Tabot, Festival Internasional

BENGKULU, BE – Keinginan Ketua Kerukunan Tabot (KKT) Bengkulu, Ir Syiafril Syahbudin menjadikan tabot sebagai festival yang mengundang perhatian dunia internasional dinilai memiliki syarat cukup. Hal ini mengingat bahwa Provinsi Bengkulu tidak hanya memiliki kebudayaan tabot yang mengandung nilai-nilai mutiara kesadaran indah masa silam, namun juga memiliki seabrek objek wisata yang mendunia.

Deputi Media dan Komunikasi Informasi pada Institute of Social Justice (ISJ), Akur Tamma, mengatakan, diantara objek wisata yang bisa menjadi daya tarik internasional adalah Benteng Marlborough dan rumah pembuangan Bung Karno.

Menurut dia, kebudayaan tabot bukan hanya milik warga Bengkulu. Ia bahkan sebenarnya dibawa oleh Inggris dari Madras dan Bengali di bagian selatan India yang kebetulan merupakan penganut Islam Syi‘ah. “Di Iran, perayaan yang sama juga diadakan. Di Indonesia sendiri upacara tabot pernah meluas dari Bengkulu ke Painan, Padang, Pariaman, Maninjau, Pidie, Banda Aceh, Meuleboh dan Singkil. Nama-nama daerah yang kita sebut berpeluang diajak berkerjasama untuk menyelenggarakannya secara bersama-sama dengan mengambil Bengkulu sebagai tuan rumah,” kata Tamma kepada BE, kemarin (25/4).

Selain membentuk kepanitiaan bersama dengan daerah-daerah tetangga dan negeri-negeri penyelenggara tabot, lanjut Tamma, kepanitiaan juga harus kembali mengangkat spirit atau semangat nilai-nilai kebijaksanaan yang terkandung dalam tabot demi kembali memperkokoh fondasi kebangsaan rakyat Indonesia.

Sebagaimana diketahui, esensi ritual tabot adalah upaya untuk mengingatkan manusia akan praktik penghalalan segala cara untuk menuju puncak kekuasaan dan simbolisasi dari sebuah keprihatinan sosial. “Kesemerawutan tata sosial hingga menciptakan krisis multidimensional pada beberapa waktu terakhir ini salah satu sebabnya adalah karena kita bersikap terlampau arogan dengan menganggap segala hal yang berbau mistis dari masa lalu sudah habis masa gunanya untuk dipelajari. Tabot akhirnya dianggap sebagai sekedar festival budaya semata,” imbuhnya.

“Padahal kalau nilai-nilai mutiara yang terkandung didalam tabot itu bisa disyiarkan secara terus menerus dan menancap dalam sanubari rakyat dan orang-orang di pemerintahan, kemeriahan tabot pasti akan bersanding dengan kekaguman atas tata sosial dan jati diri asli rakyat Bengkulu. Dengan bekal itu tabot pasti mampu menyihir mata dunia,” tambahnya.

Disamping itu, Tamma juga menganjurkan agar Pemda Provinsi Bengkulu dapat melakukan riset skala besar terhadap seluruh kekayaan sejarah yang ada di seluruh Provinsi Bengkulu. Semua hasil riset tersebut harus dipublikasikan secara massif sebagai pemantik bagi para wisatawan untuk mendatangi bumi rafflesia secara berduyun-duyun.

“Ketika kita menginginkan orang-orang datang berkujung ke negeri kita, kita harus memberikan mereka banyak alasan agar mereka bersedia menginjakkan kakinya ke tanah ini. Orang-orang bisa saja mengeluhkan belum memadainya infrastruktur yang kita miliki. Namun soal infrastruktur ini pasti akan terjawab seiring pembangunan berbagai megaproyek MP3EI,” tukasnya.
Sementara Ketua KKT Bengkulu, Ir Syiafril Syahbudin, menyatakan, festival tabot dapat mendunia bila Pemda Provinsi Bengkulu bisa melakukan kampanye secara massif mengenai event ini kepada masyarakat internasional. “Setidak-tidaknya dengan memasang iklan di baliho besar yang ada di Bandara Soekarno-Hatta dan di Bandara I Gusti Ngurah Rai. Kalau itikad baik ini tidak ada, jangan harap gaung tabot bisa menyentuh kuping wisatawan mancanegara,” demikian Syiafril. (009)