Wawancara Khusus dengan Kepala Perwakilan Bank Indonesia, Endang Kurnia Saputra

kepala-bi-bengkulu_endang-kurnia

Ladang Amal Ini Harus Digarap dengan Baik”

Mendapatkan tugas di Bengkulu, bagai mendapat ladang amal luas, yang harus digarap dengan senang hati. Baginya, pekerjaan tidak hanya dapat mengantar kesuksesan di dunia, tetapi juga diakhirat nanti.

IYUD DWI MURSITO – Kota Bengkulu

RAMAH dan santun. Kesan pertama bertemu Endang Kurnia Saputra, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bengkulu, yang baru saja bertugas di Bengkulu. “Kopi atau teh,” dia menawarkan minum kepada kami, sebelum berbincang lebih banyak.

Jam dinding menunjukan pukul 16.00 tepat, ternyata ini belum jamnya untuk pulang. Selama bekerja di BI, ayah dari Farhan dan Dinda ini, terbiasa pulang pukul 20.00 malam. “Saya harus menyelesaikan berkas-berkas dulu, dan mempersiapkan rapat untuk besok,” ucapnya di temui di ruang kerjanya, kemarin (16/11).

Endang menuturkan, dia merasa senang luar biasa mendapat tugas di Bengkulu. Meskipun sebelumnya belum pernah sekalipun menginjakan kaki di bumi Fatmawati Soekarno dilahirkan. Menurutnya, penempatan tugas di Bengkulu merupakan amanah dan ladang amal, yang harus dikerjakan dengan ikhlas.

“Ladang amal ini, harus digarap dengan baik,” ucapnya.

Dia bertekad, selama bertugas di Bengkulu akan membantu pemerintah daerah dalam meningkatkan perekonomian, dan pembangunan. Salah satunya dengan pengendalian inflasi. Meski dia mengakui, dihadapkan pada tantangan yang besar. “Selama bertugas di sini, saya akan melakukan yang terbaik. Sehingga, ketika dipanggil Sang Pencipta nanti, bisa khusnul khotimah (meninggal dalam keadaan baik),” tuturnya.

Alumni Universitas Padjajaran tahun 1990 ini, telah membawa ide-ide cemerlang. Khususnya untuk membantu pemerintah memperbaiki kondisi ekononomi dan pembangunan di Bengkulu.

Selama 22 tahun berkarir di BI, dia menempati jabatan cukup strategis, pernah sebagai pengawas perbankan, pengaturan bank dan kerjasama internasional. Bahkan, termasuk salah satu tim

penggabungan (merger) empat bank pemerintah, yaitu Bank Exim, Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, dan Bapindo menjadi Bank Mandiri.

Endang mengatakan tentang kondisi Bengkulu saat ini, dari segi infrastruktur memang ketinggalan dari daerah lain. Tapi dia menyakini bahwa sumber daya manusia (SDM) di Bengkulu sangat mumpuni. Sehingga harus diberdayakan dan mampu bersaing. “Bengkulu harus jadi outlet. Jangan berharap banyak Bengkulu jadi kota industri,” katanya.

Dengan jumlah penduduk sekitar 800 ribu jiwa pada usia produktif, tidak memungkinkan bagi pebisnis untuk berinvestasi di bidang industri di Bengkulu. “Investor lebih senang membuat pabrik di Jawa”. Tapi, ada tiga sektor unggulan harus di maksimalkan, yaitu sektor kemaritiman, sektor pariwisata dan sektor agronomi.

Dia menjelaskan lebih lanjut, jika pariwisata di Bengkulu sangat indah. Sehingga promosi terhadap pariwisata harus digencarkan lagi, untuk menarik orang datang ke Bengkulu. “Paling tidak fasilitas umum harus diperbaiki saat ini,” ujar pria yang memiliki hobi membaca dan bersepeda ini.

Pria yang pernah menempuh studi di Sidney (Australia) dengan konsentrasi bisnis perbankan ini, memiliki niat untuk menghidupkan lagi potensi wisata di Kampung Cina. Lokasi yang memiliki historis dan suasana klasik ini, baginya sangat cocok untuk dijadikan pariwisata baru. “Saya akan libatkan bank-bank lain, agar mendorong hidupnya Kampung Cina ini sebagai lokasi wisata, dengan mendorong tumbuhnya UKM disana,” jelasnya.

Sedangkan sektor kemaritiman, harus memaksimalkan potensi perikanan, dengan melakukan pembinaan terhadap nelayan dan memberikan fasilitas memadai, serta memaksimalkan pelabuhan yang ada di Bengkulu. “Ada Pelabuhan Linau, itu potensi sangat bagus,” ungkapnya.

Selain itu, sektor agronomi harus dikelola dengan baik agar menjadi sumber ekonomi baru. Ada ungkapan, ikan sejerek, beras secupek, madar”. Filosofi ini, kata Endang, masyarakat Bengkulu sebenarnya lebih akrab dengan kemaritiman dan agobisnis, sehingga harus mendapatkan perhatian utuh dari pemerintah.

Dalam upaya pengendalian inflasi, BI akan terus melanjutkan dan meningkatkan program-program sebelumnya.

“Misalnya cluster itik dan pengembangan sapi,” tuturnya.

Beberapa daerah, seperti di Bengkulu Utara, dikembangkan budidaya ikan. Jauh sebelum ini, BI juga telah mempelopori pemanfaatan lingkugan pekarangan untuk pengendalian inflasi di daerah.

Pria kelahiran Bandung 16 Juni 1966 ini mengatakan, BI akan terus mendorong kemajuan usaha kecil dan menengah (UKM) dengan memberikan bantuan-bantuan dan pembinaan, selain itu, meningkatkan program sosial, seperti pembangunan rumah ibadah, fasilitas umum, UKM serta peningkatan pemberian beasiswa kepada mahasiswa.

“Pemberian beasiswa untuk mahasiswa ini dikelola langsung oleh BI, Saat ini ada 106 mahasiswa generasi baru Indonesia (Genbi) menerima beasiswa,” tutur suami Vivi Julfida Tedjasari ini.

Ditengah-tengah kesibukannya bekerja, dia mengaku sangat berterimakasih terhadap istrinya, yang lebih banyak membimbing anak-anaknya. “Anak saya pertama kuliah di UI (Universitas Indonesia) dan SMA,” katanya.

Karena kebiasaan kerja hingga larut malam, Endang lebih memaksimalkan waktu pertemuan dengan anak-nya pada Sabtu dan Minggu. “Biasanya kalau weekend akhir pekan, bersepeda atau jalan ke Mall dengan anak-anak dan istri,” pungkasnya. (**)