50 Warga Daftar Jadi TKI

tki ilustrasiMERIGI SAKTI, BE – Banyaknya tindak kekerasan yang dialami para TKI (Tenaga Kerja di luar negeri, tidak membuat warga Bengkulu Tengah ciut untuk menjadi TKI. Mereka tetap berminat menjadi TKI di negeri orang. Sejauh ini setidaknya sudah sekitar 50 warga sudah terdaftar sebagai calon TKI di Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertras).

Kabid Tenaga Kerja Dinsosnakertras, Muhtadi, SH mengataka, tahun ini masih ditawarkan bagi mereka yang ingin menjadi TKI, bekerja di Malaysia sebagai buruh perkebunan dan perusahan elektronik. ”Sedikitnya ada 50 pendaftar yang sudah didata,” kata Muhtadi.
Saat ini Dinsosnakertras masih menyerahkan pengiriman TKI Benteng melalui PPTKIS (Perusahaan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta), di Kota Bengkulu. Mereka yang ditunjuk sebagai suplayer TKI di Benteng.

Jumlah TKI asal Benteng tidak mengalami pergerakan signifikan. Jumlahnya tak jauh berbeda dari tahun sebelumnya.
Ditambahkan Muhtadi, sejauh yang diketahuinya belum ada kasus yang dialami TKI asal Benteng. Namun begitu, pihaknya tetap memberi pembinaan pada calon TKI yang mau berangkat.

Terpisah Camat Merigi Sakti, H Mustar Yusuf berharap warganya tidak ada yang menjadi TKI. Sebab saat ini banyak sekali kekerasan yang dialami para TKI di luar negeri, baik kekerasan fisik, pskologis maupun seksual. Mustar menandaskan Lebih baik warga ikut membangun daerah dengan mengelola lahan perkebunan di negeri sendiri. Hasil yang diperoleh dari berkebun tidak kalah besar dengan hasil jadi TKI.

“Meskipun hujan emas di negeri orang dan hujan batu di negeri sendiri, saya lebih mengharapkan warga saya tidak memilih jadi TKI. Karena apa yang dihasilkan di daerah sendiri tidak kalah memuaskan dari apa yang dihasilkan selama jadi TKI,” ujar Mustar, menyikapi banyaknya Warga Merigi Sakti yang memilih jadi TKI dalam 2 tahun terakhir.

Diakui Warga Merigi Sakti yang menjadi TKI, cukup banyak yang berhasil. Diungkapkan Mustar, warganya yang jadi TKI umumnya bekerja di areal perkebunan dan meubel. Sebagian lain, ada juga yang bekerja di perusahaan elektronik. Mereka bekerja antara lain di Malaysia, Arab Saudi, Mesir, Korea, dan Singapura. Hasilnya mereka, jelas Mustar cukup memuaskan, tiap tahunnya TKI itu mengirim uang dan berhasil memperbaiki eknomi keluarga.

Memang mereka rata-rata cukup berhasil, dan ekonomi keluarga berubah drastis, yang tadinya tak punya rumah kini punya rumah, juga kebun, tambah lebar.

“Syukur tidak ada yang bermasalah, baik disiksa, atau ilegal. Karena mereka sesuai prosedural,” lanjut Mustar.
Meski begitu, dia tetap mengimbau warganya untuk tetap bekerja di negeri sendiri. Karena potensi yang dimiliki daerah sangatlah banyak. Pabrik, perkebunan hingga bidang lain yang berlum tergarap. (122)