3 Partai Islam Penuhi Kuota Perempuan

partai-amanat-nasionalimagespppKEPAHIANG, BE – Sebanyak 3 partai politik (parpol) peserta pemilu yang bernafas Islam di Kepahiang menyatakan keyakinannya memenuhi kuota 30 persen keterwakilan perempuan calon legislatif (caleg). Yakni PKB, PPP dan PAN. Hal ini seperti dikatakan masing-masing fungsionaris parpol tersebut.

Ketua DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kepahiang, H Zainal SSos mengatakan sebanyak 30 persen keterwakilan perempuan sangat penting bagi partainya. Bagi partainya, hal itu yakin akan terpenuhi. “Kami yakin keterwakilan perempuan akan terpenuhi. Bukan hanya untuk memenuhi persyaratan semata, namun caleg perempuan yang akan ikut pemilu legislatif adalah caleg yang berkualitas,” ungkap Zainal.

Menurut Zainal, partainya membuka peluang pencalonan, baik yang berasal dari kader PKB sendiri, kalangan Nahdlatul Ulama (NU) hingga masyarakat umum. ‚ÄúPersentase caleg PKB, yakni 50 persen kader PKB, 20 persen dari NU dan selebihnya kalangan profesional,” ungkap Zainal.

Sementara itu, politisi PPP, Drs Ahmad Rizal MM juga menerangkan hal yang tak jauh berbeda. Menurutnya keterwakilan perempuan cukup penting dan PPP yakin memenuhi kuota tersebut. “Kami yakin kuota keterwakilan perempuan terpenuhi. Kalau mengenai persentase, kami tidak menargetkan dari kader berapa, masyarakat umum berapa. Yang jelas kami membuka peluang asal sesuai dengan visi misi kami,” ungkap Rizal.

Dijelaskannya, pendiri PPP memang juga banyak dari kalangan NU, namun PPP lebih terbuka bagi masyarakat yang ingin bergabung dengan PPP. “Itu tadi, tidak ada target khusus, untuk kalangan ini dan itu. Asalkan sesuai dengan visi misi dan mau berkontribusi bagi kemajuan partai,” imbuh Rizal.

Hal senada juga dikemukakan politisi Partai Amanat Nasional (PAN), H Syamsul Amri. Ia mengungkapkan keterwakilan perempuan akan mampu terpenuhi di semua dapil di Kabupaten Kepahiang bagi partainya.

“Kami optimis keterwakilan perempuan itu akan terpenuhi. Apalagi PAN merupakan salah satu partai yang menjunjung potensi dan emansipasi perempuan,” singkatnya.(505)