20 Pustakawan Adu Keterampilan


REWA/Bengkulu EkspressKepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Bengkulu, Meri Sasdi MPd dan jajaran foto bersama Pustakawan usai membukaan lomba Pustakawan Prestasi Provinsi Bengkulu, kemarin (29/4).

BENGKULU, Bengkulu Ekspress– Guna menyeleksi pustakawan yang berprestasi dan terbaik, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Bengkulu menggelar Lomba Pustakawan Berprestasi Terbaik Tingkat Provinsi Tahun 2019. Lomba ini diikuti 20 orang peserta dari berbagai instansi di Provinsi Bengkulu. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Bengkulu, Meri Sasdi MPd mengatakan, juara satu dari lomba ini akan diikut-sertakan dalam lomba berskala nasional.

Ia berharap Pustakawan yang memperoleh juara satu tersebut nantinya dapat terus mendorong minat baca masyarakat ke perpustakaan dan menggiatkan perpustakaan di daerahnya. “Perpusatakaan ini merupakan gudang ilmu, dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, pustakawan memiliki tugas yang cukup besar untuk mencerdaskan seluruh manusia,” kata Meri, usai membuka Lomba Pustakawan di Hotel Latansa Kota Bengkulu, kemarin (29/4).

Ia menjelaskan, Pustakawan juga dituntut dapat meningkatkan kegemaran membaca dan kesejahteraan bagi kaum awam maupun masyarakat di pedesaan. Dengan Tagline ‘Pustakawan Berkarya Mewujudkan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial, Dalam Rangka Ikut Serta Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat’ Pustakawan harus berkarya untuk masyarakat serta dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui berbasis inklusi sosial.

“Melalui tagline tersebut, seluruh pustakawan diminta peran aktifnya dalam meningkatkan kegemaran membaca masyarakat, meningkatkan keterampilan masyarakat turut serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tutur Meri.

Tagline Perpusnas tersebut dimaknai sebagai upaya mewujudkan perpustakaan berbasis inklusi sosial dan menjadi bagian dalam mensejahterakan masyarakat. Ini sejalan dengan ikhtiar pemerintah memasukkan perpustakaan sebagai program prioritas nasional satu sebagai upaya mensejahterakan masyarakat melalui layanannya yang berbasis inklusi sosial. Untuk membangun layanan yang berbasis inklusi sosial tersebut, maka pustakawan harus memiliki atau meguasai informasi dan teknologi untuk membantu orang dipedasaan yang kurang gemar dalam membaca buku.

“Orang per orang harus punya power, kedepan kita akan kerjakan seperti itu, sehingga agar tidak kehilangan informasi dan yang paling penting kita harus mengetahui inklusi sosial, bahwa selama ini perpustakaan merupakan hal penting bagi orang pedesaan. Berbasis inklusi sosial bagaimana mendampingi orang-orang secara ekonomi, sosial, edukasi, untuk mencapainya sampai ke pendidikan yang lebih tinggi,” tutupnya.(999)