52 Guru Bahasa Inggris Terancam Nganggur

BENGKULU, BE – Apabila wacana penghapusan mata pelajaran Bahasa Inggris dari kurikulum siswa Sekolah Dasar (SD) tahun ajaran 2013/2014 mendatang benar terjadi. Maka 44 Guru Non PNS yang mengajar di Kota Bengkulu terancam menganggur. Begitu juga dengan 8 Guru Bahasa Inggris berstatus PNS terancam kehilangan spesifikasi bidang studi yang diajarkannya.

“Kalau saya pribadi menyayangkan rencana tersebut. Karena bahasa internasional memang untuk pengetahuan anak,” Kata Kepala SDN 2 Kota Bengkulu, Titin Komaryati MPd.

Menurut Komaryati, Pelajaran Bahasa Inggris ini sangat penting bagi siswa. Di SDN 2 sendiri, Bahasa Inggris sudah diberikan sejak kelas 1. Ia juga mengatakan mata pelajaran menggunakan bilingual juga bagus bagi pengetahuan dan perkembangan anak.

Untuk itu Titin berharap mata pelajaran tersebut tidak jadi dihapuskan. Pasalnya, Bahasa Inggris adalah bahasa internasional  sangat perlu dikenalkan sejak dini pada siswa. Susah jika siswa baru diperkenalkan bahasa Inggris saat remaja.
“Dari kecil sebaiknya memang diperkenalkan Bahasa Inggris,” kata dia.

Hal yang sama juga dikatakan Kepala SDN 18 Kota Bengkulu, Tuti Marlini SPd. Ditemui di sekolahnya, Tuti mengatakan Bahasa Inggris penting diajarkan. Apalagi saat ini sudah jaman era globalisasi, bahasa inggris menjadi kebutuhan.

“Contohnya saja, dicatatan keterangan obat-obatan ada tulisannya Bahasa Inggrisnya. Ini membuktikan Bahasa Inggris sudah menjadi bahasa Internasional,” terangnya.
Selain itu, Tuti juga menghawatirkan nasib para guru Bahasa Inggris SD yang jumlahnya tidak sedikit itu kehilangan pekerjaannya.

“Guru Bahasa Inggris

 

di sekolah kita statusnya honor,

 

kalau dihapuskan dia bisa

 

kehilangan pekerjaannya,”

 

ujar Tuti.

Terkait hal ini, Kasubag Kepegawaian Dispendik Kota, Drs Akmaluddin mengakui tentang penghapusan Pelajaran Bahasa Inggris dari kurikulum SD. Secara singkat, mantan Kepala SMP ini mengatakan bagi guru bahasa Inggris berstatus PNS tak perlu khawatir akan penghapusan bidang studinya.

Karena guru ini  tetap mengajar, tapi menjadi guru kelas. Mengingat, status dalam pelaksanaan uji kompetensi gurunya adalah guru kelas. “Singkatnya, sampai saat ini belum ada pembahasan terkait wacana ini,” pungkasnya. (128)