4.415 TPS Rawan, Kecurangan

RIO/Bengkulu Ekspress TPS RAWAN: Ketua Bawaslu Provinsi Bengkulu Parsadaan Harahap bersama para komisioner Bawaslu Provinsi Bengkulu memberikan keterangan pers kepada jurnalis dalam kegiatan publikasi hasil pemetaan TPS Rawan pemilu 2019 se-Provinsi Bengkulu , Senin (15/4).

Bawaslu Lakukan  Pengawasan Khusus

BENGKULU, Bengkulu Ekspress -Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Bengkulu merilis tempat pemungutan suara (TPS) rawan di Provinsi Bengkulu. Hasilnya, dari 6.165 TPS di Provinsi Bengkulu, sebanyak 4.415 TPS rawan terjadinya pelanggaran pemilu. Terbanyak TPS rawan kecurangan atau pelanggaran pemilu ada di Kabupaten Rejang Lebong sebanyak 756 TPS, lalu Kota Bengkulu 715 TPS dan paling sedikit TPS rawan itu ada di Kabupaten Bengkulu Tengah sebanyak 192 TPS.

Komisioner Bawaslu Provinsi Bengkulu, Fatimah Siregar mengatakan, angka indek kerawanan provinsi (IKP) di Provinsi Bengkulu mencapai 50,37 persen, lebih tinggi dari angka nasional yang hanya 49,63 persen.
Indikator terjadinya rawan pemilu itu disebabkan dari kontestasi peserta pemilu atau calon legislatif (caleg) yang diindikasikan paling banyak buat pelanggaran.  Paling tinggi kerawan kontestasi itu ada di Kabupaten Rejang Lebong kemudian terendah ada di Kabupaten Bengkulu Tengah.

“Si calon dari partai politik (parpol) inilah yang paling rawan dalam pemilu,” terang Fatimah dalam konfrensi pers di Kantor Bawaslu Provinsi Bengkulu, kemarin (15/4).

Selain dari kontestasi penyebab rawan pemilu, penyelenggara pemilu yang bebas dan adil itu juga jadi penyebab IKP. Hal itu terjadi lantaran adanya penyelenggaran pemilu yaitu Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang tidak netral atau menjadi bagian tim pemenangan calon.  Tertinggi rawan itu ada di Kabupaten Bengkulu Utara. Lalu indikatornya juga terjadinya partisipasi politik dan konteks sosial politik. “Kita lihat masih ada petugas KPPS yang belum netral,” tambahnya.

Fatimah mengatakan dari variabel dan indikator TPS rawan itu juga dilihat dari empat variabel. Seperti penggunaan hak pilih atau hilangnya hak pilih.  Lalu kampanye dengan cara curang, dengan memberikan uang barang yang dilarang dalam pemilu, termasuk menyebar hoaks. Termasuk netralitas yang ditemukan KPPS berkampanye dengan peserta pemilu. Lalu terahir proses pemungutan suara yang diindikasi menjadi TPS rawan. “Yang paling banyak daftar pemilih tetap tambahan yang masuk dalam pengawasan khusus,” tutur Fatimah.

Atas masih banyak TPS rawan itu, Bawaslu akan memperketat pengawasan secara melekat. Dengan cara tersebut, kerawanan bisa diminimalisir oleh pengawas pemilu. Sehingga konfik dalam pemilu bisa dihindari. “Kita awasi secara melekat,” paparnya. Sementara itu, Ketua Bawaslu Provinsi Bengkulu, Parsadaan Harahap mengatakan, dalam pengawasan itu, Bawaslu telah membentuk pengawas TPS disemua TPS yang ada di Provinsi Bengkulu. Termasuk telah membekali saksi TPS dari parpol.

Namun untuk saksi TPS sendiri, Bawaslu merasa kesulitan, lantaran parpol tidak pernah mengirimkan saksinya untuk dilakukan pembekalan. “Dari sebanyak saksi, hanya kurang dari 50 persen yang mengirimkan untuk dibekali. Kondisi ini yang terjadi saat ini,” ujar Parsa.  Meski demikian, Parsa menyakini dengan bantuan dari semua pihak aparat keamanan dan semua masyarakat bisa melakukan pemantauan proses pemilu. Sehingga konfik dalam pemilu di Provinsi Bengkulu tidak terjadi. “Kita tetap berupaya secara bersama-sama untuk mengamankan pemilu agar berjalan dengan baik,” pungkasnya.

Kawal Penuh Pengiriman Logistik

Sementara itu, Kondisi geografis Bengkulu yang tak menentu menjadi salah satu faktor penentu kelancaran pemungutas suara pada 17 April 2019 nantinya. Setidaknya terdapat 24 Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Provinsi Bengkulu yang dinilai rawan geografis atau daerah yang susah dijangkau. Hal itu dikatakan Kapolda Bengkulu, Brigjen Pol Drs Supratman MH melalui Kabid Humas, AKBP Sudarno SSos MH, Senin (15/4).



“Ya ada beberapa TPS yang rawan geografis, dalam artian susah dijangkau dengan kendaraan, harus dengan berjalan kaki dan jaraknya cukup jauh sehingga dalam pengiriman logistik surat suara ini akan kita kawal penuh dengan amggota kita. Sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP), kita juga melakukan penambahan 2 orang personil dimasing-masing TPS yang rawan ini,” terang Sudarno, kemarin (15/4).

Selain itu, Sudarno juga menjelaskan, ada tiga lokasi TPS yang aman dari kerawanan geografis dalam pengiriman logistik pemilu seperti diwilayah kota, Kabupaten Bengkulu Selatan (BS) dan Kabupaten Rejang Lebong. Selebihnya kabupaten lain memiliki TPS yang rawan geografisnya dikarenakan akses jalan yang buruk serta jarak yang cukup jauh untuk dijangkau dengan berjalan kaki ataupun menggunakan kendaraan. “Kita sudah petakan, ada 3 kategori tingkat keamanan daerah TPS yakni aman, rawan, dan sangat rawan.

Namun mayoritas TPS di Bengkulu ini ada yang kurang aman dari faktor geografisnya yakni medan jalan menuju lokasi tempat TPS,” tambah Sudarno. Untuk pendistribusian logistik surat suara dan lainnya didaerah rawan tersebut selambat-lambatnya harus sampai pada pukul 00.00 WIB hari Rabu 17 April 2019 nanti.

Selain itu, di Bengkulu jumlah kerusakan logistik juga tergolong sangat minim dan semuanya sampai ke daerah-daerah dengan aman dan selamat. “Semua akan kita kerahkan demi sampainya logistik tersebut dan kita pastikan keamanan terkait pendistribusiannya dan sejauh ini kita pun tidak menerima laporan terkait hal tersebut, hanya berapa laporan yang kita terima terkait medan atau geografis lokasi TPS tersebut,” tutupnya. (529/151))