Rektor Unib Penuhi Panggilan Dewan, UKT Tinggi Karena Tak Jujur

RIO-HEARING DPRD PROV DENGAN REKTOR UNIB-BAHAS UKT UNIB (1)

BENGKULU, BE – Setelah sebelumnya sempat tertunda, akhirnya siang kemarin (15/4), Rektor Universitas Bengkulu Dr Ridwan Nurazi MSc memenuhi panggilan Komisi IV DPRD Provinsi Bengkulu terkait penerapan sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang dikeluhkan mahasiswa beberapa waktu lalu.

Dalam hearing tertutup yang dipimpin Wakil Ketua I DPRD Provinsi, H Edison Simbolon SSos MSi itu terungkap, uang kuliah sistem UKT yang dibebankan kepada mahasiswa sudah sesuai dengan aturan yang berlaku, yakni berdasarkan besaran penghasilan orang tua mahasiswa disampaikan kepada pihak Unib saat seleksi masuk.

Belakangan terungkap, uang kuliah yang dinilai tinggi dan memberatkan itu dikarenakan hampir semua orang tua mahasiswa tidak jujur mengisi data penghasilannya. Akibatnya, UKT klaster 1 dengan biaya maksimal Rp 500 ribu per semester itu tidak ada yang memenuhi syarat. Karena data yang disampaikan orang tua semuanya berpenghasilan tinggi.

“Kemungkinan tidak jujur dalam mengisi data penghasilan itu sengaja dilakukan. Sebab, kalau dibuat penghasilannya rendah, khawatir anaknya tidak diterima oleh Unib. Agar anaknya bisa diterima, para orang tua pun berbohong mengisi data. Setelah UKT ini diberlakukan sesuai dengan intsrumen yang ada, barulah mereka mengeluh dan protes,” ungkap Edison.

Atas perkara tersebut, dalam hearing itu disepakati agar dilakukan verifikasi ulang dengan menyampaikan data yang sebenarnya. Edison pun meminta para mahasiswa yang mengaku keberatan membayar uang kuliah tersebut segera menyampaikan data orang tuanya kepada pihak Unib.

“Verifikasi ini akan dilakukan seusai dengan ketentuan yang ada, mahasiswa yang dulunya kaya tapi sekarang sudah miskin karena orang tuanya sudah meninggal juga dilakukan verifikasi,” ujarnya.

Politisi Partai Demokrat ini berharap, setelah verifikasi ulang dilakukan nanti, tidak ada lagi mahasiswa yang protes sebagai tanda keberatan. Karena uang kuliah yang dibebankan kepadanya berdasarkan data orang tua yang disampaikannya kepada pihak Unib. “Kita harap masalah ini langsung selesai, sehingga para mahasiswa pun bisa fokus belajar,” tandasnya.

Sementara itu, Humas Unib, Adityo P Ramadhan mengungkapkan bahwa verifikasi tersebut juga bisa bisa membuat biaya kuliah yang dibebankan kepada mahasiswa menjadi lebih tinggi, bila hasil verifikasi membuktikan bahwa orang tua mahasiswa tersebut lebih mampu dibandingkan data yang sudah dimasukkan sebelumnya. “Bisa nanti uang kuliahnya turun dan bisa juga naik, tergantung hasil verifikasi,” katanya.

Ia juga mengungkapkan bahwa mahasiswa yang menggunakan sistem UKT itu hanya angkatan 2013 dan 2014 saja, sehingga mahasiswa yang masuk sebelum 2013 dan 2014 tersebut tetap menggunakan sistem uang kuliah yang lama. (400)