Tingkatkan Produktivitas Kopi, Pemprov Gandeng Puslitkoka

PuslitkokaBENGKULU, bengkuluekspress.com – Pemerintah Provinsi Bengkulu terus berusaha meningkatkan produktifitas kopi lokal. Salah satunya dengan menggandeng Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka). Kerjasama ini ditandai dengan digelarnya penandantanganan Momorandum Of Understanding (MoU) antara Pemprov Bengkulu dengan Puslitkoka, Kamis (09/11/2017).

Plt Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah mengatakan, saat ini komoditi kopi yang dimiliki Provinsi Bengkulu merupakan salah satu kopi unggul ditingkat nasional. Sayangnya, keunggulan tersebut tidak disertai dengan peningkatan produktifitas kopi itu sendiri, sehingga dampak positifnya belum berpengaruh signifikan terutama bagi petani kopi.

“Kopi Bengkulu tidak bisa diragukan lagi keunggulannya, ketimbang kopi yang berasal dari Provinsi lain Karena kopi kita memiliki cita rasa yang khas,” ungkap Rohidin diwawancarai usai penandantanganan MoU.

Lanjut Rohidin, saat mengikuti event nasional pun kopi Bengkulu setidak-tidaknya masuk dalam 10 besar, bahkan pernah menjadi tiga besar nasional.

“Hanya saja, keunggulan ini belum diiringi peningkatan produktifitas terhadap kopi kita. Padahal keberadaan lahan tidak diragukan lagi, karena sudah teruji kesuburannya dan juga luas,” ujar Rohidin.

Bengkulu sendiri sudah memiliki keunggulan. Kemudian dari segi kualitas dan lahan sudah cukup menjadi modal tinggal lagi bagaimana melakukan pembenahan agar produktifitasnya meningkat.

“Mulai dari pembenahan pada cara pengolahan, bibit, dan pengolahan pasca panen. Kalau ini dibenahi, maka kopi Bengkulu pasti bisa menjadi komoditias andalan daerah,” tegas Rohidin.

Sementara itu, Direktur Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia Dr. Ir. Misnawi mengimbau pemerintah Provinsi Bengkulu dapat mengamankan produksi kopi Bengkulu, menyusul meningkatkan daya konsumsi masyarakat.

Pertumbuhan konsumsi kopi di Indonesia semakin meningkat seiring perubahan gaya hidup masyarakat.

“Konsumsi kopi tumbuh 14 persen setiap tahunnya, sementara produksi kopi Bengkulu hanya tumbuh tiga persen saja,” kata Misnawi.

Menurutnya, dengan kondisi ini dikhawatirkan kedepannya Indonesia menjadi pengimpor kopi, bukan lagi menjadi ekportir. Kopi Bengkulu sendiri berpotensi untuk mengisi perkopian Indonesia yang didukung dengan lahan yang luas.

Keunggulan lainnya kopi sudah menyatu dengan masyarakat Bengkulu.

“Untuk kopi arabika ada sekitar 5000 hektare. Untuk robusta lebih luas lagi yakni sekitar 500 ribu hektare,” tambahnya.

Bukan hanya produksi, Misnawi juga menyarankan pemerintah meningkatkan kualitas dan mutu kopi agar dapat bersaing di pasar lokal maupun internasional.

Kopi Bengkulu sudah mendapat tempat dihati peminat kopi dengan menempati 10 besar dalam kontes nasional.

“Bengkulu harus punya merk atau branding, konsisten dalam mutu dan publikasi yang penting. Karena saat ini 80 persennya itu publikasi,” kata Mismawi. (Dil/Adv)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*