3 Siswa SD Ditangkap

BENGKULU, BE – Dunia pendidikan Kota Bengkulu tak henti-hentinya dirundung masalah. Berbagai kasus sebelumnya seperti, video mesum, penyebaran uang palsu, tawuran dan masalah tindakan amoral lainnya. Kali ini beberapa siswa tertangkap tangan oleh kepala sekolah ketika asyik mengisap lem aibon. Parahnya lagi, hal ini dilakukan oleh siswa sekolah dasar negeri (SDN) di Jalan Hibrida Kota Bengkulu. Penangkapan tersebut dilakukan kemarin, sekitar pukul 10.00 WIB. Ke-3 siswa tersebut yakni, To (11), Di (12) dan An (12). To duduk kelas V, sedangkan Di dan An duduk di kelas VI. Kepala Sekolah, Yarman SPdI mengatakan, siswanya yang tertangap saat terlena mengisap aibon sebanyak 3 orang yang terdiri dari siswa kelas V sebanyak 1 orang dan siswa kelas VI berjumlah 2 orang. Penangkapan itu berawal saat tiba di sekolah, Kepsek selalu berkeliling sekolah untuk melihat aktivitas siswanya, namun saat itu dia mendapat laporan dari salah seorang yang berjualan di sekitar sekolah, bahwa ada siswa yang sedang mengisap lem. Mendapati laporan tersebut, Kepsek langsung mendatangi tempat siswa tersebut mengisap lem. Kontan saja ke-3 nya ditangkap dan digiring masuk ke ruang guru oleh Kepseknya.
“Saya menangkap 3 siswa tersebut saat terlena mengisap aibon di luar lingkungan sekolah ketika jam istrirahat,” beber Yarman. Dia menjelaskan, laporan yang diterima pihak sekolah, bahwa ada 10 siswa yang sering mengisap aibon di tempat tersebut, namun baru 3 orang yang tertangkap tangan sekaligus barang bukti berupa lem aibon. “Informasinya ada 10 orang, tapi saya baru menemukan 3 siswa yang lengkap dengan barang buktinya,” ujarnya.

Setelah diberi pengarahan terhadap ke-3 siswa tersebut, Kepsek menyerahkan kepada Waka Kesiswaan, dan dalam waktu dekat pihak sekolah akan memanggil orang tua siswa tersbut guna mencari jalan keluarnya. Mengenai sanksi yang akan diberikan, Yarman mengaku masih menunggu penjelasan dari orang tua siswa, jika dimungkinkan untuk dilakukan pembinaan dengan cacatan dibantu orang tua, maka pihak sekolah akan membina siwa tersebut. Namun jika orang tuanya pun menolak, maka akan dikeluarkan dari sekolah. “Sanksinya tergantung hasil pertemuan Waka Kesiswaan dengan wali murid, jika disepakati dilakukan pembinaan maka akan kami bina,” terangnya. Dia juga akan mempertimbangan sanksi yang tepat diberikan kepada siswa tersebut, mengingat 2 siswa diantaranya duduk di kelas VI dan akan mengikuti UN beberapa bulan lagi.

Dia menuturkan, bahwa jauh-jauh hari pihak sekolah telah menyampaikan kepada orang tua/wali murid agar menjaga ketat anaknya, terutama bagi yang akan mengikuti UN. Namun dia sangat menyayangkan, imbauan tersebut tidak diindahkan oleh orang tua sehingga tindakan tidak terpuji dilakukan anaknya. “Sebelum hal ini terjadi kami telah mengumpulkan semua orang tua/wali murid, kami meminta agar anak-anaknya dijaga dan diawasi. Tapi kenyataanya berbeda dengan harapan kami,” bebernya. Dia berharap agar orang tua/wali murid tidak membebani pihak sekolah sepenuhnya untuk mendidik anak-anak tersebut. Karena waktu sekolah relatif singkat dibanding waktunya di rumah. “Mudah-mudahan orang tua lebih memperhatikan lagi anak-anaknya. Karena hal tersebut dilakukan di sekolah kemungkinan karena sudah terbiasa di lingkungan tempat tinggalnya,” kata Yarman. Dia juga mengimbau para dewan guru agar lebih aktif lagi membina dan memantau aktivitas anak didiknya, agar kejadian tersebut tidak ditiru oleh siswa lainnya. (400)