Selam, 10 Tahun Digerogoti Kanker Kulit

IRUL/BE KANKER: Kondisi Selam didampingi anak bungsunya yang kehilangan bola mata kiri akibat kanker kulit dan butuh uluran tangan, Senin (29/1).
IRUL/BE KANKER: Kondisi Selam didampingi anak bungsunya yang kehilangan bola mata kiri akibat kanker kulit dan butuh uluran tangan, Senin (29/1).

Bola Mata Hilang dan Membusuk, Butuh Uluran Tangan

Selam (65), warga Desa Sukarami Kecamatan Kaur Tengah Kabupaten Kaur sudah sepuluh tahun lebih hidup digerogoti kanker kulit dibagian mata kirinya. Bahkan kini, bola mata kirinya sudah habis, hilang berlubang dan membusuk karena penyakit tersebut. Bagaimana kondisinya? Simak laporan berikut;

AIRULLLAH SYEKHDI, Kaur

KAUR Bengkulu Ekpress – Di USIA senjanya, bapak empat orang anak yang menetap di jalan lintas Desa Sukarami ini harus menjalani hidup tanpa mata kiri dan harus menahan derita penyakit kanker kulit yang kian mengerogoti mata dan hingga hidungnya. Luka bernanah di kelopak mata kirinya hingga membuat bola mata kirinya habis dan lepas karena borok. Bahkan, mata kanannya kini juga sudah terkena kanker kulit itu.

“Saya menderita kanker kulit ini sudah sepuluh tahun lebih, dan kalau mata saya hilang ini sudah lebih lima tahun ini, dan mau berobat tidak ada uang,” ungkap Selam saat ditemui BE di rumahnya, kemarin (29/1).

Penuturan Feri Ardiansyah (27) anak bungsu pasangan Selam (65) dan Mahani (50), sakit yang diderita ayahnya itu sudah berjalan kurang lebih sepuluh tahun, dan penyakit ini berawal dari benjolan tahi lalat dibawa bola mata kirinya sekitar sepuluh tahun silam. Dimana pada waktu itu tahi lalat tersebut “digaruk-garuk” hingga menyebabkan luka dibagian bawa bola mata kirinya. Namun karena tidak ada perawatan dan penanganan medis mengakibatkan luka makin menjadi dan mengalami gejala seperti kanker kulit.

“Awal mulanya ini karena tahi lalat dibawa mata dekat hidung yang digaruk-garuk mengalami luka, dan lama-lama luka itu makin parah dan seperti ini jadinya,” tutur anak bungsu Selam yang setia mendampingi ayahnya itu.

Lanjutnya, ketika luka dan mulai mengerogoti bola mata kirinya itu. Pihak keluarga sudah memeriksakan Selam secara medis ke RSUD Cicindu Bandung Jawa Barat, dan oleh oleh dokter ia disarankan untuk operasi total dibagian mukanya agar kanker yang terus mengerogoti bagian matanya itu tidak menjalar ke bagian mata kanan. Namun karena keterbatasan biaya akhirnya ia kembali lagi ke kampung halaman tanpa ada hasil. Selama di rumah Selam masih menjalankan pengobatan secara medis pengobatan tradisional. Namun pengobatan tradisional itu tak banyak membawa perubahan malah penyakit itu semakin parah dan telah menyebakan bola matanya hilang serta membusuk. Ditambah lagi kodisi itu sudah parah dan tulang bagian mata juga kelihatan karena luka itu dan terpaksa harus ditutupi dengan kaca mata.

“Bapak ini dulu waktu tahun 2016 pernah di rujuk ke RSUD Cicendo Bandung selama sebulan setengah. Waktu berobat itu pakai BPJS, dan disitu disarankan operasi total. Tapi karena tidak ada uang dan juga itu harus nunggu lama, kami balik lagi ke Kaur, dan sampai kini belum pernah dibawa ke dokter dan hanya diobati pakai tradisonal dan dokter parktik,” ujarnya,

Meskipun menderita kanker kulit dan mata hilang, namun semangat Selam menjalankan aktivitasnya sebagai petani tak pernah padam. Sehari-hari ia masih pergi ke sawah seperti biasanya. Pihak keluarga kini berharap ada pihak dermawan atau pemerintah daerah menyalurkan uluran tangan demi segera terwujudnya kesembuhan bapak empat orang anak tersebut. Sebab dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan tidak mampu untuk mengobati kanker matanya itu.
“Kalau lagi sakit itu dan bernanah itu harus disuntik ke dokter Lipi dan kadang pakai obat tradisonal. Setiap suntik itu harus bayar Rp 75 ribu dan saya berharap ada bantuan pihak terkait agar bisa ngobati bapak saya ini karena kalau mau operasi ratusan juta,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kaur Drs M Tabri, menyatakan belum dapat laporan soal adanya warga yang menderita sakit kanker kulit yang menyebabkan mata hilang tersebut. Namun pihaknya menyarankan agar segera dibawa ke rumah sakit menggunakan BPJS agar bisa diobati.

“Saya baru dari wartawan inilah dan ini sudah terlambat karena penyakitnya sudah parah. Saya sarankan kepada pihak keluarga agar segera dibawa ke rumah sakit untuk diobati, apalagi sekarang berobat menggunakan BPJS gratis, dan kita siap bantu pengurusannya,” tandasnya. (**)