Torehkan Prestasi di Dalam Lapas

Endang Kepala Kantor Bahasa Bengkulu Karyono SPd MHum, saat menyerahkan piala kepada anak didik LPKA Bengkulu, yang menjadi pemenang lomba cipta puisi. Terlihat orang tua Andik serta kepala LPKA Bengkulu, Harry Winarca ikut hadir.
Endang Kepala Kantor Bahasa Bengkulu Karyono SPd MHum, saat menyerahkan piala kepada anak didik LPKA Bengkulu, yang menjadi pemenang lomba cipta puisi. Terlihat orang tua Andik serta kepala LPKA Bengkulu, Harry Winarca ikut hadir

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Panitia lomba penulisan puisi Kantor Bahasa Bengkulu, mengunjungi Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) di Lapas kelas IIA Bengkulu, kemarin (7/12). Kunjungan itu dalam rangka penyerahan hadiah lomba cipta puisi yang telah diselenggarakan 24 Oktober lalu. Ada 6 puisi dari 56 peserta lomba diberikan penghargaan berupa tropi, penghargaan dan uang pembinaan. Penyerahan hadiah itu dihadiri Kepala Kantor Bahasa Bengkulu Karyono SPd MHum, Juri Lomba Puisi Drs Amril Chanrhas MS, Kepala LPKA Harry Winarca serta orang tua anak didik.

Salah seorang dewan juri lomba cipta puisi dari akademisi, Drs Amril Canrhas menuturkan, hasil karya anak didik binaan Lapas sungguh luar biasa.

”Juri tidak berpikir dan menduga hasilnya lebih bagus. Kami terheran kok bisa sebagus ini sehingga kami berdiskusi antar juri. Penentuan pemenang puisi penuh perdebatan. Masing-masing puisi isinya mempunyai kelebihan dan kekurangan,” kata Amril.

Ada enam karya puisi terbaik hasil seleksi tim para juri dan dinyatakan sebagai pemenang. Isi puisinya sangat mengugah setiap orang yang membacanya. Goresan tinta dan curahatan hati andik itu membuat sejumlah orang yang membaca meneteskan air mata.

Beberapa judul puisi yang dinyatakan sebagai pemenang antara lain, “Ibuku Takkan Tergantikan” karya Rejang Lebong.

Isi puisi itu antara lain berbunyi “Tersimpan derita dan kesedihan yang begitu mendalam. Aku tahu disana tersimpan banyak air mata, untuk kami dan putra putrimu. Ibu…. engkau selalau berhartap akan anakmu bakal menjadi orang yang nomor 1 dimatamu, namun sering kali kami melawan dan melalaikan perintahmu. Ibu maaf kalau anakmu ini sering kali membuatmu bersedih ibu, mulai sekarang aku bertekad untuk menghapus air matamu”.

Sementara pemenang dua diraih HJ dengan judul puisi, “Penyesalan” Isinya menceritakan pahitnya kehidupan di dalam bui. Penggalan puisi yang dibuat antara lain, “Tak Pernah terbayang olehku pahitnya hidup didalam bui, tapi….tak kusangka kini statusku seorang napi, sungguh tak ku sangka hidup ini. Semua cita-citaku terbuang sia-sia hanya karena kesenangan sementara, wahai para pemuda pemudi berpikirlah dengan jernih agar tak kau raasakan kehidupan dibalik jeruji” Sementara karya AP berjudul ” Hanya Kenakalan dimasa Remaja ” Dia meminta agar tidak ada pembedaan dalam segala hal. Penggalan puisi itu ” Ayah…Jangan beda-bedakan aku dengan anak-anakmu yang lain hanya karena aku sering kali membuatmu marah, aku berjanji padamu aku akan menunjukkan keberhasilan dibalik semua kenakalan yang pernah aku lakukan,”.

