5 Imigran Gelap Diamankan

KEPAHIANG, BE — Polres Kepahiang berhasil menangkap 5 imigran gelap dalam razia kendaraan bermotor yang digelar di kawasan Ujan Mas, Kepahiang tadi malam (1/3). Ke-5 imigran Timur Tengah yang diduga berasal dari Iran dan Afganistan itu saat diperiksa sekitar pukul 20.00 WIB, tidak memiliki identitas diri. Mereka menaiki mobil jenis Toyota Xenia Nopol BM 1754 QK warna dari Pekan Baru, Riau dengan tujuan Bengkulu. Sedangkan sang sopir kendaraan yang diduga mobil travel bertuliskan Hotel Dyan Graha Pekan Baru yang juga turut diamankan. Mengenai asal-usul dan latar belakang para imigran, sang sopir mengaku tak tahu menahu. “Waktu itu para imigran ini naik mobil saya dari Pekan baru dengan tujuan Bengkulu,” ujar sang sopir Adrianto (45) warga asal Sumbar yang berdomisili di Pekan Baru. Adrianto mendapat bayaran Rp 2 juta untuk mengantarkan para imigran itu ke Bengkulu. Ia tak mengetahui jika para imigran itu tak memiliki kelengkapan identitas. Dirinya hanya diberikan order penumpang dari David warga Pekan Baru. Kapolres Kepahiang AKBP Sudarno SSos MH melalui Kabag Ops Kompol Max Mariners SIk mengungkapkan para imigran ini diamankan karena tidak mampu menunjukkan kepemilikan visa, bahkan tak punya paspor. Namun pihaknya mengaku kesulitan bahasa melakukan pemeriksaan terhadap para imigran. Mereka tidak ada satupun yang mengerti bahasa Inggris apalagi bahasa Indonesia. Ini membuat identitas dan asal masing-masing imigran ini tidak diketahui secara pasti. “Sewaktu kita mintai keterangan, para imigran ini tidak bisa berkomunikasi. Sehingga untuk meminta keterangan para imigran ini kita koordinasi dengan Kantor Imigrasi Bengkulu. Malam tadi juga kita bawa para imigrasi tersebut langsung ke Bengkulu untuk dimintai keterangannya,” jelas Max.

Dijaga Ketat
Sementara itu tadi malam ke-5 imigran beserta sopir mobil ketika tiba di Kota Bengkulu sempat dibawa ke Polda Bengkulu. Sang sopir ditahan di Mapolda sedangkan para imigran tersebut diserahkan ke Imigrasi. Hanya saja, saat di Polda Bengkulu identitas para imigran itu juga belum terungkap, begitu juga dengan tujuan mereka ke Bengkulu. Kendalanya masih soal bahasa para imigran yang berbahasa suku Persia. Kendati diserahkan ke Imigrasi, para imigran itu dalam pengawalan ketat kepolisian. Sejumlah polisi dari Polres Bengkulu disiagakan untuk menjaga para imigran itu agar tidak kabur. Kedatangan imigran gelap dari Timur Tengah ini bukan kali pertama terjadi di Bengkulu. Dalam catatan Bengkulu Ekspress, 12 Juni 2009 sebanyak 34 imigran gelap asal Afganistan dan Iran terdampar dan ditangkap di Pondok Kelapa, Bengkulu Tengah. Mereka masuk perairan daerah itu melalui sejumlah agen atau nelayan Indonesia untuk mencari suaka politik. Untuk sampai Indonesia, pertama kami transit dulu melalui Malaysia dengan membayar 2.000 dolar AS. Kemudian untuk masuk ke wilayah Indonesia kami harus membayar lagi 1.000 dolar.(505/333)