32 Naskah Kuno NTB “Diembat” Belanda

231115_8580_naskah_kuno_NTBMATARAM – Pemerintah sepertinya butuh kerja keras untuk menginventarisir warisan budaya Nusa Tenggara Barat (NTB). Tak sedikit di antara warisan budaya itu ternyata sudah diboyong ke mancanegara sejak lama. Terutama warisan budaya berupa koleksi naskah kuno.

“Naskah kuno dari daerah kami, banyak yang masih dipajang di Museum Leiden, Belanda,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) NTB H Lalu Mohammad Faozal, di Museum Negeri NTB, Jumat (22/5).

Menurut Faozal, jika ditaksir ada sekitar 32 koleksi naskah kuno NTB yang berada di negeri Kincir Angin. Namun, lanjut Faozal, pihak belum bisa memastikan detail atau jenis dari masing-masing naskah kuno tersebut.

Naskah itu, kata dia, dibawa ke Belanda sejak zaman kolonialisme. Tercatat dalam sejarah, Belanja berkuasa di Nusantara hingga 350 tahun.

Bagaimanapun juga, sambung Faozal, puluhan naskah kuno tersebut memiliki arti penting bagi NTB. Sebab, itu menyangkut peradaban dan gambaran sejarah masyarakat. Melalui naskah kuno itu dapat diketahui geliat kehidupan masyarakat NTB di masa lampau.

Untuk itu, pemerintah sedang mengusahakan agar naskah-naskah peninggalan nenek moyang itu bisa kembali ke daerah. Namun, untuk pengembalian itu pun Faozal mengakui butuh kerja keras dan butuh waktu. “Yang jelas, kita perlu langkah diplomasi dengan Belanda,” lanjutnya.

Dalam waktu dekat, kata Faozal, Gubernur NTB M Zainul Majdi juga akan segera melayangkan surat ke Kementrian Luar Negeri RI untuk memfasilitasi. Sehingga, dapat meyakinkan pemerintah Belanda, agar bersedia mengembalikan warisan budaya NTB berupa naskah kuno tersebut.

“Sebelumnya, kami juga sudah komunikasi secara informal dengan pemerintahan di Belanda. Mereka mengatakan tidak masalah soal pengembalian naskah kuno itu selama melalui mekanisme atau prosedur yang sesuai,” lanjut Faozal.

Sejauh ini, Disbudpar NTB sendiri mulai melakukan inventarisasi naskah-naskah kuno NTB yang berada di Belanda. Inventarisasi ini melibatkan tokoh-tokoh masyarakat, terutama budayawan NTB. (uki/r12/mas)