2 Tahun Mati Suri, MTs Pak Ro Bangkit Lagi

CURUP, BE – Rimbunan rumput liar tampak menutupi gedung tua Madrasah Tsanawiah (MTs) Al-Ma’arif Desa Batu Panco Kecamatan Curup Utara. Dua orang pemuda tampak sibuk membersihkan debu, sarang laba-laba yang sudah cukup tebal menempel hampir disetiap ruangan yang dulunya sempat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.

Dua pemuda itu ialah Dimas Andri Yanto, S.Pd.I yang kini menjabat sebagai Kepala Sekolah, dan Zarlon Efendi, M.Pd selaku Ketua PSB MTs Al-Ma’arif. Keduanya bertekat membangun kembali MTs yang sejak 2010 lalu di tinggalkan oleh para murid karena tidak sanggup lagi mempertahankan eksistensi sekolah yang dikenal MTs Pak Ro tersebut.

“Dulu ada sekitar 20 siswa, mungkin karena keterbatasan sumber daya manusia dan dana, para siswa terpaksa dipindahkan ke sekolah lain akhirnya MTs Al-Ma’arif berhenti melaksanakan aktivitas belajar mengajar,” terang Dimas ditemui Bengkulu Ekspress, kemarin.

Bangunan MTs Al-Ma’arif berdiri sejak tahun 1970, melalui hibah tanah oleh seorang tokoh masyarakat Desa Batu Panco bernama Rohani Junet, sehingga sekolah tersebut akrab disebut sekolah Pak Ro. Setidaknya sudah ribuan siswa yang lulus dan menerima ijazah dari sekolah yang berada di bawah pembinaan Kementerian Agama Rejang Lebong tersebut. Kini lima 5 ruangan kelas tempat proses belajar sudah berubah jadi sarang debu bahkan sebagian lokasi sekolah dijadian lapak pasar pekan.

Dimas Andri Yanto selaku keturunan pendiri sekolah menerangkan, cukup kenangan di sekolah tersebut. Banyak alumni dari sekolah tersebut menjadi pejabat di Kabupaten Rejang lebong, bahkan Provinsi Bengkulu hingga pejabat di luar daerah. Terlepas dari kenangan tersebut, sejumlah relawan kembali tergugah untuk membangun kembali sekolah tersebut. Gedung sekolah rencananya akan kembali difungsikan untuk kegiatan belajar mengajar.

“Karena izin dari Departemen Agama (Depag) masih ada, dan kami sudah melakukan koordinasi, kami akan kembali membuka tahun ajaran 2012/2013 yang dimulai bulan Juli 2013 ini,” terangnya.

Sebagai jaminan kualitas pendidikan nantinya, pihak sekolah dibantu para relawan pendidikan telah bersedia menjadi tenaga guru sukarela sekitar 20 tenaga guru yang tidak hanya berfokus pada pendidikan agama, namun keterampilan komputer, bahasa Ingris dan keterampilan umum lainya. “Kami juga sudah melakukan koordinasi dengan para sesepuh desa, perangkat agama untuk kembali mengaktifkan sekolah ini, para relakan pendidikan semuanya memiliki latar belakang pendidikan S1 dan S2,” akunya.

Beberapa program yang ditawarkan di MTs ini diantaranya program utama, baca tulis Al-Qur’an, bahasa Arab, bahasa Inggris, komputer, pramuka dan olahraga.  Kemudian, beberapa keterampailan seperti perbengkelan, program mendalam komputer lainya.

“Kami juga siap menampung tenaga pengajar yang siap sukarela memberikan ilmunya ke MTs ini, kami akan berupaya, minimal lulusan dari sekolah ini nantinya bisa mengoperasikan komputer, percakapan bahasan Inggris aktif, dan memiliki keterampilan umum,” harapnya.
Dimas mengaku, sejumlah perlengkapan dan ruangan belajar di MTs ini masih bisa dimanfaatkan untuk proses belajar mengajar.

“Intinya kami membuka kembali MTs ini untuk menanggulangi para pelajar yang putus sekolah yang rata-rata menjadi tulang punggung keluarga.  Melalui pendidikan yang murah dan berkualitas. Kami juga bertekat kedepan ada lembaga latihan kerja, dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) untuk anak putus sekolah,” katanya. (999)