Sudoto dan Edi Waluyo Tolak Dicalonkan

BENGKULU, BE – Paguyuban Masyarakat Jawa Bengkulu (PJMB) mau tidak mau harus mencari tokoh Jawa lainnya untuk dicalonkan sebagai wakil gubernur pada Pilkada Desember mendatang. Sebab, Ir Drs H Sudoto MPd (Asisten III Setdaprov) dan Ir Edi Waluyo SH MM (Asisten II Setdaprov) menolak tawaran tersebut.

Sudoto saat diwawancarai kemarin, mengaku tidak berkenan dicalonkan sebagai wakil gubernur, mengingat persyaratannya harus berhenti atau mengundurkan diri dari Pegawai Negeri Sipil (PNS).

“Saya tidak berkenan, saya tidak punya rencana untuk itu karena aturan ASN harus berhenti dari PNS. Saya sendiri tidak siap untuk berhenti, makanya saya tidak berkenan,” jawabnya.

Sudoto menceritakan, beberapa kali lalu ia bersedia mencalonkan diri karena aturannya tidak mesti berhenti dari PNS, melainkan cukup mengundurkan diri dari jabatan saja. Namun, setelah adanya aturan bahwa harus berhenti dari PNS, ia pun memutuskan untuk tidak terjun ke dunia politik lagi, kecuali sudah pensiun.

“Saya kira bukan hanya saya yang menolak, Pak Edi Waluyo pun kemungkinan besar sama dengan saya karena pertimbangannya harus berhenti dari PNS ini,” ungkapnya.

Karena menolak, ia pun mengaku siap mendukung siapapun calon lain yang diutuskan oleh PMJB sebagai utusan dari tokoh Jawa pada Pilgub kali ini.

“Sampai sekarang belum tahu siapa yang akan diusung, kalau ada yang maju tentu kita akan dukung sepenuhnya,” ujarnya sembari mengatakan bahwa ia belum melaporkan penolakan itu kepada pengurus PMJB, karena PMJB sendiri belum menyampaikan langsung kepadanya terkait dengan masuknya dirinya pada bursa balon wakil gubernur tersebut.

Di bagian lain, Edi Waluyo saat dikonfirmasi tidak mau berkomenter banyak terkait namanya masuk sebagai kandidat Cawagub itu. Ia mengaku dirinya saat ini ingin fokus bekerja sebagai abdi negara dan diberikan amanah untuk menduduki asisten II.

“Saya kan PNS dan ingin fokus bekerja. Kalau masalah nama saya muncul sebagai salah satu kandidat calon wakil gubernur, saya no coment,” singkatnya.

Sementara itu, Pelaksana Harian Ketua PMJB, Ir Joko Hendro mengungkapkan, bahwa pihaknya tidak mempermasalahkan adanya penolakan tersebut, karena pihaknya juga bisa memaksakan tokoh Jawa tersebut untuk maju.

“Kita kan hanya menyediakan, nanti calon gubernur yang akan memilihnya mana yang dia suka. Tapi kalau tidak mau juga tidak masalah kita tidak memaksa,” ujarnya.
Siapa yang akan diutus sebagai penggantinya? Joko mengaku belum bisa memberikan penjelasan karena pihaknya belum menggelar rapat sehingga belum dikletahui siapa kandidatnya. “Belum tahu, karena kami sendiri belum rapat. Nanti akan diputuskan dalam rapat siapa kira-kira yang akan mewakili tokoh Jawa,” pungkasnya. (400)