Semangat Nanda Saputra dan Yona Haryana, Siswa Tunanetra yang Mengikuti UN Ingin Kuliah dan Bercita-cita Jadi PNS

Ujian
UJIAN : Nanda Saputra dan Yona Haryana, ketika mengikuti pelaksanaan UN di sekolahnya. (Foto ERICK/BE).

Walau memiliki kekurangan tidak bisa melihat, dua orang pelajar Sekolah Luar Biasa (SLB) Amal Mulia Kota Bengkulu bernama Nanda Saputra dan Yona Haryana, tidak ingin kalah semangat dengan siswa yang normal ketika mengikuti kegiatan Ujian Nasional (UN) tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA).

Erick Voniker Doris, Bengkulu

Bermodalkan selembar kertas dan riglet atau alat tulis khusus untuk menuliskan huruf braille, Nanda dan Yona duduk sejajar di atas kayu dengan diawasi dua orang pengawas dari sekolah lain.

Setelah bel berbunyi menunjukan pelaksanaan UN dimulai, kedua siswa tunanetra ini dengan cekatan langsung mengisi biodata mereka masing-masing di atas kertas yang telah disediakan oleh panitia.

Setelah selesai mengisi biodata, keduanya langsung mengambil beberapa lembar kertas yang merupakan soal UN mereka yang sebelumnya telah diambil sang kepala sekolah di Dinas Pendidikan dan Kebudayan Provinsi Bengkulu.

Dengan cekatan, keduanya langsung meraba-raba soal yang menggunakan huruf braille dan selanjutnya mengisi jawaban di kertas yang sebelumnya telah diisi biodatanya.

Dalam mengikuti pelaksanaan UN ini, Nanda dan Yona sama-sama harus menyelesaikan 40 soal seperti jumlah soal yang diujikan kepada siswa SMA dan MA yang normal dalam jangka waktu dua jam lamanya. Soal demi soal telah dikerjakan dan tampa terasa waktu telah menunjukan pukul 12.30 WIB dan keduanya harus mengakhiri UN untuk mata pelajaran Matematika dan akan dilanjutkan keesokan harinya untuk mata pelajaran Bahasa Inggris.

“Alhamdulillah selesai juga,” ucap Yona dengan keras mendengar bel pertanda pelaksanaan UN selesai.

Nanda menyampaikan, bahwa UN yang ia ikuti yaitu mata pelajaran Matematika, mata ujian hari kedua, Selasa (11/4). Sementara untuk hari pertama, Senin (10/4) mata pelajaran Bahasa Indonesia, akan tetapi karena dirinya telah belajar dengan serius, ujian yang dilaksanakannya dianggap cukup mudah dan mudah-mudahan jawabannya bisa benar semua.

“Alhamdulillah soalnya tidak terlalu susah dan semoga saja kami bisa lulus,” ucap Nanda, setelah mengikuti UN.

Setelah mengikuti UN dihari ke dua dengan mata pelajaran Matematika, untuk hari ketiga, Rabu (12/4), Nanda dan Yola akan mengikuti UN Bahasa Inggris, namun Nanda dan Yola selalu optimis jika mereka bisa menyelesaikan dan menjawab semua soal yang akan mereka kerjakan.

“Memang Bahasa Inggris cukup susah, tetapi mudah-mudahan saya dan Yola bisa menyelesaikannya dengan baik,” sampainya.

Dalam mengikuti pelaksanaan UN ini, Nanda dan Yola sangat berharap mereka bisa mendapatkan nilai yang bagus, apalagi seperti Nanda yang nantinya setelah tamat dari SLB Amal Mulia, dirinya akan melanjutkan kuliah di salah satu Universitas di Sumatra Barat, yang memiliki jurusan bagi orang yang memiliki kekurangan. “Saya ingn melanjutkan kuliah di Padang selesai ini,” kata Nanda dengan bersemangat.

Jika diterima di universitas yang memiliki jurusan bagi orang luar biasa, maka akan memuluskan langkah Nanda untuk bisa mewujudkan cita-citanya sebagai salah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Karena Ia yakin, untuk mengabdi kepada negara adalah hak semua warga negera termasuk seperti dirinya yang tidak bisa melihat.

“Nanti saya akan menjadi seorang PNS dan bisa mengabdi kepada Negara dan membanggakan orang tua dan sekolah saya,” Nanda mengakhiri ceritanya.

Sementara Kepala Sekolah SLB Amal Mulia, Dwi Sambudi SPd, mengatkan, untuk UN tingkat SMA yang dilaksanakan oleh sekolahnya hanya dua siswa yang ikut. Keduanya siswa Tunanetra.

Sementara untuk dua orang lagi karena tunagrahita, mereka hanya mengikuti ujian sekolah saja, namun untuk hari dan pelaksanaannya bersamaan. “UN 2 orang dan US 2 orang, jadi siswa kita ada 4 orang yang ujian,” sampaiannya.

Selama ujian berlangsung baik itu UN ataupun US, Dwi Sambudi, bersyukur karena dalam pelaksanaannya semua berjalan dengan lancar tampa ada kendala, baik itu dari soal, pengawas maupun siswa itu sendiri, sehingga dimulai dan berakhir pelaksanaan ujian sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.

“Beryukur karena kita tidak ada masalah ketika melaksankan ujian,” ucapnya.(***)