174 Desa Keluar Status Tertinggal

Riri Damayanti

BENGKULU, bengkuluekspress.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, dari tahun 2014 hingga 2018, sebanyak 174 desa di Provinsi Bengkulu telah keluar dari status desa tertinggal. Anggota Komite II DPD RI, Hj Riri Damayanti John Latief mengatakan, data tersebut membuktikan bahwa Bengkulu bisa benar-benar menihilkan jumlah desa tertinggal.

“Artinya dalam empat tahun mendatang, Bengkulu sudah bisa bersih dari status desa tertinggal,” terang Riri kepada BE, kemarin (12/1).

Dilihat dari tahun 2014, di Bengkulu, terdapat hanya 5 desa mandiri, 991 desa berkembang, dan 345 desa tertinggal. Sementara pada tahun 2018, desa mandiri meningkat menjadi 20 desa, 1.150 desa berkembang, dan 171 desa tertinggal. Menurut Riri, perkembangan menjadi desa yang keluar dari ketertinggalan itu merupakan bentuk kegembiraan bagi masyarakat Bengkulu. “Pengentaskan ketertinggalan di desa-desa menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Saya kira ini harapan bagus yang harus kita pupuk sejak sekarang,” tambahnya.

Riri menegaskan, masih adanya desa yang tertinggal, tentu menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama. Harapannya, Pemerintah Daerah terus mendorong penggunaan kucuran Dana Desa untuk terciptanya lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan ekonomi warga khususnya di desa-desa tertinggal. “Kalau memang anggarannya memungkinkan, tambahkan dari APBD, salurkan ke koperasi, usaha menengah, industri rumah tangga, dan sektor-sektor lainnya di desa tertinggal,” ungkap Riri.

Perempuan yang mendapat gelar Putri Dayang Negeri oleh Masyarakat Adat Tapus ini memberikan apresiasi kepada pemerintah desa di Bengkulu yang telah berhasil membangun banyak infrastruktur pedesaan, akses ke fasilitas pendidikan dan pelayanan kesehatan, fasilitas umum, ruang publik dan sarana prasarana lainnya. “Semoga semua ini bisa dipertahankan dan ditingkatkan, jangan sampai mundur. Saya selaku anggota DPD RI insyaAllah tak akan pernah jenuh untuk mengingatkan kementerian terkait agar lebih banyak mengakomodir pembangunan desa-desa di Bengkulu,” tutupnya. (151)