Singgih Kartono Gerakkan Desa lewat Desain Sepeda Bambu

Yakin Bisa Ikuti Wooden Radio yang Mendunia

002034_572749_Sepeda_bambu_dalamSukses dengan wooden radio (radio kayu), Singgih Kartono kembali melahirkan karya inovatif berbahan bambu: sepeda bambu. Dengan sepeda itu, pria Temanggung, Jawa Tengah, tersebut ingin menggerakkan masyarakat desa.

Laporan Dian Wahyudi , Temanggung

ADA aktivitas tidak biasa di tengah perkebunan kopi yang tenang di Dusun Kelingan, Desa Kandangan, Temanggung, Jumat sore lalu (3/4). Khususnya di dalam sebuah pondok di area tersebut yang sebagian besar bangunannya terbuat dari bahan bambu.

Di ruang utama pondok berukuran sekitar 3 x 6 meter itu, terdapat 12 remaja yang sedang asyik merakit sepeda. Enam di antaranya berkulit putih khas pemain-pemain sinema Asia yang belakangan menjamur di sejumlah stasiun televisi tanah air. Dua orang berkebangsaan Tiongkok, satu Taiwan, dan tiga lainnya dari Jepang.

Bersama enam lainnya, para mahasiswa Tokyo Zokei University itu datang khusus ke Temanggung untuk mengikuti program SoBike (School on Bambu Bike). Sebuah program komunitas Sepedagi (Sepeda Pagi-Pagi) yang dikomandani Singgih Kartono bersama Institut Ibu Profesional sebagai wadah masyarakat untuk mengenal potensi desa sambil bersepeda.

”Saya ingin mimpi saya tentang revitalisasi desa menjadi semacam global movement. Anak-anak muda lokal tetap yang utama kami galang, tetapi terbuka untuk siapa saja, termasuk anak muda dari luar negeri,” kata Singgih saat ditemui di sela-sela workshop.

Sepeda bambu yang mulai didesain dan dikembangkan alumnus Desain Produk ITB itu tak hanya memiliki nilai bisnis yang menjanjikan, tetapi juga diharapkan bisa menjadi semacam gerakan sosial. Dengan program SoBike, dia berharap orang tertarik kembali ke desa untuk mengenali potensinya dan kemudian mengembangkannya.

”Saya termasuk yang tidak setuju dengan program desa wisata. Sebab, desa itu sebenarnya tidak layak ditonton dan jadi tontonan. Desa itu harus dibantu, diobati, dan diselamatkan,” tuturnya.

Kepedulian Singgih terhadap perlunya revitalisasi desa tumbuh sejak akhir masa kuliah. Ketika itu, 1990-an, isu pemberdayaan masyarakat akar rumput begitu kuat berembus di kampusnya. Lewat forum-forum diskusi kecil, ditunjang sejumlah referensi buku yang sempat dibacanya, bapak dua anak tersebut termasuk yang merasakan ada yang salah dengan perkembangan desa.

Ketika pulang ke desanya di Temanggung, di sela-sela kuliah, Singgih melihat perubahan yang sangat cepat terjadi. Salah satunya soal pola hidup yang mulai konsumtif, yang merupakan pengaruh masyarakat kota. ”Komunitas desa yang secara genetis mandiri menjadi semakin tergantung dengan luar,” bebernya.

Meski demikian, saat itu Singgih belum tahu apa yang harus dilakukan. ”Yang pasti, saat itu saya sudah mulai nggak suka suasana kota. Saya nggak suka yang ramai, bising, dan panas. Karena itu, saya pun berniat pulang kampung,” kenang pria kelahiran 21 April 1968 tersebut.

Namun, langkah Singgih pulang ke desa molor dari rencana. Selepas lulus kuliah pada 1992, dia sempat bekerja di perusahaan milik dosen dan sponsornya saat tugas akhir, Surya Pernawa.

Dia tertarik bergabung dengan perusahaan yang bergerak di industri kerajinan itu karena konsep dan semangat yang diusung sang dosen. Yakni merekrut orang yang sama sekali tidak bisa menjadi bisa menghasilkan produk dengan standar kualitas tinggi. Hebatnya, produk itu laku dijual di Museum of Modern Art, Amerika Serikat. ”Sayang, perusahaan tersebut akhirnya kolaps, sekitar 1994,” ucapnya.

Saat itulah Singgih menawarkan kepada sang dosen untuk membawa usaha tersebut ke Temanggung. Pertimbangannya, di kampung halamannya itu biaya produksi akan bisa lebih murah. ”Ini modus saya agar bisa cepat pulang kampung,” kisahnya.

Apes, perusahaan yang dimotorinya bersama rekan sesama alumnus Desain Produk ITB tersebut juga kandas. Pada 2004 Singgih mulai merintis usaha baru membuat radio kayu yang diberi label Magno Wooden Radio.

