20 Tahun Lagi, “Kehilangan” Pulau Tikus

Selamatkan Pulau Tikus (1)
pulautikus1
“Kalau sudah tiada baru terasa
Bahwa kehadirannya sungguh berharga
Sungguh berat aku rasa kehilangan dia
Sungguh berat aku rasa hidup tanpa dia
Kalau sudah tiada baru terasa
Bahwa kehadirannya sungguh berharga..”

LAGU  “kehilangan”,  ciptaan H. Rhoma Irama,  pantas dinyanyikan sekitar 20 tahun mendatang. Saat dimana, masyarakat Bengkulu, sudah benar-benar kehilangan Pulau Tikus, pulau  mungil  nan cantik itu. Hilangnya Pulau Tikus, sudah diprediksi  Pengamat perubahan iklim, sekaligus   dosen  Kehutanan, Universitas Bengkulu (Unib), Dr. Gunggung Senoaji.
Prediksi  tersebut, didasari dengan data-data di lapangan, pulau semula memiliki luas sekitar 2 hektar (bukti fisik sertifikat), pada tahun 2012 berdasarkan pengukuran Badan Pusat Pertanahan (BPN) luasnya tinggal 0,8 hektar.  Kemudian, pada Maret 2014, dia melakukan pengukuran sendiri, luas Pulau Tikus  tinggal 0.77 hektar.  “Setiap tahun sekitar lima meter mengalami abrasi. Kita semua harus bersepakat, pulau tikus harus diselamatkan, ” tegasnya.
Dia  mengatakan, Pulau  Tikus hilang karena abrasi terus-menerus hingga saat ini, tanpa ada pencegahan serius. Abrasi lebih disebabkan karena faktor perubahan iklim , atau pemanasan global. Selain itu, disebabkan ulah manusia sendiri,  tidak ramah dengan lingkungan, misalnya membuang sampah di sungai, sampah itu bisa sampai ke Pulau Tikus.  Mencari ikan dengan bahan peledak, dan transhipment batubara tidak hati-hati, sehingga tumpahan batu bara tersebut dapat merusak kawasan tersebut.
Gunggung,  memiliki banyak data mengecilnya Pulau Tikus setiap tahunya. Untuk mengetahui luas Pulau Tikus, abrasi salah satu pulau terluar di Indonesia itu,  dapat dilihat dari pengamatan di lokasi,  dan dokumen foto. Kondisi saat ini, sudah banyak pohon-pohon  bertumbangan, akibat hantaman ombak. “Rumah penjaga di sana (Pulau Tikus) juga sudah roboh sebagian,” katanya.
Dia mengatakan,  mercusuar dibangun sejak jaman Belanda  telah mengalami dua kali pergeseran tempat,  pada tahun 1978 dan 2011. Jika tidak ada penangan serius, abrasi akan terus merenggut keutuhan Pulau Tikus , sehingga keberadaan mercusuar terancam. Padahal fungsi mercusuar  sangat vital, khususnya untuk navigasi pelayaran. Di wilayah laut sekitar Pulau Tikus, setiap hari banyak dilalui kapal-kapal, membutuhkan petunjuk mercusuar tersebut.
Apabila mercusuar tak lagi bisa berdiri  kokoh di Pulau Tikus, keselamatan pelayaran sangat terancam,  karena bisa menabrak   terumbu karang yang kokoh  sekitar 200 hektar di wilayah tersebut. “Dulu  Belanda memasang  mercusuar disitu tentu ada fungsinya. Setiap hari kapal keluar masuk lewat laut itu. Kalau tidak ada petunjuk navigasi kapal ya sangat berbahaya,” katanya.
Dampak negatif jika Pulau Tikus amblas, yaitu tidak ada lagi pemecah gelombang di wilayah perairan Bengkulu. Selama ini, Pulau Tikus berfungsi sebagai pemecah gelombang, sehingga ombak besar, atau jika terjadi tsunami tidak sampai ke pesisir Pantai Bengkulu. “Tanpa ada Pulau Tikus, akan sangat berbahaya apabila terjadi gelombang besar atau tsunami,” ungkapnya.
Lebih tragis lagi,  Bengkulu akan kehilangan wisata bahari, wisata  tak kalah eloknya dengan wisata bahari di daerah lain. Saat ini, sudah banyak paket wisata menikmati keindahan  Pulau Tikus. Sudah banyak wisatawan lokal dan nasional, bahkan  dari beberapa negara mengunjungi pulau cantik itu. “Sangat disayangkan kalau pulau memiliki  banyak potensi ini harus dibiarkan hilang,” tuturnya.
Ditambahkanya, Pulau Tikus dikelola dengan baik bisa mengalahkan potensi wisata bahari di Lombok atau seperti di Raja Ampat.  Semua itu tergantung dengan pemerintah melakukan pengelolaan. “Apakah pemerintah memiliki keinginan untuk kesitu, menjadikan Pulau Tikus sebagai  pariwisata nasional ?”, tanyanya.  Tak hanya menyangkut pariwisata, Pulau Tikus juga bisa mendukung perikanan. “Dengan adanya terumbu karang terjaga, maka ikan-ikan akan semakin banyak, nanti  diuntungkan adalah para nelayan,” ujarnya.
Fungsi lain Pulau Tikus, dapat meningkatkan potensi ekonomi yaitu  dengan mengaktifkan jasa kelautan. Kawasan tersebut pernah menjadi tempat transhipment kapal-kapal besar karena tidak bisa memasuki Pelabuhan Pulau Baai. Sehingga harus dimanfaatkan oleh daerah untuk mendapatkan retribusi. “Kalau di daerah lain bisa, kenapa kita tidak bisa. Terpenting adalah pemerintahnya mampu mengelola,” katanya.
Diungkapkan Gunggun,  peran pemerintah adalah mengaktifkan tiga fungsi itu, yaitu pariwisata, perikanan dan jasa kelautan. dari tiga fungsi tersebut, dipastikan ada benturan ada konflik kepentingan. Tugasnya pemerintah adalah mengakomodir semua. Tentunya dengan terlebih dahulu melakukan kajian matang dan sungguh-sungguh. “Masalahnya akan terjadi benturan. Peran pemerintah mengatur tiga fungsi itu. Libatkan Litbang, Dewan Riset Daerah, donen-dosen, atau bisa juga melibatkan ITB, LIPI, ahli lainnya,” kata Gunggun. (iyud/bersambung)

  • dendy 10 Oktober 2014 at 15:38

    Tragis memang kalau pulau tikus harus hilang akibat abrasi dan tidak adanya perhatian pihak terkait, utk pengembangan pariwisata sangat memungkinkan sekaligus peningkatan devisa daerah, namun keinginan pihak terkait hanya untuk mendapatkan devisa semata tetapi tanpa mau ikut berperan menjaganya