Riri Ajak Lestarikan Bahasa dan Budaya Daerah

Riri Damayanti
Riri Damayanti

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Di tengah perkembangan zaman seperti saat ini, semangat melestarikan bahasa dan budaya daerah di kalangan generasi muda di Bengkulu kian luntur. Hal ini merupakan konsekuensi dari adanya era globalisasi. Kehadiran teknologi informasi mempercepat proses globalisasi merambah ke setiap sudut kehidupan manusia. Anggota DPD RI, Riri Damayanti John Latief SPSi mengatakan filter-filiter era globalisasi itu harus dilakukan, khususnya untuk generasi muda.

Bahasa dan budaya daerah masih banyak generasi muda yang belum tahu. Kalau pun ada yang tahu, masih banyak yang belum memahami falsafah yang terkandung di dalamnya.

“Kita ambil contoh, apakah ada yang mengetahui Tari Andun, atau falsafah apa yang termuat dalam festival Tabot, kebudayaan apa saja yang dimiliki oleh adat Rejang? Ini masih banyak belum diketahui,” ujar Riri.

Dijelaskannya, luturnya budaya daerah di kalangan remaja lantaran budaya asing terus menerus ditampilkan melalui media massa cepat mengakrabi generasi muda. Menarik mereka untuk mempelajari, meniru, hingga menjadi budaya baru.

“Proses peniruan ini bahkan seringkali terjadi tanpa disadari dan inilah yang mengelupaskan budaya asli kita, hingga ke daerah-daerah,” tambahnya.

Tidak hanya dari budaya, Riri mengatakan dari sisi bahasa juga sudah memprihatinkan. Nasib bahasa Indonesia dan daerah kini memprihatinkan. Banyak yang seakan-akan ketika menggunakan bahasa asing dianggap keren dan gaul. Sekarang bahkan telah muncul generasi alay yang mengobrak-abrik bahasa sesukanya seiring kemunduran pikiran. Seharusnya bahasa ini harus dipahami bukan hanya menjadi sarana berkomunikasi. Tapi bahasa juga menjadi alat untuk menyampaikan pemikiran, gagasan, kebudayaan dan lain-lain.

“Bahasa adalah pemersatu, yang menyatukan bangsa Indonesia dari Aceh hingga Papua. Bahasa menunjukkan nilai-nilai dan mengandung kesetaraan, kemerdekaan, dan kebebasan. Ini mengapa bahasa kita harus terus kita lestarikan,” ungkap Riri.

Jebolan Universitas Indonesia (UI) ini menegaskan, masuknya era globalisasi bukan harus ditolak, baik budaya dan bahasa asing. Namun sebagai generasi muda, harus bijak dalam menghadapi arus globalisasi ini. Generasi muda harus pandai memilah dan memilih setiap apa yang merasuk dalam kebudayaan dan bahasa. Sebagai orang timur yang menjunjung tinggi sopan santun.

“Kita punya Pancasila yang mengandung nilai-nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Rasa Persatuan, Kerakyatan dan Keadilan Sosial yang menjadi dasar negara kita. Untuk itu kita harus mengetahui dan memahami budaya dan bahasa ibu kandung kita sendiri,” paparnya.

Kebudayaan dan bahasa itu harus dilestarikan, baik dengan sering-sering didengar, dipertontonkan, digunakan atau dipakai. Hanya dengan cara itu, kaum muda mampumelestarikan dan menikmati hasil cipta rasa dan karsa para leluhur, serta mempertahankan kebudayaan dan bahasa asli negeri Indonesia dan tidak tergeser oleh kebudayaan dan bahasa asing.

“Kita perlu mempelajari mereka juga sebagai jendela bagi kita untuk mengenal dunia. Namun kita harus lebih dulu menguasai dan melestarikan budaya dan bahasa kita sendiri agar jelas identitas kita sebagai sebuah bangsa dan dengan itu kita dapat memberikan sumbangan bagi pengembangan peradaban dunia,” pungkasnya Senator termuda di Indonesia ini. (151)