13 Rumah Dibakar, Ratusan Warga Mengungsi

GUNUNGSUGIH – Pertikaian dua desa yakni Kampung Kusumadadi, Kecamatan Bekri dan Kampung Buyut, Kecamatan Gunungsugih Lampung Tengah membuat Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P bereaksi.
Orang nomor satu di Lampung itu meminta semua pihak untuk menahan diri dan tak gampang marah. Menurutnya, Provinsi Lampung sejak dulu dikenal sebagai negeri yang peramah bukan pemarah.

Kerukunan, saling menghargai, dan saling menolong kerap menghiasi pergaulan sehari-hari. Ketika terjadi kesalahpahaman dalam masyarakat, mereka akan duduk bersama dihadapan pemuka adat atau pemuka agama untuk mencari jalan keluar yang terbaik. Semua diselesaikan dengan kepala dingin.

Namun belakangan, massa menjadi mudah tersulut emosi. ’’Kita harus pintar menghadapi situasi, dan memerangi sikap yang akan merugikan. Sebagai masyarakat Lampung kita memiliki piil pesenggiri yang artinya malu untuk berbuat salah,’’ tegasnya saat menyambut kepulangan jemaah haji asal Lampung Timur di Bandara Raden Inten II, kemarin.

’’Orang lain yang berkelahi, yang tak tahu menahu jadi korban dan meninggal. Karena itu saya harapkan bapak ibu juga ikut berperang melawan kekerasan. Kita semua sama. Semua bersaudara,’’ katanya.

Diketahui, ratusan massa asal Kampung Buyut, Kecamatan Gunung Sugih mendatangi Kampung Kusumadadi, Kecamatan Bekri sejak pukul 16.00, kemarin (8/11).

Massa saat itu menggunakan ratusan kendaraan roda  dua dan tiga unit truck meluncur ke kampung Kesumadadi sekitar pukul 15.00, usai memakamkan Khairil Anwar (29) warga Buyut Udik.

Berbekal berbagai senjata tajam seperti tombak, pedang, celurit, bom molotov dan senjata lainnya. Namun gelombang massa ini bverhasil diblokade aparat gabungan dari Polres Lampung Tengah. Kodim 0411, Satbrimobda Polda Lampung di perempatan Wates, Kecamatan Bekri.

Sayang, minimnya jumlah aparat membuat blokade aparat jebol. Massa berhasil masuk ke Desa Kesumadadi. Hanya dalam hitungan menit, massa sudah terbakar emosi mulai merusak rumah-rumah dan membakarnya.

Tercatat 13 rumah ludes terbakar dan 70 rumah rumah rusak lantaran amuk masa. Bahkan, sejumlah warung kelontongan ikut menjadi sasaran penjarahan. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Sebab, sejak isu penyerangan muncul pada Selasa (6/11), aparat desa, pemerintah daerah sudah meminta ratusan warga Kesumadadi mengungsi.

Saat penyerangan terjadi Kapolres Lampung Tengah AKBP Hery Setyawan, Wakil Bupati Lamteng Ir . Mustafa dan Dandim 0411/LT Letkol Onf M. Ridwan yang ada di tengah-tengah kampung tak kuasa menahan amuk massa.

Namun setelah bantuan dari Polres Metro dan Satbrimob Polda Lampung tepat pukul 17.30, massa berhasil dipukul mundur hingga ke perbatasan desa Kusumadadi dan membuat blokade berlapis. Selain memukul mundur, polisi juga mengamankan dua orang yang dianggap sebagai provokator. ’’Kami sangat mengharapkan seluruh warga bisa menahan emosi dan tidak terprovokasi. Jangan sampai kejadian ini semakin meluas,’’ ujar Kapolres Lamteng, AKBP Hery Setyawan.

Saat itu, Wabup Lamteng Mustafa berharap agar dapat berfikir dengan jernih dengan tidak terus mengedepankan emosi.  ’’Percayakanlah masalah yang ada ke aparat yang berwajib. Biarkan polisi yang mengusutnya. Karena bagaimanapun, kita semua adalah saudara,’’ ujar Mustafa.

