208 Orang Perempuan di Bengkulu Menderita Kanker Payudara

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, Herwan Antoni

BENGKULU, bengkuluekspress.com – Sebanyak 260 orang perempuan di Bengkulu saat ini terserang kanker. 208 orang diantaranya menderita kanker payudara. Data tersebut berdasarkan jumlah kunjungan pasien yang menjalani perawatan di RSUD M Yunus Bengkulu sepanjang tahun 2019.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, Herwan Antoni SKM MM mengatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan dan konsultasi yang dilakukan setiap bulan, sebanyak 80 persen atau 208 orang menderita kanker payudara, sementara sisanya menderita kanker serviks, kanker tiroid, kanker kulit dan kanker otot.

“Pasian kanker ini, selalu kontrol tiap bulan, pasien lama tetap datang, pasien baru menambah lagi, hingga Desember penderita kanker sebanyak 260 orang, dan 208 disumbang kanker payudara serta 21 orang masih indikasi kanker payudara, sementara sisanya menderita kanker serviks, tiroid, kulit, dan otot,” ujar Herwan, Senin (2/3).

Ia mengaku, penyebab banyak orang menderita kanker payudara disebabkan oleh faktor gen, gaya hidup, pola makan yang tidak seimbang seperti makanan siap saji, alkohol dan pola tidur yang tidak teratur.

Meski begitu, kanker payudara bisa dicegah dengan cara menjaga pola makan sehat, dan melakukan deteksi dini yang dikenal dengan Sadari (Periksa Payudara Sendiri). Sayannya, kesadaran Sadari sangat rendah dan perempuan cenderung takut-takut melaporkan ke tenaga kesehatan jika menemukan benjolan.

“Kesadaran kita mencoba mendeteksi diri masih kurang dan takut-takut, yang penting melakukan praktek Sadari setiap bulan usai awal mens dengan meraba bagian payudara secara rutin, jika ada benjolan maka segera laporkan,” pintanya.

Dalam menekan angka penderita kanker, saat ini RSUD M Yunus telah diberikan kelangkapan sarana dan prasarana seperti CT scan, kemoterapy. Meski begitu, belum seluruh pasien bisa diobati di Bengkulu, tak jarang masih banyak pasien yang harus dirujuk keluar karena terkendala perangkat sarana dan prasarana.

“Minimnya peralatan medis menyebabkan pasien harus antri 2-13 minggu untuk melakukan CT Scan, ” tutupnya. (CW1)