17 Imigran Sri Lanka Terdampar di Enggano

BENGKULU, BE – Sebanyak 17 orang imigran asal Sri Lanka terdampar di Pulau Enggano, sejak Rabu (21/11) lalu. Mereka terombang ambing di pulau terluar Bengkulu itu
setelah mengarungi Samudra Hindia selama 45 hari dengan menggunakan Kapal Motor Sadali Duwa dari negeri asalnya.

Rencananya mereka akan menuju ke Pulau Crismast Australia. Namun kapal kandas di sekitar Pelabuhan Kahyapo, Enggano. Aktivitas imigran ini terdeteksi oleh Lanal Bengkulu.

“Faktor kesulitan ekonomi dan situasi konflik antara pemerintah dengan gerakan Macan Tamil yang berlangsung sejak 2009 bisa jadi 2 alasan yang mendorong mereka lari dari kampung halamannnya menuju Australia. Mereka ini mungkin sebagian kecil dari sekitar 12 ribu orang di Sri Lanka yang mencari suaka ke negeri Kangguru tersebut,” ujar Komandan Lanal Bengkulu Letkol Laut (P) Horas Wijaya Sinaga sesaat setelah para imigran dibawa dari Enggano ke Bengkulu, kemarin.

Komandan yang belum genap sebulan dilantik ini menambahkan situasi politik di Sri Lanka paska penumpasan pemberontakan Macan Tamil 2009 memang kurang menguntungkan bagi sebagian besar anggotanya. Ia memperkirakan ada sekitar 70 ribuan mantan anggota gerakan ini yang resah hidup di negara dengan jumlah penduduk lebih dari 21 juta orang tersebut. “Dengan pergi ke Australia, mereka berharap dapat mengubah keadaan hidup mereka,” imbuhnya.

Dari interogasi jajaran Lanal Bengkulu terungkap saat terdampar pertama kali, mereka berniat membeli makanan di warung milik Wo’osh di Pelabuhan Kahyapo. Karena pemilik warung tak mengeri bahasa mereka, maka dimintailah bantuan salah satu warga bernama Zulfan Zaveri untuk dapat menerjemahkan bahasa yang mereka gunakan.

Mereka mengaku memiliki uang yang bila dirupiahkan sebesar Rp 70 juta yang berada di rekening salah satu dari mereka. Awalnya mereka berniat membeli kapal baru agar dapat melanjutkan perjalanan mereka untuk mencari suaka politik ke Australia.

Hal ini ditolak Zulfan Zaveri yang selanjutnya menyerahkan mereka kepada Posal Enggano dan diteruskan ke Lanal Bengkulu. Ke 17 orang tersebut adalah Sandanam Ranjith Kumar, Mandharan, Pathmanathan Prasath, Sivessamy Nagenthemsam, Murukaiya Sangreevan, Prajaith, Soorya Kumar, Jeya Kanthan, Karthik, Kamalan, Lumanan, Nishanthan, Prateepan, Karan, Theleepan, Nitharsan dan Mahesh.

Diantara mereka, 5 diantaranya telah diangkut ke Bengkulu menggunakan Kapal Ferry KMV. Sementara 12 orang lainnya akan dibawa ke Bengkulu  Sabtu (24/11) menggunakan kapal perintis.

Ketika wartawan koran ini mewawancarai Sivessamy Nagenthesam, nahkoda kapal yang mengangkut ke 17 orang ini mengatakan, tujuan mereka berangkat ke Christmas Island Australia adalah untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Ia bersama teman-temannya yakin bila di Australia mereka dapat mendapatkan pekerjaan dan kesejahteraan. Namun ia juga merasa nyaman berada di Indonesia.

“Kami ingin ke Australia supaya mendapatkan pekerjaan dan menjadi kaya. Tapi kami cukup senang juga di Indonesia karena penduduk disini ramah. Kami kelaparan kemarin diberi makan. Saya suka Indonesia,” katanya.

Sementara Sandanam Ranjith Kumar (32), salah satu imigran, mengatakan hal yang senada dengan nahkoda kapalnya itu. Pria yang pernah menjadi jurnalis paruh waktu di salah satu media internasional ini mengatakan, ia memilih tetap berangkat menuju Australia ketimbang dideportasi kembali ke negaranya. “Saya memiliki anak 2. Mereka hidup sangat susah. Saya berharap dapat mencari uang di Australia agar  bisa memberi mereka nafkah,” ucapnya.

Ditampung Imigrasi

Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Bengkulu, Drs Hasanudin MM  mengatakan para imigran yang  terdampar di Pulau Enggano itu sudah diamankan Anggota TNI Angkatan Laut yang  bertugas di pos Pulau Enggano. Dari 17 imigran gelap, baru 5 imigran dibawa ke Kantor Imigrasi Bengkulu. Adanya imigran gelap ini akan dilaporkan ke pusat. Selain itu juga akan mengupayakan  pelibatan International Organization for Migration (IOM), sebuah lembaga dibawah naungan PBB yang mengurusi masalah keimigrasian.
“Kami sudah melakukan kontak dengan Jakarta. Masalah ini juga sudah kami laporkan kepada badan PBB yang mengurus pengungsi,” ungkapnya.

Hasil pemeriksaan sementara  lima orang imigran  tersebut mengaku bahwa sebagian dari mereka memiliki paspor. ” Kami akan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh setelah 12 orang imigran lainya tiba,” ucap seraya menegaskan semua imigran yang ditampung saat ini perlakukan dengan layak (100/cw1)