Sementara dari penelusuran Radar Lampung (Grup JPNN), ada salahsatu warga yang tertembak dan dilarikan ke klinik terdekat tak jauh dari lokasi bentrok. Korban bernama Karni (35) warga Dusun II, Kampung Sidorejo. Saat itu Karni berusaha lari saat mengetahui ada penyerangan.

Namun demikian, Kabid Humas Polda Lampung AKBP Sulistyoningsih membantah ada korban luka dalam insiden ini. Tidak ada yang terluka hanya rumah-rumah warga yang dibakar,’’ katanya.

Keluarga Almarhum Iril Ikhlas

Terpisah, tim forensik  sekitar pukul 10.00 WIB Kamis (8/11) kemarin tiba di Kampung Buyut, Kecamatan Gunungsugih, Lamteng. Sebelum tim tersebut bertugas, salah satu keluarga almarhum Khairil Anwar (29) atau yang akrab disapa Iril, yakni Maliyun (54) menyampaikan keluarga besar almarhum menerima secara ikhlas kematian sang kerabat.

’’Kami keluarga besar secara iklas menerima keadaan ini. Jadi, kami juga meminta tolong pada semua keluarga dan  semua pihak  agar menerima keadaan ini. Kita serahkan semua permasalahan ini pada pihak kepolisian untuk menanganinya,” katanya.

Maliyun melanjutkan, pihaknya mewakili keluarga almarhum juga mengucapkan terimakasih atas bantuan dari semua pihak, baik Pemerintah Kabupaten Lamteng, Polres Lamteng dan Kodim 0411 LT.

’’Kami mengharapkan pada semua kita untuk mendoakan agar almarhum diterima Allah dan semua permasalahan ini kami serahkan pada penegak hukum,’’ terangnya.

Hal senada juga diungkapkan Kepala Kampung Buyut Udik, Dasrul Aswin.  ’’Kita semua adalah warga Lampung Tengah dan jangan kita terpecah belah. Mari kita tetap menjaga persatuan dan kesatuan,’’ harapnya.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lamteng Hi. Mutawalli yang juga hadir di lokasi mengungkapkan bahwa kejadian ini semua adalah ujian kita untuk bersabar.

’’Kita semua harus mampu untuk saling menjaga persatuan dan kesatuan. Karena itu, kami mengimbau agar semua warga dan semua pihak agar melihat permasalahan ini dengan jernih. Mari kita serahkan semua pada pihak yang berwajib,” paparnya.

Namun, beberapa saat kemudian, situasi menjadi genting ketika salah satu keluarga almarhum, mengetahui bahwa jenazah yang di otopsi tersebut benar adanya.

Sekadar mengingatkan, ketegangan ini berawal insiden yang terjadi pada Kamis (18/10) di Kampung Kesumadadi. Ketika itu, warga Kampung Buyut yang diduga mencuri tiga ekor sapi dibakar massa di areal kebun sawit kampung setempat.

Pelaku mencuri satu ekor sapi jantan dan dua betina milik  Suja”i (41), salah satu warga Dusun IV, Kampung Kesumadadi. ’’Sekitar pukul 03.00 WIB, kakak Suja”i mengontrol kandang sapi miliknya yang berdampingan dengan kandang Suja”i. Ketika itu, ia terperangah lantaran tiga ekor sapi milik adiknya tidak ada di tempat,’’ cerita Kanitreskrim Polsek Gunungsugih Aipda Erson ketika itu.

Mengetahui hal ini, lanjutnya, sang kakak korban melapor kepada ketua RT setempat. Kemudian diumumkan melalui pengeras suara masjid. Tak pelak, massa berbondong-bondong keluar rumah menuju kediaman Suja”i.

Nah, ketika itulah massa melihat ada orang yang berlari di sawah yang terletak di belakang rumah pemilik sapi. Massa mengejar dan berhasil menangkap. Kemudian massa membakar pelaku di kebun sawit. (jar/fat/ary)