Rel Kereta Api Masih Kabur

BENGKULU, BE – Pembangunan rel kereta api Bengkulu-Muara Enim sepanjang 230 Km hingga saat ini masih kabur alias tak jelas ujung pangkalnya. Padahal proses persiapan lelang sendiri sudah dibahas dengan beberapa kali menggelar rapat di Gedung Daerah Provinsi Bengkulu, namun lelang belum juga terlaksana.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Bengkulu, Ir Sorjum Ahyan MT saat dikonfirmasi berdalih bahwa belum terlaksananya lelang tersebut dikarenakan PT Mandela Resources sebagai konsultan mega proyek tersebut masih mengumpulkan sejumlah dokumen persyaratan lelang, seperti izin trase, rencana pembebasan lahan dan beberapa persyaratan lainnya. “Lelangnya ditargetkan tahun ini. Memang sudah lama direncanakan, tapi belum terlaksana karena prosesnya belum selesai,” kata Sorjum.
Lelang sendiri akan dilaksanakan oleh Dirjen Perkereta-Apin Kementerian Perhubungan (Kemenhub), sedangkan Pemerintah Provinsi Bengkulu hanya memfasilitasi proses pembebasan lahan hingga pembangunan. Untuk biaya pembebasan lahan sendiri akan ditanggung sepenuhnya oleh investor pemenang lelang, mengingat proyek tersebut didanai sepenuhnya oleh investor san sama sekali tidak menggunakan APBN ataupun APBD.
“Sejauh ini persiapan terus dilakukan, bahkan beberapa hari lalu tim dari kementerian turun ke Bengkulu dan langsung tinjau lapangan dalam rangka mengidentifikasi dan memverifikasi syarat-syarat untuk lelang,” terang Sorjum.
Investor asing maupun dalam negeri sudah banyak yang mengincar berinvestasi di bidang transportasi angkutan batu bara bara ke Pelabuhan Pulau Baai tersebut. Hal ini terbukti hingga akhir 2014 saja setidaknya sudah ada 4 investor yang sudah melakukan penjajakan dan siap membangun rel kereta api yang membutuhkan biaya mencapai Rp 24 triliun tersebut.
Keempatnya adalah PT China Railway Egenering, PT European Investor Group PT Wika Indonesia dan PT Mandela Resources yang selama ini sebagai prakarsa mega proyek tersebut. Kemenhub pun sudah mendesak PT Mandela Resources untuk menanyakan keseriusan beberapa investor tersebut. Namun Dirjen Perketera-Apian juga membolehkan PT Mandela Resources untuk mengikuti lelang, meskipun selama ini PT tersebut terlibat sebagai pemrakarsa atau konsultan.
“Berdasarkan kajian yang dilakukan PT Mandela Resources, waktu yang dibutuhkan untuk membangun mega proyek itu mencapai 5 tahun, dengan rincian, persiapan dan pembebasan lahan membutuhkan waktu selama 2 tahun. Selanjutnya memulai pengerjaan rel kereta hingga selesai dibutuhkan waktu minimal 3 tahun.
Rel KA Bengkulu-Muara Enim ini akan melewati sejumlah kabupaten/kota, yakni Kota Bengkulu, Kepahiang, Tebing, Lahat dan Muara Enim Sumsel.
Untuk tahap pertama, rel kereta api Bengkulu-Muara Enim ini fokus mengangkut batubara menuju Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu. Pemerintah Provinsi Bengkulu akan mendapatkan dana sharing yang besarannya akan dibahas antara Pemda Provinsi Bengkulu dengan investor dan Kemenhub.(400)