35 KK Tinggalkan Trans Bandung Marga

BUR, BE – Sebanyak 35 kepala keluarga transmigrasi asal pulau Jawa yang sudah 3 tahun mengadu nasib di lokasi Trans Bandung Marga Kecamatan Bermani Ulu Raya (BUR), akhirnya memilih meninggalkan lahan pertanian mereka. Sedangkan 50 kepala keluarga lainya tetap bertahan dengan kondisi cukup memprihatinkan.

Bahkan untuk bertahan hidup saja, mereka terpaksa harus menjadi buruh di luar daerah, sementara lahan pertanian yang disediakan oleh pemerintah tidak bisa dimanfaatkan lantaran sangat jauh dari lokasi pemukiman.

Kondisi itu disampaikan Ngatijo (43), warga Trans Bandung Marga, yang menyatakan bahwa Program Transmigrasi yang diikuti oleh 55 KK dari wilayah DKI Jakarta, Kabupaten Bantul Provinsi Yogyakarta, dan Kabupaten Wonosobo Provinsi Jawa Tengah itu adalah program gagal.  Alasannya 2 hektar lahan pertanian yang disediakan oleh pemerintah untuk setiap KK, tidak bisa digunakan lantaran jaraknya cukup jauh.  Kondisi jalan yang jelek dan tidak adanya modal.

“Kami tinggal di sini, hanya 6 bulan saja diberikan jatah hidup. Selanjutnya dilepaskan begitu saja.  Kami merasa dibohongin ketika berada di sini,” sesalnya.

Padahal, sambung Ngatijo, sebelum berangkat ke lokasi transmigrasi diinformasikan tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya, bahkan warga trans dijanjikan lokasi tempat tinggal menuju lahan pertanian cukup dekat, dan bisa membuka sawah, “Tapi kenyataannya sangat jauh, dan lahan pertanian sangat terjal,” kata Ngatijo.

Dikatakan Ngatijo, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, lebih dari 30 KK terpaksa menjadi buruh lepas di Kota Curup yang hanya mendapatkan upah Rp 35 ribu/ hari dan ada juga yang merantau ke Jambi dan Musirawas untuk menjadi buruh bangunan dan perkebunan yang rata-rata mendapatkan upah Rp 40 ribu/ hari. “Kami tidak bisa berkebun, kalau kami berkebun, bagaimana dengan keluarga kami?  Mereka membutuhkan makan, oleh karena itu kami terpaksa merantau menjadi buruh untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Kondisi yang sama disampaikan Samian (40) warga Trans asal DKI.  Ia juga mengaku kesulitan untuk bertahan hidup di Rejang Lebong, pihaknya juga sudah sering mengajukan bantuan kepada Transmigrasi DKI dan RL namun hingga kini belum juga diperhatikan.

“Kami sudah sering mengajukan bantuan bibit karet, namun belum juga dibantu, kami sangat susah hidup di sini, tapi kami tetap bertahan, karena sudah kepalangan basah pindah ke sini, namun ada di kelompok dekat kami, sebanyak 35 KK transmigrasi asal Jawa, kini seluruhnya telah pulang ke daerah asal, lantaran sulitnya untuk bertahan hidup di sini.  Penyebabnya sama, yaitu lahan pertanian yang sangat jauh dari pemukiman,” katanya.

Pantauan koran ini sendiri, lokasi transmigrasi Desa Bandung Marga ini cukup memprihatinkan, dimana sarana air bersih yang disediakan tidak berjalan optimal dan keadaan air kotor, untuk pendidikan juga, sebanyak 20 siswa warga trans harus berjalan kaki sejauh 4 km menuju gedung sekolah dasar.

Sedangkan untuk sarana penerangan sendiri, diketahui baru 1 tahun terakhir warga trans bisa menikmati penerangan listrik, itu pun hanya 20 rumah yang mampu memasang listrik.  Bahkan atas kesulitan ekonomi untuk kelangsungan pendidikan anak-anak trans itu, sejumlah orang tua transmigran hanya mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang SMP. (999)