340 Siswa SMPN 1 Maje di Jampi-Jampi

Siswa Diwajibkan Bawa Air

KOTA BINTUHAN, BE- Hari ini seluruh siswa SMPN 1 Maje akan dijampi-jampi (obati)  pasca kejadian kesurupan beberapa hari lalu yang dialami belasan siswa. Sehingga membuat kegiatan belajar mengajar SMPN tersebut dihentikan sementara. Ritual itu, rencananya akan dipimpin KH Azhari dari Gunung Dempo Pagar Alam, Palembang.

“Mengingat sebelumnya pada malam Minggu (29/9) KH Azhari sudah mendatangi siswa yang kerap kerasukan. Sehingga semua siswa diminta botol yang berisi air putih,” kata Kepala Sekolah SMPN I Maje Edi Suprayitno SPd, kemarin (30/9).
KH Azhari sebelumnya sudah melihat lokasi sekolah, dilokasi tersebut ada sumur tua yang didalamnya terdapat kuburan tua. Dalam ritualnya bahwa kuburan itu minta dipindahkan. Padahal, kuburan itu sudah dipindahkan sejak 12 tahun yang lalu. “Hanya mahluk halus saja yang usil menganggu siswa,” katanya.
Dengan hasil terangan KH Azhari, siswa yang kerap kesurupan satu persatu didatangi kerumah masing-masing, al hasil cukup baik. Namun untuk menindaklajuti hari ini seluruh siswa akan dilakukan pengobatan masal.

“Siswa kita berjumlah 340 siswa, mereka diwajibkan membawa Aqua. Kemudian dengan pak Kyai nanti akan dijampi-jampi agar siswa tidak kesurupan,” jelasnya.
Namun demikian pengobatan masal sudah selesai dilakukan, maka siswa tetap mejalankan belajar seperti biasa. Karena ini kewajiban. Jika nantinya masih ada kembali kesurupan pihaknya akan berusaha belajar tetap dilakukan. “Memang pengobatan itu tidak langsung sembuh, secara perlahan-lahan kesurupan tetap akan ada, tapi akan hilang sendiri,” ujarnya.

Dijelaskanya, dalam pengobatan masal ini pihaknya sudah melakukan pertemuan dengan Komite dan wali murid. Karena hal ini harus disikapi jika tidak mahluk halus akan terus meganggu siswa, sehingga aktifitas selalu terganggu selama sebulan sudah 5-6 hari libur sekolah. “Kita akan berusaha semaksimal mungkin, sampai kita menjemput orang pintar ke Gunung Dempo. Sehingga persoalan ini cukup besar agar bisa diselesaikan dengan baik,” ungkapnya.
Disisi lain, kata Edi, SMPN 1 Maje sudah lama memang lokasi angker disamping memang ada kuburan tua, ditambah lokasi sekolah cukup sepi. Namun sebenarnya tidak ada pengaruhnya jika dilihat dari akal sehat. Namun kenyataan hampir setiap hari siswa mengalami gaguan yang layak bagi umat manusia. Sesuai penjelasan KH Azhari, hasil peneranganya memang cukup berat selama ia menangani pengobatan tersebut.

“Karena ada penebangan lahan sawit yang tidak jauh dari SMPN I Maje. Sehingga jin tersebut merasa terganggu, mendekati Sekolah. Makanya setiap siswa kesurupan maunya siswa ingin pergi ke (sekitar) lahan  kelapa sawit sambil menunjuk-juk itu rumahnya,” jelasnya.

Menyikapi persoalan tersebut, pihak sekolah mengharapkan peran penting orang tua untuk memberikan pengawasan terutama agama, sekolah hanya mendidik kegiatan hanya setengah hari, sedangkan lebihnya adalah orang tua. “Dengan adanya kasus demikiakn banyak orang tua tidak peduli, sehingga banyak menyalahkan pihak sekolah. Padahal itu untuk mendidik tugas kita bersama,” harapnya.(823)