4 Pelajar Direhab Narkoba

Narkoba
Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial BNNP Bengkulu, Bina Ampera Bukit saat memberikan penyuluhan kepada peserta rehabilitasi Napza di rumah singgah Karunia Insani House Rejang Lebong. (Foto ARY/BE).

CURUP, BE – Penyalahgunaan Narkoba saat ini memang sudah menyasar hingga kalangan pelajar. Hal ini diketahui dari adanya empat pelajar yang menjalani masa rehabilitasi di rumah singgah Napza Karunia Insani House Rejang Lebong.

“Untuk saat ini ada empat pelajar yang masih menjalani masa rehabilitas di Karunia Insani House ini,” ungkap Direktur Yayasan Dharma Wahyu Insani yang mengelola Panti Karunia Insani House Rejang Lebong, Gusti Afriansyah.

Menurut Gusti, dari empat pelajar yang masih menjalani masa rehabilitasi Narkoba tersebut, tiga orang diantaranya merupakan warga Kabupaten Rejang Lebong sedangkan satunya lagi berasal dari Kota Lubuklinggau.

“Mereka yang menjalani rehab ini kesemuanya masih berstatus sebagai pelajar SMA,” terang Gusti.

Dijelaskan, Gusti hingga saat ini masih ada 60 mantan pencandu Napza yang menjalani proses rehabilitasi di rumah singgah Napza Karunia Insani House. Dari 60 peserta rehabilitasi tersebut, 15 orang diantaranya menjalani rawat inap sedangkan sisanya sebanyak 45 orang menjalani rawat jalan.

“Sebelumnya sudah ada 15 orang yang telah kita nyatakan bebas dari Napza dan sudah selesai menjalani masa rehabilitasi,” jelas Gusti.

Lebih lanjut Gusti menjelaskan, untuk mereka yang menjalani rawat jalan waktu pemulihan atau rehabilitasinya selama 2 bulan. Dimana menurutnya mereka yang menjalani rawat jalan ini lebih ditekankan kepada kesiapan mereka untuk kembali kepada lingkungan sehingga mereka tidak minder dan bisa diterima lagi ditengah-tengah masyarakat.

“Untuk rawat inap, lama masa rehabilitasinya minimal 6 bulan,” jelas Gusti.

Masih menurut Gusti mereka yang menjalani rawat ini, akan menjalani sejumlah tahapan rehabilitasi sehingga bisa meninggalkan Napza.

Proses rehabilitasi yang mereka lakukan mulai dari merubah pola fikir mereka sehingga bisa lebas dari Napza, kemudian mempersiapkan mereka untuk kembali kelingkungan hingga memberikan landasan yang kuat bagi mereka sehingga tidak kembali lagi menggunakan Napza.

“Mereka yang akan dinyatakan menjalani rawat inap, setelah sebelumnya dilakukan penilaian oleh tim asesor, dari penilaian tersebut akan diketahui apakah mereka akan menjalani rawat inap atau cukup rawat jalan saja,” demikian Gusti. (251)