164 Pelajar Hamil di Luar Nikah

Perilaku sex bebas di kalangan pelajar sudah sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan data dari Yayasan Sentra Informasi dan Komunikasi Orang Kito (SIKOK), dalam dua tahun terakhir (2010-2012), sebanyak 164 remaja (berstatus pelajar) diketahui hamil di luar nikah.

Aktivis SIKOK, Suminah mengatakan, jumlah itu berdasarkan laporan siswi yang meminta bantuan konseling ke SIKOK. Dia memperkirakan, jumlah pelajar yang hamil di luar nikah lebih banyak lagi. Sebab, tidak banyak siswi yang mengaku dan minta konseling ketika mereka hamil di luar nikah.

“Memang belum terlalu banyak. Tapi trennya selalu meningkat,” ujarnya usai seminar peringatan hari kesehatan sex Se-Dunia di Ruang Pola kantor Gubernur Jambi, kemarin.

Menurut Suminah, pelajar hamil yang melakukan konseling ke yayasan SIKOK cukup beragam. Ada dari SMA, tidak sedikit pula siswi SMP. Rentang umurnya pun bervariasi, ada yang 17 tahun, bahkan ada remaja umur 14 tahun. “Banyak yang datang minta konseling itu dari kelas 2 dan beberapa kelas 3,”katanya.

Dari konseling yang mereka lakukan, mayoritas kecenderungan para pelajar itu ingin menggugurkan kandungannya. Sebab, kebanyakan mereka yang datang ke SIKOK memang perutnya sudah membesar. Suminah mengaku menemukan sedikitnya 64 pelajar sudah melakukan upaya aborsi sendiri.

“Itu yang ketauan. Yang sembunyi-sembunyi dan melakukan aborsi sendiri, bisa jadi lebih banyak lagi,”katanya. Apalagi, beberapa kasus yang mereka temukan, ada sejumlah orang tua yang langsung mengambil alih kasus anaknya dengan melakukan upaya abrosi sendiri di luar Jambi.

“Mereka memboyong anaknya ke Jakarta, lalu melakukan aborsi di sana,”ujarnya.

Suminah memperkirakan jumlah siswi hamil di luar nikah di Jambi bisa saja lebih dari 164 orang. Sebab, tidak banyak siswi yang mau terbuka memberi informasi ketika mereka hamil. Bahkan, jumlah siswi yang melakukan aborsi di yakininya juga lebih dari 64 orang. “Itu yang ketauan saja. Yang tidak mau melapor dan konseling mungkin lebih banyak lagi,”tegasnya.

Melihat tren kejadian hamil di luar nikah ini, Suminah meyakini perilaku sex bebas yang dilakukan kalangan remaja dan pelajar sangat tinggi. SIKOK pernah melakukan survey terhadap 1.182 Siswa SMU/SMK Kota Jambi tahun 2003. Hasilnya, sedikitnya 8 % siswi mengaku sudah melakukan hubungan layaknya suami istri dengan pacar.

Anggap saja tren itu stagnan, maka diperkirakan pada tahun 2012 ini ada sekitar 16 ribu dari total 200 ribu lebih siswa/i, sudah melakukan hubungan suami istri. “Kondisi ini memang sudah sangat mengkhawatirkan. Apalagi, hubungan sex sudah dianggap hal biasa di kalangan remaja kita,”ujarnya.

Mantan Direktur Yayasan SIKOK ini menjelaskan, model pacaran yang memberikan ruang untuk melakukan hal di luar ketentuan adalah buah dari kehidupan sosial yang makin buruk. Dari konseling yang mereka lakukan, latar belakang remaja putri melakukan hubungan badan karena ingin membuktikan cinta kepada sang pacar.

Sedangkan yang memotivasi remaja pria melakukan hubungan badan ingin menunjukkan sikap jantan. “Dan semua itu karena pengaruh lingkungan yang begitu bebas,”katanya.

Apa solusinya? Mempersempit kemungkinan perbuatan itu terjadi dengan membangun lingkungan yang lebih baik. ”Mempersempit perilaku seperti ini harus dilakukan oleh semua pihak, baik dari lingkungan keluarga, lingkungan sekitar, hingga pemerintah. Sehingga kemungkinan kejadian ini bisa ditekan,”katanya.

Sementara itu, Ferdia Prakasa, aktivis Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Jambi tak menampik tren perilaku sek bebas dikalangan pelajar sudah sangat mengkhawatirkan. Bahkan, ada pula remaja di Jambi yang berprofesi sebagai penjaja seks. Tingginya angka seks bebas di kalangan remaja dapat terlihat dari meningkatnya tren usia remaja yang terjangkit virus mematikan HIV/AIDS.

Data per Juni 2012, jumlah pengidap HIV usia remaja (15-24 tahun) mencapai angka 103 orang. Sedangkan pengidap AIDS mencapai 45 orang.

“Persentase kalangan remaja yang terjangkit berada pada urutan kedua setelah golongan usia dewasa, di atas 25 tahun. Ini sudah sangat mengkhawatirkan,”ujarnya.

Enny Nadia Simanjorang, dari Duta Remaja Aliansi Satu visi mengatakan, berdasarkan penelitian di berbagai kota besar di Indonesia, sekitar 20 hingga 30 persen remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks. Berdasarkan hasil survei Komnas Perlindungan Anak bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) di 12 provinsi pada 2007, diperoleh pengakuan remaja bahwa sebanyak 93,7% anak SMP dan SMU pernah melakukan ciuman, petting, dan oral seks.

Sebanyak 62,7% anak SMP mengaku sudah tidak perawan. Sebanyak 21,2% remaja SMA mengaku pernah melakukan aborsi. Dari 2 juta wanita Indonesia yang pernah melakukan aborsi, 1 juta adalah remaja perempuan. Sebanyak 97% pelajar SMP dan SMA mengaku suka menonton film porno.

Celakanya, kata dia, perilaku seks bebas tersebut berlanjut hingga menginjak ke jenjang perkawinan. “Ancaman pola hidup seks bebas remaja secara umum baik di pondokan atau kos-kosan tampaknya berkembang semakin serius,”kata dia.

Ia menjelaskan, tingginya angka hubungan seks pranikah di kalangan remaja erat kaitannya dengan meningkatnya jumlah aborsi saat ini, serta kurangnnya pengetahuan remaja akan reproduksi sehat. Jumlah aborsi saat ini tercatat sekitar 2,3 juta, dan 15-20 persen diantaranya dilakukan remaja. Hal ini pula yang menjadikan tingginya angka kematian ibu di Indonesia, dan menjadikan Indonesia sebagai negara yang angka kematian ibunya tertinggi di seluruh Asia Tenggara.

Berbagai faktor ikut mempengaruhi dianataranya kurang perhatian orang tua, sekolah yang kurang dapat mengontrol hal ini atau memang karena tuntutan kemajuan jaman yang memaksa remaja melakukan hal ini.

”Masalah-masalah remaja seperti ini, sering timbul karena konsep diri remaja juga yang bermasalah,”katanya.

Berbagai masalah itu perlu segera diberikan suatu bekal pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah-sekolah, namun bukan pendidikan seks secara vulgar. Menurut dia, pendidikan Kesehatan Reproduksi di kalangan remaja bukan hanya memberikan pengetahuan tentang organ reproduksi, tetapi bahaya akibat pergaulan bebas, seperti penyakit menular seksual dan sebagainya. “Dengan demikian, anak-anak remaja ini bisa terhindar dari percobaan melakukan seks bebas,”pungkasnya.(jpnn)