Tiada Kata Lelah, Meski Jauh dari Keluarga

Komandan KRI Diponegoro Letkol (P) Daru Cahyo Sumirat
KRI

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki wilayah perbatasan dengan banyak negara baik perbatasan darat (kontinen) maupun laut (maritim). Otomatis, kedaulatan negara ini pun ditentukan oleh para penjaga tapal batas tersebut. Bengkulu Ekspress berhasil menemui salah satu Komandan KRI Diponegoro yang menceritakan suka-dukanya selama mengapung di tengah perairan.

TEDI CAHYONO, Bengkulu

PAGI Senin (12/10), sebuah kapal perang paling modern milik Indonesia berhasil mendarat di pelabuhan Bengkulu. Kapal yang dibuat pada tahun 2007 itu mengangkut sekitar 90 awak prajurit TNI AL. Keselamatan mereka semua ternyata ditentukan oleh sang Komandan. Ia adalah Letkol (P) Daru Cahyo Sumirat.
Sudah hampir setahun setengah, Letkol (P) Daru Cahyo menjadi Komandan KRI Diponegoro 365. Dalam waktu yang tidak singkat itu, jelas sudah banyak suka dan duka yang dialami pelaut kelahiran Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta ini. Duka yang paling dalam, menurutnya, adalah jauh dari keluarga.
“Standar operasi di AL itu, antara 3-4 bulan. Tapi tergantung perintah juga, bisa lebih dari itu,” ujarnya.
Tak hanya jauh dari keluarga, ia pun bercerita bagaimana ‘ngerinya’ ketika berada di beberapa titik rawan. Misalnya di perairan Selat Malaka dan China Selatan. Pasalnya, di wilayah tersebut kapal perang asing sering berlalu lalang. Hal ini memaksa matanya untuk tidak lelah melakukan pengawasan. Apakah kapal-kapal asing itu berpotensi melakukan penyerangan atau tidak.
“Tugas utama kami melaksanakan pengamanan, kedaulatan dan penegakan hukum. Tentu ada beberapa kondisi yang membuat kita harus terus waspada,” kata dia.
Pelaut yang sempat bertugas di Mabes TNI ini sendiri mengaku bangga bisa memegang penuh kendali kapal buatan galangan asal Schelde, Belanda tersebut. Sebab, kapal ini memang pernah menjadi andalan PBB dalam melakukan misi perdamaian di Lebanon, pada 2010 dan 2013 lalu. Baru-baru ini, Daru pun sempat menjalankan operasi pengamanan pelaksanaan hukuman mati kepada warga Australia, di Nusakambangan.
“Kita senantiasa menjaga kedaulatan poros maritim demi keuntungan masyarakan dan bangsa,” imbuhnya.
Sekilas tentang KRI Dipenogoro, ia menerangkan kapal ini dilengkapi dengan persenjataan cangih, termasuk  senjata untuk mencegah serangan udara melalui pesawat tempur, diantaranya meriam, rudal dan radar anti pesawat udara. Selain itu, kapal ini biasanya juga ditambah dengan helikopter, yang akan menambah kekuatan KRI Diponegoro.
Kata Daru “Kita juga biasanya membawa helikopter, baik heli anti kapal selam, maupun heli anti kapal permukaan. Helikopter ini juga digunakan sebagai kepanjangan tanggan KRI Diponegoro untuk memantau pergerakan di laut yang mencurigakan.
KRI Dipenogoro yang bernomor lambung 365 ini juga merupakan kapal pertama Indonesia dari kelas korvet sigma. Meskipun bertugas sejak 2 Juli 2007 lalu, kondisi kapal ini cukup sehat sebagai kapal perang.
Kapal perang ini memiliki panjang 90,71 m dan lebar 13,02 m. Kecepatan maksimal yang bisa ditempuh adalah 28 knot dengan jarak tempuh 540km bila berada dikecepatan 18 knot. Kapal perang ini dapat memuat awak kapal sebanyak 80 orang. Kapal ini dilengkapi dengan radar modern seperti radar MW08 3D Multibeam, radar senjata : LIROD mk2 Tracking radar.
Untuk persenjataan, kapal ini dilengkapi dengan 2 x 4 rudal anti-pesawat MBDA Mistral TETRAL, 4 rudal permukaan MBDA Exocet MM40 block 2. 76 mm Oto-Melara kanon utama, 2 x 20 mm Vector G12 kanon ringan juga membuat kapal ini semakin gagah. Apalagi jika ditambah dengan 2 seluncur torpedo B515 tipe 3A 244S Mode II/MU 90.
“Persenjataan KRI Dipenogoro ini dilengkapi dengan rudal berkapasitas 100 meter, meriam 100 meter, torpedo, dan lainnya,” kata lulusan SMA Taruna ini. (**)