Karya puisi yang dibuat andik itu mengingatkan semua orang bahwa apa yang terjadi bukan semata karena kesalahan anak. Ada ungkapan/ucapan jangan membeda-beda kan kami dan ini tanpa sadari orang tua telah membedakan mereka. Begitu juga dengan puisi berjudul “Hanya Kenakalan Dimasa remaja”

Harapan juga tertuang dalam puisi yang ada dalam kondisi.

“Siapapun yang membaca puisi itu sangat bermanfaat dan ikut menangis karena itu curahan emosi yang paling dalam jujur dari sang penulis,” bebernya.

Kepala Kantor Bahasa Karyono SPd MHum juga merasa terharu.

“Dalam lomba puisi ini, saya bisa menangis, saya merinding membaca puisi yang ditulis luar biasa dan melebihi sastrawan yang pernah kami laksanakan. Kata demi kata dan isi yang terkandung menggambarkan isi hati anak binaan lapas,” katanya.

Anak-anak dalam binaan Lapas walau belum dididik layaknya pendidikan formal, mereka telah mampu menciptakan karya sastra yang bisa mengalahkan anak yang mendapatkan pendidikan formal.

“Saya melihat tulisan puisi yang tanpa diajari pendidikan formal mereka sudah bisa memotivasi, ” jelasnya. Karyono mengucapkan terima kasih kepada Kepala Lapas Bengkulu, karena telah bisa menerima dan mengapresiasi pelaksanaan lomba menulis puisi tersebut. Menurutnya, Kantor Bahasa Bengkulu bertekad memanusiakan manusia di dalam lapas. Dengan cata memberikan pembinaan dan tidak membeda dengan pendidikan formal

Kepala Lapas LPKA Bengkulu Harry Winarca menuturkan, mengucapkan terima kasih kepada Kantor Bahasa Bengkulu, yang telah menggelar lomba cipta puisi. Kkegiatan ini kali pertama dilaksanakan di Bengkulu dan mungkin kali pertama di Indonesia. Lomba cipta puisi hendaknya menjadi program unggulan dan dijadikan agenda tahunan. Kegiatan ini mampu memberikan pencerahan sekaligus memotivasi para andik untuk bisa terus berkarya.

“Bukan hanya puisi, andik bisa diajarkan dalam penulisan sebuah novel,” pintanya.
Harry mengaku terharu dengan hasil karya andik. Ia semula tidak menyangka karya andik diapresiasi dalam kompetisi.

“Ini agenda luar biasa, terimakasih kepada kantor bahasa yang memberikan suport pada andik di Bengkulu, ” tukasnya.

Anak binaan Lapas disebut anak didik (andik), walau di Lapas andik tetap diupayakan mendapatkan pendidikan, meskipun dalam kondisi terbatas. LPKA, kara Harry, mengusulkan ke Dinas Dikbud agar dibuka program kejar paket jenjang pendidikan bagi andik. Saat ini pendidikan dan pembinaan andik baru dilakukan dengan cara menggandeng organisasi, seperti Duta Bahasa, PKBI, Pupa. Jumlah andik di Bengkulu mencapai 200 orang dan yang ada di lapas Bentiring sebanyak 66 orang. Setiap hari mereka dibuna oleh utusan organisasi dan lembaga tersebut.
Sementara itu, orang tua pemenang lomba puisi, Neri mengaku bangga dan tidak pernah menyangka anaknya yang berada di dalam Lapas masih bisa mengukir prestasi,. Neri berucap syukur dan matanya berkaca-kaca saat melihat hasil karya anaknya dipajang pada spanduk.

“Saya benar-benar ngak nyangka, anak saya bisa berprestasi, saya juga terharu lihat puisinya,” ujarnya seraya menyapu air matanya. Uang pembinaan yang diraih anaknya senilai Rp 2 juta akan ditabungkan, untuk menambah biaya pendidikan si anak selama lepas dari Lapas.

“Saat ini anak saya masuk kelas VIII, dan uang ini mau saya tabungkan untuk sekolah setelah keluar nanti, ” tukasnya. (247)