36 Jemaah Haji Meninggal, Dipicu Kelelahan

Terus bertambahnya angka kematian jamaah haji Indonesia sebelum puncak haji, ternyata lebih dipicu faktor kelelahan. Akibatnya kondisi fisik jamaah menjadi lebih menurun, ditambah penyakit bawaan jamaah sejak di tanah suci.
Tim kesehatan Daker Makkah, Raimon Andreas menjelaskan tak sedikit jamaah yang terlalu memaksakan diri. Tidak mengukur kemampuan dan tenaga yang dimiliki. Terlalu mengutamakan aktifitas ibadah secara berlebihan.
“Jamaah harus menyadarai puncak haji belum dimulai. Jadi lebih baik pandai-pandai mengatur tenaga. Agar tidak mengalami kelelahan berlebihan,” ujar Raimon Andreas di pos kesehatan Daker Makkah, kemarin.
Dari 36 jamaah yang wafat saat ini, lanjut dia tidak sedikit jamaah yang meninggal di pemondokan maupun di rumah ibadah atau masjid. Itu berarti jamah sudah tidka merasakan lagi kondisi dirinya. Hingga tak sempat mengunjungi tim kesehatan terkait kesehatannya.
Raimon Andreas mengatakan angka kematian yang wafat di pemondokan menunjukkan bahwa jamaah calon haji Indonesia dalam kondisi lelah. Untuk itu, Raimon Andreas menghimbau jamaah agar tetap menjaga kondisi tubuhnya apalagi pelaksanaan puncak haji masih cukup lama.
Dokter Raimon Andreas mengatakan, jamaah calon haji Indonesia harus menyesuaikan diri, ketika sudah berada di tanah suci. Jika jamaah lelah jamaah jangan memaksakan beribadah di Masjid.
Raimon juga menghimbau jamaah, agar mengantisipasi cuaca yang kini berfluktuasi. Kendati suhu sudah menurun, jamaah harus tetap memperhatikan pola makan dan minum agar kondisi tubuh tetap sehat dan prima. (kemenag.go.id)