200 KK Takut Keluar Desa

Ist/Bengkulu Ekspress RUSAK: Kondisi rel kereta Molek banyak yang rusak mengakibatkan perjalanan menuju Desa Lebong Tandai sering terganggu.
Ist/Bengkulu Ekspress RUSAK: Kondisi rel kereta Molek banyak yang rusak mengakibatkan perjalanan menuju Desa Lebong Tandai sering terganggu.

NAPAL PUTIH, Bengkulu Ekspress – Sebanyak 200 Kepala Keluarga (KK) Desa Lebong Tandai Kecamatan Napal Putih Kabupaten Bengkulu Utara (BU) mulai takut keluar desa. Hal ini disebabkan semakin parahnya kerusakan rel dan jembatan penghubung yang dilewati kereta Motor Roli Ekspress (Molek). Akibatnya, waktu tempuh Molek menjadi semakin lama.

‘’Ada puluhah titik kerusakan rel. Belum lagi, ditambah dengan kerusakan jembatan penghubung. Akibatnya, warga mulai takut keluar desa. Daripada tetap nekat dan malah menimbulkan musibah,’’ ujar Asmadi kepada Bengkulu Ekspress, kemarin (7/1).

Ia menambahkan, akibat kerusakan yang terjadi membuat waktu tempuh kereta Molek menjadi semakin lama. Karena, penumpang harus turun ketika melewati rel dan jembatan yang rusak. Belum lagi jika terjadi longsor, bisa saja warga terpaksa bermalam di tengah hutan.

‘’Biasanya dari Desa Air Tenang Menuju Lebong Tandai hanya 3 jam, sekarang bisa mencapai 8 jam. Belum lagi cuaca buruk, ditakutkan terjadi longsor dan pohon tumbang,’’ ungkapnya.

Disamping itu, ia juga sangat menyayangkan beroperasinya alat berat yang memangkas tebing disekitar jalur pelintas Molek. Karena ketika hujan, kerap menimbulkan longsor yang menimbun rel.

‘’Puluhan titik rel patah, bengkok dan terbenam digilas alat berat excavator milik perusahaan Chandra Leonardi yang memangkas tebing,’’ terangnya.

Seorang pengemudi Molek, Afri juga membenarkan kondisi yang terjadi. Bahkan, ia biasanya dalam sehari 2 kali rute pulang pergi (PP) mengangkut penumpang. Namun sejak seminggu terakhir, hanya 1 kali.

‘’Sekarang karena kondisi rel semakin rusak parah, kita hanya sanggup 1 trip saja sehari,’’ terangnya.

Tak hanya itu, ia juga menyebutkan, tidak mampu mengangkut penumpang dan barang kebutuhan warga yang terlalu banyak. Karena, jika tetap dipaksakan, resikonya cukup besar bagi keselamatan.

‘’Kita ambil aman saja. Daripada terjun ke jurang, lebih baik kita kurangi muatannya,’’ tuturnya.

Akibat kondisi ini, berbagai bahan kebutuhan pokok mulai sulit didistribusikan ke Desa Lebong Tandai. Akibatnya, harga jual semakin tinggi. Untuk itu, warga berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah tegas, sebagai solusi terhadap kendala yang dihadapi warga.

‘’Kami berharap Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara dapat mengambil langkah tegas, agar warga Lebong Tandai tidak benar-benar terisolir,’’ pungkasnya.(816)