Serapan Rendah, Ekonomi Lambat

Kinerja Pemda Tak Menggembirakan

Pertumbuhan ekonomi Bengkulu pada 2017 ini mengalami penurunan dibanding tahun lalu. Perlambatan ini akibat tidak maksimalnya penyerapan belanja pemerintah di tahun 2017.
====

Perlambatan ekonomi sangat dirasakan pada tahun 2017 ini, meskipun masih ada variable yang membanggakan, dimana investasi dan ekspor Bengkulu meningkat dibanding tahun sebelumnya.

Pelaksana tugas (Plt) Gubernur Bengkulu, Dr H Rohidin Mersyah MMA mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Bengkulu dalam tahun 2017 lebih rendah dibandingkan tahun 2016 lalu, meskipun tidak terlalu signifikan perbedaannya.

Perekonomian Bengkulu mengalami pertumbuhan 4,98 persen atau lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang mencapai 5,30 persen. “Memang terjadi penurunan namun penurunannya tidak terlalu signifikan,” ujar Rohidin.

Penurunan angka pertumbuhan ekonomi Bengkulu lebih disebabkan kepada belanja pemerintah yang dibuktikan dengan penyerapan anggaran dibandingkan dengan tahun lalu, Pemerintah Provinsi Bengkulu bersama Pemerintah Kabupaten dan Kota secara rata-rata jauh lebih rendah.

Realisasi Belanja Pemerintah mencapai Rp 1.500,89 miliar atau 44,87 persen dari Pagu Rp 3.338,98 miliar dan baru digunakan Rp 1.248,08 M atau lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya dengan realisasi sebesar 50,95 persen dari Pagu Rp 2.337,15 miliar.

“Penyebab penuruanan adalah efektifitas belanja pemerintah itu mengakibatkan menurunnya pertumbuhan ekonomi dan penurunan daya beli masyarakat,” sambung Rohidin.

Meskipun angka pertumbuhan ekonomi Bengkulu dalam tahun ini menurun, namun masih ada variable yang membanggakan, dimana investasi dan ekspor Bengkulu meningkat disertai dengan angka inflasi Bengkulu yang berada pada angka terkendali.

“Meskipun pertumbuhan ekonomi menurun tetapi ekspor dan impor Bengkulu meningkat. Angka inflasi juga masih terkendali dan memiliki artian yang cukup baik,” jelas Rohidin.

Tak hanya itu, Rohidin juga mengatakan tingkat kemiskinan juga mengalami penurunan, kendati pun belum pada angka yang memuaskan atau diangka 16 persen yang sebelumnya menempatkan Bengkulu berada di urutan terakhir di Pulau Sumatera.

“Sekarang kita berada di urutan ke Sembilan setelah Aceh, ada peningkatan karena dulu kita berada di posisi terakhir,” tuutr Rohidin.

Berdasarkan laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS) soal Nilai Tukar Petani (NTP) Petani bagi Pemerintah Kabupaten dan Kota dalam Provinsi Bengkulu. Dimana hanya ada dua komoditas yang bernilai positif, yakni perikanan dan holtikultura. Sedangkan bidang peternakan dan perkebunan serta lainnya, nilainya negatif. “Arti NTP negatif itu sama dengan produktifitas petani kita tidak standar. Begitu juga pengolahan pasca panennya buruk dan industri hilirnya belum berkembang,” ujar Rohidin.

Menanggapi hal tersebut, pihak pemprov Bengkulu berupaya untuk mengatasi persoalan tersebut dengan memacu untuk meningkatkan produktiftas petani agar sesuai standar yang ada dan lebih produktif.

“Dalam artinya persatuan luas lahannya harus berstandar, sehingga dampak peningkatan kesejahteraan masyarakat yang masih rendah itu, kedepan sudah bisa lebih baik,” tukas rohidin.

Sementara itu, Anggota DPD RI, H Mohammad Saleh SE mengatakan terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu pada tahun 2017 ini, semestinya tidak mesti terjadi. Mengingat saat ini sedang gencar-gencarnya pelaksanaan belanja pemerintah. “Saya kira pertumbuhan ekonomi Bengkulu cukup berjalan dengan baik. Hanya saja, kemungkinan ada terjadi perlambatan. Apabila terjadi turun dan naiknya pertumbuhan ekonomi Bengkulu dari tahun ke tahun, itu biasa terjadi,” jelas Saleh.

Menurut Saleh, sekarang ini tidak dipungkiri bahwa penggerak ekonomi yang paling besar di Provinsi Bengkulu, masih pada belanja Pemerintah. Oleh karena itu, baik Pemerintah Provinsi bersama Pemerintah Kabupaten dan Kota bersama DPRD-nya agar lebih cepat berkoordinasi, terutama ketika dana APBD-nya sudah disahkan agar segera direalisasikan kepada masyarakat.

“Jika pelaksanaan belanja pemerintah terjadi perlambatan, bukan saja daerah yang rugi, tapi juga masyarakat. Untuk itu saya minta mekanisme anggaran daerah agar bisa secepatnya diselesaikan dan dilaksanakan,” sambung Saleh.

Terakhir Saleh berharap, kedepannya pertumbahan ekonomi Bengkulu semakin mengalami peningkatan agar membawa kemajuan dan mampu mensejahterakan masyarakat Bengkulu. “Jika pertumbuhan ekonomi meningkat maka perekonomian masyarakat dan kesejehtaraannya akan meningkat. Kita berharap kedepannya akan semakin meningkat,” tukas Saleh. (999)

Belanja Pemerintah Provinsi Bengkulu
ANGGARAN BELANJA APBD 2017
Belanja Operasi Rp 2.029,14 M
Belanja Modal Rp 1.010,59 M
Tidak Terduga Rp 5 M
Transfer Rp 294,25 M
Total Rp 3.338,98 M

REALISASI BELANJA APBD 2017
Belanja Operasi Rp 1248,08 M
Belanja Modal Rp 124,98 M
Tidak Terduga Rp 0,00 M
Transfer Rp 127,83 M
Total Rp 1248,08 M