49 Tahun Provinsi Bengkulu, Ekonomi Bangkit

Rohidin Mersyah============
Tepat 18 November 2017 hari ini, Provinsi Bengkulu berusia 49 tahun. Diusia hampir setengah abad ini, geliat pembangunan ekonomi Provinsi Bengkulu mulai menunjukan kebangkitannya.
=================

BERBAGAI dinamika mewarnai perjalanan Provinsi Bengkulu yang tak lagi muda. Namun semangat dan optimisme harus terus terjaga, guna mendorong kebangkitan perekonomian Bengkulu. “Semangat dan percaya diri akan segala potensi yang kita miliki, sudah saatnya harus berani kita tonjolkan, harus konsisten kita tunjukkan. Keluhan tidak akan menyelesaikan persoalan yang kita hadapi,” ucap Plt Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah, dalam wawancara khusus dengan Bengkulu Ekspress, kemarin (17/11)

Rohidin yang resmi diangkat menjadi Pelaksana tugas (Plt) gubernur pada 22 Juni lalu itu, sudah semestinya menjalankan roda pemerintahan dan pembangunan yang telah ditargetkan.

Meski di tengah terseok-seoknya serapan anggaran, dirinya dituntut untuk lakukan pembenahan pada internal birokrasi. “Tentu saja, ini harus diperbaiki. Untuk birokrasi yang sehat, siap melayani dan berintegritas serta tetap memperhatikan keterjaminan kesejahteraan aparatur pemerintahan,” katanya.
Masalah dihadapi saat ini, Provinsi Bengkulu miliki persoalan konektivitas dan kemiskinan.
Sehingga menjadi kendala dalam pengentasan kemiskinan dan peretasan daerah tertinggal. Meski demikian, persoalan ini telah di bahas hingga tingkat nasional, dan menjadi program prioritas pertama, dan telah masuk dalam Rencana Pembangungan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
Pembangunan infrastruktur dasar hingga strategis pun digenjot, untuk membuka kemudahan akses konektivitas daerah, termasuk ke provinsi tetangga.

“Konektivitas dan aksebilitas ini menjadi salah satu fokus kita, selain pembangunan jalan kemudian jalur rel kereta api dan pengembangan pelabuhan, pemprov juga berupaya mendorong pembangunan infrastruktur telekomunikasi dan kelistrikan,” tutur Rohidin.

Program prioritas yang telah disusun, lanjut pria yang selalu membanggakan kopi Bengkulu ini, tak bisa dikerjakan secara parsial.

Ia menjelaskan, dengan perencanaan yang terfokus, antara satu program dan program lain saling berkaitan. Pengerjaannya pun, dilakukan lintas sektor bahkan lintas pemerintahan.

“Pada penguatan komoditas unggulan dan hilirisasi, inikan harus dipersiapkan infrastrukturnya, pemberdayaannya hingga regulasinya juga harus benar-benar matang. Secara bertahap, programnya terus kita garap. Tidak lain targetnya adalah untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

Dia menambahkan, Pemprov Bengkulu intens melakukan komunikasi dengan pemerintah pusat. Setidaknya terdapat 28 PSN untuk pembukaan akses konektivitas, peningkatan status jalan, hingga dukungan program wisata Wonderful Bengkulu 2020 telah tercatat.

Salah satu program yang ‘gol’ di tahun ini adalah masuknya Festival Tabut Bengkulu dalam calender of events 2018 Kementerian Pariwisata.

Tak hanya itu, pembangunan feeder road Tol yang menghubungkan Bengkulu dengan Sumatera Selatan melalui Lubuk Linggau – Rejang Lebong – Kepahiang – Bengkulu Tengah – Kota Bengkulu diwacanakan segera dimulai tahun 2018 mendatang. Jalur rel kereta api, kesepakatannya telah diteken bersama, antara Pemprov Bengkulu, Pelindo II, dan PT Trans Rentang Nusantara di bulan Agustus lalu.
Menurut kalkulasi awal, nilai investasi pembangunan jalur rel yang akan terbentang sepanjang 148 kilometer dan terkoneksi ke stasiun Kota Padang hingga stasiun Pulau Baai ini, mencapai Rp 11 triliun. Rencananya, pembangunan fisiknya akan dimulai pertengahan 2018 dan rampung di tahun 2021.
Dia mengatakan, anggaran yang dimiliki Pemerintah Provinsi Bengkulu hanya sebesar Rp 3.1 triliun. Anggaran ini tidak akan mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi signifikan. Untuk itu diperlukan dua hal untuk membuat Bengkulu lebih maju yaitu dengan meningkatkan pertumbuhan investasi dan neraca ekspor.

“Kita harus meningkatkan neraca ekspor yaitu dengan membangun, memperbaiki, dan memperluas pelabuhan pulau baai dengan begitu angka investasi Bengkulu juga akan naik,” ujar Rohidin.

Pelabuhan Pulau Baai merupakan salah satu keunggulan yang dimiliki Provinsi Bengkulu, karena hanya Provinsi Bengkulu yang memiliki Pelabuhan dengan luas lahan mencapai 1.280 Hektar di Sumatera. Selain luas, lokasi Pelabuhan juga strategis dan dekat dengan pusat Kota Bengkulu. “Saya yakin 5 sampai 10 tahun mendatang Pulau Baai bisa menjadi pelabuhan terbesar di Sumatera dan mendorong kebangkitan perekonomian, tidak hanya Bengkulu tapi juga bagi Sumatera,” terang Rohidin.

Selain Pelabuhan, banyak potensi yang tersembunyi di Bengkulu masih bisa diangkat ke nasional salah satunya pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap berkapasitas 2×100 mega watt.

Pembangunan pembangkit listrik tersebut nantinya mampu membangun dan menjadi infrastruktur pendukung untuk meningkatkan peran fungsi pelabuhan Pulau Baai. “2 atau 3 tahun mendatang, swasembada listrik akan segera terjadi, tidak hanya di Pelabuhan Pulau Baai, di Lebong saja pembangkit listrik akan segera difungsikan dan bisa mensuplai kebutuhan listrik nasional,” kata Rohidin.

Pemerintah Provinsi meyakini pertumbuhan ekonomi Bengkulu bisa berbeda dengan daerah lain, karena tidak perlu menunggu 10 tahun lagi. Sebab saat ini saja baru 5 bulan rencana pembangunan pelabuhan dibuka sudah berdatangan investasi dari luar daerah. Saat ini, pelabuhan Pulau Baai Bengkulu telah bekerjasama dengan balai karantina hewan dan dalam waktu dekat akan menjadi terminal hewan. “Ada lebih dari 700 ribu ekor ternak akan datang sehingga kita juga akan membuat kawasan untuk pembuatan pakan dan kawasan lainnya,” jelas Rohidin.(151)