50% BUMDes Tak Aktif

bumdes
Foto : IST

CURUP, Bengkulu Ekspress – Saat ini sebanyak 122 desa di Kabupaten Rejang Lebong telah memiliki Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Hanya saja saat ini tidak semua BUMDes aktif, bahkan 50 persennya sudah tidak aktif.

“Memang semua desa di Rejang Lebong ini sudah ada BUMDes, namun saat ini hanya setengah yang aktif,” sampai Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kabupaten Rejang Lebong, Gunawan Firmansyah SSos Kamis (2/8) kemarin.

Dijelaskan Gunawan, bidang usaha yang banyak dilakukan oleh BUMDes yang ada di Rejang Lebong didominasi oleh usaha penyewaan tenda dan kursi untuk hajatan. Meskipun ia mengaku sebagian ada yang bergerak dalam pengolahan makanan, produksi gula semut, kopi bubuk hingga pengembangan wisata. “Sebagian besar, unit usaha BUMDes di Rejang Lebong ini adalah persewaan tenda dan kursi,” paparnya.



Dengan melihat kondisi yang ada saat ini, yaitu banyak BUMDes yang mati suri atau tak aktif terutama untuk mereka yang bergerak dalam bidang usaha persewaan tenja dan kursi untuk hajatan. Gunawan mengaku Dinas PMD Kabupaten Rejang Lebong telah menyarankan untuk menghentikan dulu usaha penyewaan tenda dan kursi.

Hal tersebut dikarenakan, menurut Gunawan usaha tersebut dinilai tak maksimal dan tak bisa berkembang mengingat penggunaannya tergantung pada acara seperti pernikahan didesa itu sendiri, karena saat ini hampir setiap desa memiliki usaha penyewaan tenda dan kursi.

“Kita meminta usaha penyewaan tenda dan kursi untuk dihentikan dulu, karena keuntungannya tidak maksimal, mengingat hampir setiap desa ada usaha tersebut,” tambah Gunawan.

Kemudian untuk, memaksimalkan fungsi BUMDes yang ada di Kabupaten Rejang Lebong sehingga bisa menggerakkan roda perekonomian desa. Gunawan mengaku, Dinas PMD Kabupaten Rejang Lebong tengah menyusun rencana untuk mengadakan kegiatan studi banding.

Dimana menurutnya, Dinas PMD akan mengajak seluruh Kades dan perangkatnya ke desa-desa yang dianggap telah berhasil mengembangkan BUMDes menggunakan dana desa, dengan harapan apa yang dilakukan didaerah lain dan berhasil tersebut bisa dicontoh dan diterapkan di Kabupaten Rejang Lebong.

“Dengan adanya rencana studi banding ini, kita berharap keberhasilan ditempat lain bisa kita contoh, atau bisa menumbuhkan ide para aparat desa agar bisa mengembangkan BUMDes di desa masing-masing,” demikian Gunawan. (251)