2 Pelapor Novel Disembunyikan

BENGKULU, BE – Laporan  dalam kasus penganiyaan berat terhadap 6 orang tersangka pencurian sarang burung walet  yang dituduhkan kepada salah -seorang penyidik KPK, Kompol Novel Baswedan,  diduga  telah direkayasa. Pasalnya, 2 orang korban dari mantan Kasat Reskrim Polres Bengkulu, yaitu Dedi Mulyadi dan Irawansyah diduga telah disembunyikan oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan dalam kasus yang terjadi 8 tahun silam itu.

Hal itu diketahui setelah para jurnalis pada saat pihak Polda Bengkulu melakukan jumpa pers terhadap para wartawan.  Soalnya, ketika para kuli tinta ini akan  meminta alamat lengkap kedua pelapor ini, tidak diberikan oleh pihak Polda Bengkulu dengan alasan guna kepentingan proses penyidikan.

Hanya dijelaskan jika pelapornya berada di Kota Bengkulu ini.  Laporan kedua korban Novel itu disampaikan melalui pengacaranya, yaitu Yuliswan SH ke Polda Bengkulu tertanggal 1 Oktober 2012 lalu.

“Yang jelas pelapornya berada di Bengkulu inilah,” ujar  Wadir Reskrim Umum, AKBP Thein Thabero SH dan Kabid Humas, AKBP Hery Wiyanto SH, kepada wartawan.

Sementara itu, kemarin wartawan koran ini langsung bergerak menuju kediaman Yuliswan, SH yang merupakan kuasa hukum dari kedua korban. Namun, Yuliswan sedang tidak berada di rumah. Yuliswan pergi dengan keluarga karena ada urusan keluarga.  Begitu juga ketika dihubungi via telepon.  Tiga nomor Ponselnya tidak ada yang aktif.

  “Bapak tadi pergi katanya ada urusan keluarga, memang nomor HP dimatikan karena banyak yang menghubungi,” ucap wanita di rumah Yuliswan pada wartawan, kemarin sore.

Kemudian, wartawan juga melakukan pencarian ke rumah salah satu pelapor yang berada di Jalan Danau Kelurahan Dusun Besar, namun lagi-lagi tidak berhasil menemukan kedua pelapor yang saat ini telah berjualan di kawasan Pasar Panorama.

Target Novel Dibawa
Keinginan pihak penyidik dari Dit Reskrim Umum Polda Bengkulu tetap ngotot untuk menangkap dan membawa Kompol Novel Baswedan ke Kota Bengkulu. Pasalnya, hingga kemarin Dir Reskrim Umum Polda Bengkulu, Kombes Pol Dedy Irianto SH, bersama 3 orang pamen dan 7 bintara itu masih berada di Jakarta dan belum pulang ke Kota Bengkulu.

Hal itu, diperkirakan sesuai dengan target jika penyidik harus dapat menangkap dan membawa Novel ke Kota Bengkulu.  “Pak Dir masih di Jakarta. Jadi kita belum tahu perkembangan di sana,” singkat Thein Thabero.

Bom Waktu
Kasus penganiayaan berat yang tengah melilit Kompol Novel Baswedan ini dapat menjadi pelajaran bagi para perwira yang lain, untuk tidak melakukan tindakan diluar protap baju coklat tersebut. Soalnya,  bisa saja terjadi di kemudian hari,  bagi para perwira atau pimpinan  di pihak kepolisian, khusus di Provinsi Bengkulu mendapat kasus yang sama. Pasalnya, sangat banyak kasus tersangka yang tewas didalam penyidik polisi.

Seperti, kasus tersangka pencurian di Rawa Makmur yang tewas setelah ditangkap polisi. Kemudian, tersangka Curanmor yang ditangani oleh Polsek Teluk Segara, tersangka tewas sesaat setelah dilarikan kerumah sakit.

Belum lagi ditambah dengan 2 kejadian dikawasan Binduriang, yang 3 diantaranya yang diduga tersangka perampokan yang tewas ditangani pihak kepolisian. Seharusnya, hal ini akan menjadi sorotan Kapolda Bengkulu untuk melakukan pengusutan akan tewasnya para tersangka kriminal di Kota Bengkulu ini.  Namun, kenapa kasus Kompol Novel Baswedan yang menjadi target pihak Polda Bengkulu.

“Seluruhnya akan kita proses, hanya saja dikarenakan laporan dengan tersangka N ini yang duluan masuk, sehingga langsung ditindak lanjuti,”   tambah Thein Thabero.

Pengeluaran Proyektil Dikawal Ketat
Sejumlah barang bukti diperlihatkan dalam jumpa pers pada hari Sabtu (6/10) berupa hasil rontgen menggambarkan tulang yang berisi proyektil peluru. Ternyata pengeluaran proyektil peluru itu baru dilakukan pada hari Jumat (5/10) lalu di rumah Sakit Bhayangkara Jitra.

Peluru itu bersarang di kaki salah seorang mantan tersangka bernama Irwansyah Siregar.

Mirisnya, istri Irwansyah Siregar tersebut dilarang untuk bercerita dan menjawab pertanyaan dari pihak manapun.

“Ibu jika ditanya oleh siapapun orangnya, baik itu wartawan dan LSM ibu tak usah menjawab dan sampaikan saja saya tidak tahu menahu,” terang narasumber BE yang enggan disebutkan namanya, sembari menirukan ucapan petinggi Polda Bengkulu.

Data Berhasil di himpun BE, menyebutkan jika jelang operasi pada hari jumlat lalu tersebut pukul 11.00 WIB, Irwansyah Siregar di jaga dan selalu diborgol jari oleh pihak kepolisian.  Bahkan Irwansyah sendiri pada hari Jumat lalu tersebut menggunakan baju kemeja kotak-kotak lengan pendek yang tampak duduk di kantin RS Bhayangkara sembari mengobrol dengan Ipda Suwandar.

Saat dilakukannya operasi tersebut Irwansyah Siregar pukul 11.00 WIB, tampak Wadir Reskrim Umum AKBP Thein Thabero SH ikut menunggu selesainya pengeluran proyektil tersebut, termasuk di lakukannya penjagaan setelah operasi tersebut.

“Di ruangan mawar 1 ada sorang atas nama Irwansyah Siregar yang menjalani pengeluaran proyektil pada kaki kiri di bagian tulang kering yang di jaga ketat termasuk sebelum dan sesudah oprasi tersebut,” terang narasumber BE, yang saat itu juga dirawat di ruangan Mawar. (111/333)