Tetap Laris Manis, Sempat Diborong untuk Dibawa ke Luar Negeri

FT: LARIS: Salah satu penjual menunjukan kaos bertulisan istilah khas Ternate, Rabu (4/10)
FT: LARIS: Salah satu penjual menunjukan kaos bertulisan istilah khas Ternate, Rabu (4/10)

 TERNATE – Seorang pengusaha harus memahami betul selera dan kemauan konsumen. Sebab, kepuasan konsumen sudah tentu menjadi outpot dari pengusaha jika ingin mempertahankan konsumennya.

Selain terus berinovasi melahirkan ide baru, seorang pengusaha juga wajib terjun langsung ke pasar dan menjadi pendengar. Hal inilah yang diterapkan pemilik butik Joy Iwan Santoso.

Pedagang kaki lima (PKL) yang menjual pakaian tersebut tidak hanya menjajakan kaos yang dijual di pasaran saja. Dia berinovasi mengikuti selera anak muda Maluku Utara (Malut) saat ini.

Untuk itu, lapak seluas 5×5 centimeter di areal Dodoku Ali itu sebagian besar dipajang kaos  dengan tulisan atau istilah yang menggunakan bahasa Ternate, seperti //ngana kita//, //pastiu//, //Ternate explore//, //baku bawa bae-bae// dan masih banyak lagi. Benar saja, kaos yang dijualnya itu laris manis.

Sebab, tidak hanya dibeli warga lokal melainkan juga wisatawan domestik maupun turis. ”Karena tulisannya kan bahasa Ternate jadi dijadikan ole-oleh juga,” kata Iwan saat ditemui di lapaknya kemarin (4/10).

Bahkan lanjut Iwan, ada salah satu PNS di Dinas Pariwisata yang memborong beberapa model dengan tulisan berbeda untuk diboyong ke Eropa. ”Pernah ada PNS yang beli banyak, katanya mau bawa ke luar negeri,” ujar pria berdarah Jawa yang lahir di Tobelo itu.

Menurutnya, kaos bertulisan khas Ternate lebih banyak dicari daripada yang lainnya. Untuk itulah kata Iwan, dirinya terpaksa mencari istilah dalam pergaulan anak muda di Malut melalui temannya. Istilah itu kemudian menjadi tulisan baju yang diordernya.

”Kalau kaos yang model menggunakan bahasa Ternate inikan hanya ada di beberapa tempat saja, jadi mudah kita dapatkan. Tapi, kalau seperti ini hanya sedikit yang menjual dan tidak ada di daerah lain, kebutulan saya order kaos ini di Bandung,” bebernya.

Ia menuturkan, model yang dipesanpun berbeda-beda. Jika model tersebut telah laku terjual, maka ia kembali memutar otak untuk mendesain model lainnya. ”Jadi modelnya tidak kembar dan tidak dijual di tempat lain,” tandasnya. (ikh/jfr/Malut Pos)