Waspada ! Ancaman Bencana Meningkat Dipenghujung Tahun

bencana

Tahun 2016 sepertinya jadi tahun terkelam untuk urusan bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis, jumlah kejadian bencana hingga Oktober 2016 sudah menduduki posisi teratas pada 10 tahun terakhir.

Masyarakat harus benar-benar berhati-hati. Ancaman bencana hingga awal tahun depan diperkirakan terus meningkat seiring masuknya musim hujan. Hampir sebagian besar wilayah Indonesia bagian selatan khatulistiwa memang telah memasuki musim penghujan. Musim penghujan tahun ini akan berbeda daripada tahun lalu. Sebab, musim hujan tahun ini dibarengi dengan adanya fenomena la nina. Dampaknya, curah hujan diperkirakan meningkat hingga awal 2017.

Prakirawan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Eko Hadi Santoso mengatakan, hujan kategori sedang sampai lebat diperkirakan masih mengguyur sebagian besar wilayah Indonesia sampai Maret 2017. Kondisi tersebut dapat dilihat dari pergerakan angin dari daratan Asia menuju Australia yang cenderung stabil. ”Sekarang ini masih awal musim penghujan,” ujarnya saat ditemui di ruang pemantauan cuaca BMKG kemarin (20/11).

Dia menjelaskan, potensi hujan dengan intensitas tinggi sejauh ini baru terjadi di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Potensi hujan di dua wilayah tersebut di atas 20 milimeter per hari. Sedangkan wilayah Jawa, potensi hujan lebat akan terjadi di bagian barat dan tengah. Yakni dari Banten sampai Jawa Tengah serta Jogjakarta. ”Potensi itu akan terjadi selama beberapa hari ke depan,” jelasnya.

Untuk Indonesia bagian tengah dan timur, potensi hujan sedang-lebat diprediksi mengguyur sebagian besar Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku, dan Papua. Sedangkan wilayah Nusa Tenggara sejauh ini belum terlihat potensi hujan sedang-lebat. Sebaliknya, wilayah tersebut diperkirakan kering sampai beberapa waktu ke depan.

Dengan prakiraan cuaca itu, Eko menyebut puncak musim penghujan diprediksi baru terjadi beberapa pekan mendatang. Kondisi itu sejalan dengan laju angin barat dari daratan Asia yang perlahan mulai mendominasi angin timur dari Australia. Bila angin barat lebih dominan, intensitas hujan akan semakin tinggi dibanding sekarang ini. ”Akhir November, angin barat diperkirakan akan dominan,” ungkapnya.

BMKG memastikan awal penghujan sekarang ini belum terpengaruh dampak el nino dan la nina. Artinya, kondisi cuaca saat ini cenderung normal. Hanya, BMKG menggarisbawahi potensi hujan di wilayah Jawa diprediksi akan lebih sering disertai angin kencang dan petir. Potensi angin kencang diperkirakan mencapai 15 knot atau 30 kilometer per jam.

Fenomena itu terjadi lantaran meningkatnya aktivitas awan kumulonimbus (Cb) di atas wilayah Jawa yang disebabkan kombinasi pemanasan sinar matahari dan tingginya kelembapan udara. Aktivitas Cb itu berpotensi menyebabkan bencana banjir dan puting beliung di sejumlah wilayah di Jawa. ”Jawa potensi besar bencana banjir karena semakin menyusutnya wilayah resapan air,” paparnya. Seiring masuknya musim penghujan, ancaman bencana turut meningkat. Terutama bencana hidrologi seperti banjir dan tanah longsor. Keduanya diperkirakan mendominasi kejadian bencana hingga awal tahun depan.

”Ancaman banjir, longsor, dan puting beliung akan terus meningkat dengan puncak kejadian pada Januari 2017. Karena itu, masyarakat harus terus waspada,” tutur Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho kemarin (20/11). BNPB telah memetakan daerah-daerah rawan longsor dan banjir di Indonesia.

Ada 274 kabupaten/kota berada di daerah bahaya sedang-tinggi dari longsor di Indonesia. Sepuluh daerah paling rawan adalah Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Barat, Kalimantan Timur, Jogjakarta, Aceh, Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Banten. Setidaknya ada 40,9 juta jiwa penduduk terpapar dari bahaya sedang-tinggi longsor itu.

Sedangkan untuk bencana banjir akan mengancam 315 kabupaten/kota di Indonesia. Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Aceh, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Suamtera Barat, Seumatera Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Kalimantan Timur jadi 10 daerah paling rawan. Bencana itu mengamcam setidaknya 63,7 juta jiwa. ”Mereka tinggal di zona merah dengan kemampuan mitigasi yang masih terbatas sehingga saat terjadi hujan, maka terjadi bencana,” ujar alumni Universitas Gadjah Mada itu.

2016 sendiri jadi tahun terkelam untuk urusan bencana. BNPB merilis, jumlah kejadian bencana tahun ini paling tinggi dalam rentan 10 tahun terakhir. Tercatat hingga 11 November 2016, telah terjadi 1.985 bencana hampir di seluruh wilayah Indonesia. Sebanyak 375 orang tewas, 383 luka-luka, 2,52 juta jiwa menderita dan mengungsi, serta lebih dari 34 ribu rumah rusak akibat bencana yang terjadi.

Sutopo menjelaskan, adanya anomali cuaca dan kemarau basah menyebabkan bencana hidrometeorologi meningkat selama 2016. Salah satunya pergeseran musim penghujan 2016 yang menyebabkan puncak bencana banjir 2016 terjadi pada Februari. Padahal rata-rata 10 tahun puncak banjir terjadi pada Januari. Ditambah pula dengan adanya fenomena la nina yang menyebabkan musim hujan datang dua bulan lebih awal di beberapa daerah. salah satunya, Jakarta. (tyo/mia)