Tanaman Terserang Penyakit, Produksi Juga Menurun

Melihat Kondisi Petani Cabai, Saat Harga Cabai Murah
Ari, salah stau petani cabai saat menunjukkan caba yang diserang penyakit mati batang (1)

Setelah sempat merasakan tingginya harga cabai pada akhir tahun 2014 lalu, kini harga cabai di Kabupaten Rejang Lebong sebagai sentra sayuran di Provinsi Bengkulu kembali melorot. Rendahnya harga cabai tersebut juga diperparah dengan diserangnya tanaman pedas tersebut dengan sejumlah penyakit sehingga kondisi petani kian terpuruk. Bagaimana kondisi petani cabai pasca harga cabai tak sepedas dulu lagi? Berikut liputannya;

ARI APRIKO, Curup Tengah

PANAS terik yang melanda Kawasan Rejang Lebong Minggu (12/4), siang tak menyurutkan sejumlah buruh petik memanen buah cabai yang mulai memerah di kawasan Desa Air Merah Kecamatan Curup Tengah. Cabai-cabai yang dipanen tersebut adalah milik Suyani (50) petani setempat.
Menurut Suyani, saat ini petani cabai di Rejang Lebong tengah melewati masa-masa sulit. Dimana saat ini harga cabai merah ditingkat petani hanya dihargai Rp 10 ribu per Kg. Harga tersebut jauh merosot saat harga mahal beberapa waktu lalu, yang ditingkat petani mencapai Rp 66 ribu per Kg-nya.
“Kalau sekarang sudah murah Mas, balikin modal saja susah,” keluh Suyani saat ditemui Bengkulu Ekspress, kemarin.
Menurut Suyani, kondisi tersebut diperparah dengan sejumlah penyakit yang saat ini tengah menyerang tanaman yang memiliki rasa pedas namun kaya akan vitamin C tersebut. Penyakit yang menyerang tersebut mulai dari mati batang, keriting daun hingga busuk kering. Dengan kondisi tersebut tentunya pihaknya akan sulit untuk mengembalikan modal. Karena dengan terserang penyakit tersebut hasil panennya akan merosot jauh dari harapan. Dimana dari 1 hektar lahan bisa menghasilkan cabai sebanyak 2 ton, dengan diserang penyakit tersebut maka hasil yang paling maksimal mereka peroleh sebanyak 0,5 ton atau 500 Kg.
“Boro-boro mau untung, untuk mengembalikan modal saja susah. Untuk satu hektar ini modalnya bisa mencapai Rp 16 juta mulai dari bibit, mulsa pupuk dan upah. Dengan kondisi sekarang, paling kita hanya bisa mendapatkan Rp 5 juta,” terang Suyani.
Menurut Suyani, serangan sejumlah penyakit tersebut, memang kerap melanda sayuran cabai yang ditanam petani. Hanya saja hingga saat ini belum ada bantuan dari pemerintah dalam hal ini tenaga penyuluh yang turun petani untuk membantu petani mengatasi penyakit tersebut. Sehingga pihaknya harus memutar otak sendiri untuk mengatasi masalah ini.
“Kita hanya berkonsultasi sesama petani dan berbagai informasi terkait dengan penanganannya, namun tidak juga berhasil. Ini contohnya banyak cabai yang mati maupun buahnya yang membusuk sehingga tidak bisa dijual,” jelas Suyani sembari menyortir buah cabai yang baru selesai dipanen.
Dengan melihat kondisi harga yang tidak pernah tetap dan berbagai penyakit yang kerap melanda tanaman mereka, Suyani dan sejumlah petani lainnya berharap pemerintah bisa membantu mereka baik untuk memnstabilkan harga cabai hingga membantu mereka mengatasi penyakit yang ada. (**)