Riri: Butuh Riset Bangun Bengkulu

Bengkulu

 

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Anggota Komisi III DPD RI Dapil Bengkulu, Riri Damayanti John Latief SPsi mengatakan, membangun Bengkulu harus dilakukan secara serius. Pembangunannya pun tidak hanya dalam satu lini saja, namun harus menghimpun semua lini. Mengingat saat ini pemerintah sedang menyusun Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) yang akan dituangkan dalam Keputusan Presiden (Kepres).

“Dalam RIRN ada 10 fokus penelitian dan riset strategis, seperti pangan, pertanian, kesehatan dan obat, informasi teknologi komunikasi, transportasi, material maju, pertahanan, energi, energi terbarukan, kebencanaan, kemaritiman, sosial dan humaniora,” terang Riri kepada Bengkulu Ekspress, kemarin (27/8).

Dikatakannya, langkah strategis dengan melakukan riset itu harus disambuat dengan baik. Namun, pemerintah perlu menetapkan skala prioritas dan menentukan satu fokus utama untuk Indonesia, khususnya Bengkulu. Misal Jepang unggul dengan otomotifnya, Amerika unggul dengan industri perfilmannya, Korea Selatan unggul dengan fashionnya, Kuba unggul dengan kesehatannya, Tiongkok unggul dengan teknologi komunikasinya, Rusia unggul dengan militernya dan lain-lain.

“Memilih satu bidang bukan berarti abai dengan bidang lainnya. Sehingga langkah ini akan memiliki supremasi tertinggi dalam bidang tersebut,” paparnya.

Industri-industri yang tumbuh baik di sektor hulu maupun hilir sangat membutuhkan riset untuk pengembangan produk agar memberikan nilai tambah bagi produk yang dihasilkan. Pemerintah harus menetapkan jenis industri apa saja yang cukup strategis dan mendesak untuk segera dikembangkan dengan riset yang serius.

“Dukungan itu tentu, berkaitan erat dengan reformasi dunia pendidikan. Seperti pengembangan sekolah kejuruan di tiap-tiap daerah mutlak sangat diperlukan. Sayangnya di Provinsi Bengkulu sendiri, misalnya pendirian sekolah kejuruan masih sangat jarang. Di Kabupaten Kaur bahkan hanya ada beberapa sekolah kejuruan dengan kondisi yang masih minim fasilitas,” ungkap Riri.

Disamping itu, Riri menegaskan, Bengkulu memiliki potensi sungai cukup bagus. Namun masih banyak sungai tercemar, seperti sungai Bangkahulu tercemar akibat aktifitas perusahaan pertambangan di hulu sungai. Termasuk perkebunan-perkebunan besar mengakibatkan rusaknya hutan.

“Penyusunan RUU Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi harus dapat mendorong proses penelitian dikembangkan untuk melindungi lingkungan dan meningkatkan kesehatan manusia,” tambahnya.

Namun sayangnya, saat ini pemerintah masih cenderung mengabaikan pentingnya melibatkan partisipasi masyarakat dalam melakukan riset dan penelitian. Sebab, saat ini juga banyak kebijakan yang akhirnya tidak tepat sasaran. Misalnya, alokasi Kartu Indonesia Sehat (KIS) untuk Provinsi Bengkulu sebanyak 650 ribu jiwa, sedangkan masyarakat miskin di Provinsi Bengkulu sebanyak 340 ribu jiwa. Kenyataannya masih ada orang miskin yang belum mendapatkan kartu tersebut.

“Di Bengkulu Selatan juga ditemukan sebanyak 2.376 data penerima KIS 2017 tidak valid. 1.206 data ganda, 11 orang merupakan dari kalangan keluarga ekonomi mampu, 293 orang meninggal dunia dan 865 alamat tidak ditemukan dan pindah alamat ke luar Kabupaten Bengkulu Selatan. Jadi, ini sangat miris. Artinya pemerintah harus berkerja ekstra untuk membangun Bengkulu,” pungkas Senator termuda di Indonesia ini. (151)