Tanpa diduga, radio kayu itu tumbuh menjadi produk desainer Indonesia yang mendunia. Radio kayu tersebut sampai ditetapkan sebagai salah satu produk termewah 2008 versi majalah Time. Berbagai penghargaan bergengsi di dunia desain juga diterima Singgih, di antaranya Good Design Award 2008 dari Jepang dan Brit Insurance Design of the Year 2009 dari salah satu museum ternama di Inggris.

Bukti bahwa karya itu telah menjadi kelas dunia lainnya, saat kita men-searching kata kunci wooden radio di mesin pencari Google, Magno tampil di barisan teratas. Radio kayu hasil desain Singgih tersebut memang lebih banyak dipasarkan lewat online dengan menyasar pasar luar negeri.

Dengan karyawan sekitar 30 warga desanya, hingga saat ini pesanan radio kayu masih terus mengalir. Tiap tahun nilai ekspor radio kayu Singgih rata-rata mencapai 180 ribu dolar Amerika Serikat (Rp 2,3 miliar). ”Tapi, itu tadi, Magno masih belum bisa menjawab sepenuhnya kegusaran saya tentang desa,” ujar Singgih kembali.

Perjalanan hidup Singgih berikutnyalah yang kemudian mengantarkan suami Tri Wahyuni tersebut bersemangat untuk mendesain, memproduksi, lalu mengembangkan sepeda bambu hingga saat ini. Pada 2013 Singgih sempat sakit lumayan parah karena kadar kolesterol di tubuhnya yang tinggi. Untuk menurunkannya, dia kemudian rajin berolahraga. Salah satunya dengan bersepeda mengelilingi pelosok desa di sekitar rumah.

Dari situlah keprihatinannya terhadap kondisi desa makin menjadi-jadi. ”Intinya, di benak saya, ini kok makin mengerikan ya,” katanya.

Dalam banyak hal, menurut Singgih, desa jadi tidak mampu menyelesaikan persoalannya yang memang semakin pelik. Dia mencontohkan fakta tentang degradasi lahan pertanian yang ujungnya mengganggu ekonomi keluarga petani. Di sejumlah tempat yang ditemuinya saat bersepeda, solusi yang diambil masyarakat desa justru jalan keluar instan.

”Jadi, bukan lagi menjual produk yang dihasilkan dari tanah, tapi menjual tanah itu sendiri. Minimal menjualnya jadi material batu bata,” bebernya.

Atas berbagai persoalan yang ditemuinya tersebut, Singgih akhirnya sampai pada satu kesimpulan bahwa saat ini desa memiliki masalah karena kehilangan para pemikir. Orang-orang yang berpendidikan memilih tinggal di kota. Maka, yang tersisa adalah mereka yang berpendidikan rendah dan orang-orang tua.

Dari situlah Singgih berpikir untuk mendesain dan mengembangkan sepeda bambu. Di satu sisi, dia yakin produk tersebut akan memiliki nilai bisnis yang tinggi. Selain standar kualitas yang baik, bahannya sangat mudah didapat dan melimpah.

Betapa tidak, dari satu batang bambu yang banyak tumbuh di sekitar desanya, bisa dihasilkan sekitar sepuluh rangka (frame) sepeda. Ketika dijual dalam bentuk lonjoran, satu batang bambu umumnya hanya dihargai Rp 100 ribu. Namun, begitu mendapat sentuhan teknis dan estetis, satu frame sepeda bambu karya Singgih bisa laku hingga Rp 3 juta.

Saat ini sejumlah jaringan dan rekanan Singgih di beberapa negara sudah menyatakan kesiapan menjadi distributor. Rencananya, bulan depan pengiriman perdana ke luar negeri dilakukan. ”Bisa dibayangkan penambahan nilainya. Apalagi, ini nanti dibuat handmade yang otomatis bisa menyerap tenaga kerja banyak,” katanya.

Secara teknis, sepeda bambu karya Singgih relatif berbeda dengan yang sudah ada. Karya Singgih menggunakan teknik belah tangkup yang mengadopsi sistem pemanfaatan bambu untuk usuk atap rumah. Kelebihannya, selain bisa tampil lebih estetis, optimalisasi penggunaan bambu lebih besar karena tidak perlu memilih-milih ukuran bambu yang pas.

Bersamaan dengan rancangan bisnis yang dibuat, Singgih sudah menyiapkan sejumlah nilai plus sepeda bambu karyanya, yaitu upaya redistribusi populasi. Lewat berbagai gerakan yang terus diintensifkan, gerakan revitalisasi sepeda bambunya bisa menarik sebanyak-banyaknya orang untuk kembali ke desa.

”Potensi desa ini luar biasa. Sayang sekali kalau tidak dioptimalkan. Ayo, jangan ragu-ragu untuk membangun desa kita,” ajaknya. (*/c9/ari)