Wabah Difteri Hantui Balita

Plt Gubernur Keluarkan Surat Edaran Pencegahan

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Meski belum ditetapkan sebagai daerah berstatus kejadian luar biasa (KLB) atas wabah penyakit difteri, namun demikian masyarakat Bengkulu diimbau untuk tetap waspada.

Sebab, penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diptheriae bersifat menular dan berbahaya itu sangat rentan menyerang anak-anak balita. Khususnya balita diusia 1 hingga 4 tahun.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bengkulu, H Herwan Antoni SKM Mkes MM mengatakan, sampai saat ini belum ada satupun balita maupun masyarakat Bengkulu yang mengalami penyakit difteri. “Kita sudah cek, sampai sekarang belum ada laporan warga kita yang terkena penyakit difteri,” ujar Herwan kepada BE, kemarin (11/12).

Dijelaskannya, Bengkulu memang tidak ditetapkan sebagai daerah KLB secara nasional, hanya Provinsi Sumatra Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur yang sudah ditetapkan.

Bengkulu yang berdekatan erat dengan Sumatera Selatan (Sumsel) dan Sumatra Barat (Sumbar), sangat rentan penyakit tersebut masuk ke Bengkulu. “Bisa saja menular sampai Bengkulu. Karena kita berdekatan, untuk itu kita tetap waspada,” paparnya.

Penyakit difteri dapat dideteksi secara dini atas ciri-cirinya. Seperti, terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel, demam dan menggigil, sakit tenggorokan dan suara serak, sulit bernapas atau napas yang cepat, pembengkakan kelenjar limfe pada leher, lemas dan lelah dan pilek kental serta terkadang bercampur darah. Herwan mengatakan, jika anak-anak mengalami tanda-tanda tersebut, maka orang tua harus segara melaporkan ke pelayanan kesehatan terdekat, untuk mendapatkan perawatan secara cepat. “Jangan ditunda untuk mendapatkan perawatan, jika memang tanda-tanda penyakit tersebut sudah menyerang,” tambah Herwan.

Penyakit menular ini patut untuk diwaspadai, khususnya pada daerah padat penduduk dan kebersihaanya tidak terjaga. Karena penularannya, bisa masuk dengan berbagai cara.

Seperti, terhirup percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk, tidak menyentuh barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk dan bersentuhan langsung pada luka borok akibat difteri di kulit penderita.

“Upaya kita lakukan dengan melakukan vaksin kepada para balita. Baik itu melalui posyandu maupun vaksin secara langsung,” ujarnya.

Sementara itu, data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menujukkan sampai dengan bulan November 2017, ada 95 kabupaten dan kota dari 20 provinsi yang melaporkan kasus difteri. Secara keseluruhan terdapat 622 kasus, 32 diantaranya meninggal dunia.

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Bengkulu, Dr H Rohidin Mersyah MMA mengatakan, penyakit difteri memang patut untuk diwaspadai. Untuk itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu akan mengeluarkan surat ederan (SE) kepada kabupaten/kota untuk melakukan tindakan preventif. Seperti memberikan vaksin sejak dini kepada balita, disetiap wilayah.

“SE-nya sudah kita susun, segera kita terbitkan. Agar penyakit ini bisa diwaspadai,” tegas Rohidin.

Rohidin menilai, Bengkulu memang terancam mendapatkan wabah penyakit penular tersebut. Sebab daeranya sangat berdekatan, masyarakat juga diminta tetap waspada dan selalui mengedepankan kebersihaan lingkungan. “Upaya promotif pentung dilakukan. Karena daerah kita berbatasan langsung dengan Sumbar dan Sumsel,” pungkasnya. (151)