58 Persen Anak Muda Tertarik Paham Radikal

IST/BE
IST/BE

BENGKULU, BengkuluĀ  Ekspress– Sebanyak 58 persen pemuda di Bengkulu yang menjadi respoden Badan Penanggulangan Terorisme (BNPT) terindikasi tertarik pada paham radikal. Hal ini diketahui dalam seminar merawat NKRI dari Ancaman Radikalisme di Kota Bengkulu, yang diselenggarakan di Hotel Ananda, kemarin.

Seminar dan dialog interaktif yang diselenggarakan Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (Permahi) Bengkulu ini menghadirkan tiga nara sumber, yaitu Sekretaris Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Bengkulu, Ir Usman Yasin MSi, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bengkulu, Drs Zul Efendi dan pakar akademisi, Subhan Amin M.HI.

Usman Yasin dalam pemaparanya menuturkan, kehadiran radikalisme di Indonesia tidak muncul secara tiba-tiba, dan Indonesia menjadi salah satu negara sasaran. Hal ini dikarenakan jumlah penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Potensi radikalisme dan terorisme di Indonesia juga karena faktor pemahaman agama yang legalistik, ekslusif, dan hadirnya organisasi-organisasi gerakan radikal dengan menggunakan kekerasan dalam mewujudkan cita-cita.

Gerakan radikalisme sangat mudah diperoleh masyarakat, pasalnya penyebaran informasi di media sosial (Medsos) tanpa melalui filterisasi.

Bengkulu, kata Usman, menjadi salah satu provinsi yang memiliki potensi dan sikap radikalisme. Berdasarkan penelitian dari Badan Nasional Penanganan Terorisme pada tahun 2017 menyebutkan, ada lima provinsi yang memiliki sikap radikalisme, salah satunya Bengkulu. Penelitian yang dirilis BNPT tahun 2017 itu melibatkan 9.605 responden yang berusia di atas 17 tahun, dari lima provinsi yang diteliti diketahui 55,7 persen sikap radikal.

Di Bengkulu, penelitian disebar di lima kabupaten yaitu Bengkulu Tengah, Bengkulu Utara, Seluma, Mukomuko, dengan hasil sikap radikalisme 58, 58 persen, dengan lima daerah yang diteliti seperti Bengkulu Utara, Bengkulu Tengah, Seluma, Mukomuko.

“Anak muda yang belum memiliki wawasan lengkap, sangat mudah diajak dalam aliran ini, media sosial bisa meracuni, menjadi sarana propaganda,” katanya.
Strategis pencegahan radikal dan terorisme adalah melibatkan semua pihak, kebijakan dan strategi melawan

radikalisme pemberdayaan masyarakat secara terintegrasi dalam upaya pencegahan radikalisme teroris melibatkan tokoh agama, pemerintahan, TNI, dan Polri.

Peran mahasiswa adalah belajar mencoba memberikan pemahaman dan memberikan informasi yang akurat baik langsung maupun lewat medsos.

Sementara itu, Ketua MUI Kota Bengkulu, Drs Zul Efendi M.PdI menuturkan, radikalisme selalu diidentik dengan gerakan yang menuntut perubahan secara cepat, maka dilakukan dengan cara apapun. Hal inipun disebabkan tidak tuntasnya pemahaman tentang makna jihad.

Radikalisme mudah dan tersalur berkembang karena lemahnya penegakan hukum, rendahnya tingkat pendidikan, pemahaman idiologi, dan kurangnya dialog antar umat agama.

“Jika silahturahmi dan komunikasi terbangun, maka rasa memiliki akan terbangun,” ujarnya.
Disisi lain, Pakar Akademisi, Subhan Amin M.Hi menuturkan munculnya radikalisme ada karena pemahaman terhadap tafsir perbedaan melalui agama, sosial yang dikarenakan lingkungan pergaulan.

Untuk itu, generasi muda harus bisa memahami keberagaman. Ada 2 hal yang perlu dilakukan untuk keberagaman dan menjaga keutuhan bangsa yaitu proses pedidikan sejak dini dari keluarga tentang pemahaman pancasila sebagai ideologi. Kedua, senantiasa melakukan pendidikan formal.

“Akibat kecanggihan pengaruh lingkungan dan pendidikan sehingga terpengaruh budaya lain, informasi tidak benar sehingga modal sosial seperti etika, moral mulai luntur,” imbuhnya. (247/krn)