“Daerah kita yang berada di daerah pegunungan sangat rentan akan bencana longsor, bahkan 60 persen daerah Rejang Lebong ini rawan akan longsor,” jelas Rafriyal.

Lebih lanjut Rafriyal menjelaskan, daerah rawan longsor yang ada di Rejang Lebong tersebut sebagian besar berada di daerah calon Kabupaten Lembak, baik di jalan lintas Curup-Lubuk Linggau maupun jalan dari PUT ke Kota Padang dan jalan dari Jalan Sindang Kelingi menuju Sindang Dataran.
Beberapa daerah yang rawan longsor di wilayah Lembak tersebut antara lain di Desa Cahaya Negeri, Jembatan Blitar. Selanjutnya di Desa Taba Padang dan Jalan Kayu Manis.  “Selain di wilayah

Lembak, di wilayah perkotaan Curup ini juga ada terjadi tanah longsor,” tambah Rafriyal.

Beberapa lokasi longsor yang terjadi di wilayah Kota Curup tersebut antara lain di Desa Air Merah Kecamatan Curup Tengah, kemudian di Desa Taba Renah Kecamaan Curup Utara. Selain itu daerah rawan longsor lainnya berada di jalan lintas Curup- Muara Aman.

Dijelaskan Rafriyal, longsor yang terjadi di Rejang Lebong akhir-akhir ini, karena curah hujan yang masih sangat tinggi. Untuk mengantisipasi terjadinya tanah longsor, Rafriyal mengharapkan kerjasama dari seluruh lapisan masyarakat Rejang Lebong.

Untuk mencegah terjadinya longsor, selain menggunduli hutan atau tebing yang ada, Rafriyal juga mengajak masyarakat Rejang Lebong untuk tidak membuang sampah sembarangan terutama disiring. Karena menurutnya bisa menghambat saluran air, karena aliran air yang terhambat akan menyebar sehingga bisa menyebabkan longsor.

“Karena aliran air tersumbat, maka air akan meluap khususnya ke tempat yang rendah sehingga berpotensi terjadinya longsor,” akhir Rafriyal. (251)