PPKNI Kunjungi Graha Pena Bengkulu Ekspress

RIZKY/Bengkulu Ekspress PPKNI Bengkulu memberikan cinderamata kepada BEMG diwakili oleh Pimred Bengkulu Ekspress Koran, Iyud Dwi Mursito
RIZKY/Bengkulu Ekspress PPKNI Bengkulu memberikan cinderamata kepada BEMG diwakili oleh Pimred Bengkulu Ekspress Koran, Iyud Dwi Mursito

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Graha Pena Bengkulu Ekspress mendapatkan kunjungan dari Persaudaraan Perempuan Korban Napza Indonesia (PPKNI) Bengkulu, Kamis (19/4). Kedatangan organisasi yang peduli terhadap korban narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (Napza) tersebut untuk menjalin kerja sama dengan media sekaligus memperkenalkan kepada perempuan korban napza bahwa PPKNI sudah ada di Kota Bengkulu dan siap memberikan wadah bagi perempuan yang menjadi korban Napza. Vokal point PPKNI Bengkulu, Fepi Dahlia mengatakan, tidak ada syarat khusus bagi mantan pecandu atau pengguna narkoba yang ingin bergabung dengan PPKNI.

“Tidak ada syarat khusus jika ada yang ingin bergabung, nanti kita akan sharing, kita berikan pendampingan hukum sampai memberikan edukasi,” jelas Fepi.

Kenapa PPKNI mengutamakan perempuan untuk dilindungi, karena banyak perempuan yang terlibat dengan narkotika mengalami kesulitan dan kekerasan hukum. Karena banyak pihak beranggapan, jika perempuan terlibat Narkoba itu perempuan tidak benar. Padahal stigma tersebut salah, karena tidak semua perempuan pengguna narkotika adalah perempuan tidak benar.

Selain itu pula di Kota Bengkulu tidak ada tempat rehabilitasi pecandu narkoba. Kebanyakan, jika perempuan sudah masuk kedalam Lapas, malah bertambah parah ketergantungan pada narkotika.

“Banyak perempuan mengalami kekerasan dari segi hukum, karena banyak yang beranggapan perempuan pengguna narkotika itu perempuan murahan,” imbuh Fepi.

Berdasarkan pengakuan Fepi, seorang pecandu atau addict sangat susah disembuhnya, karena addict sudah seperti penyakit. Meski tidak bisa disembuhkan, tetapi bisa dipulihkan. Bagaimana caranya, tentunya harus memutuskan jaringan dengan orang-orang yang kerap memberikan narkotika. Harus membuat pengalihan, seperti melakukan kegiatan positif. Jangan sekali-kali timbul sugesti untuk kembali mencicipi narkoba.

“Pecandu atau addict sifatnya seperti penyakit, tidak bisa sembuh tetapi bisa pulih. Caranya, putuskan jaringan dan harus ada pengalihan,” terang Fepi.

Deti salah satu anggota PPKNI yang pernah terjerumus dalam lingkaran narkoba mengaku sangat sulit jika memusnahkan narkoba, tetapi minimal kita bisa mengurangi pecandu atau pemakai narkoba. Sebagai contoh, Deti sudah kenal dengan obat terlarang (ekstasi) sekitar tahun 1990. Bermula dari teman yang menitipkan barang haram tersebut kepadanya, kemudian penasaran dan membeli karena teman memberikan harga murah.

“Strategi pengedar itu cerdas, mereka rata-rata menjual murah kepada pemula, setelah kecanduan mereka bisa seenaknya memberikan harga. Jika sudah demikian, berapapan barang berharga pasti dijual. Belum lagi nanti jika tertangkap, pasti keluar uang lagi,” jelas Deti.

Sementara itu Pimpinan Redaksi (Pimred) Harian Bengkulu Ekspress, Iyud Dwi Mursito mengapresiasi PPKNI menyempatkan hadir ke Gedung Graha Pena Bengkulu Ekspress. Terlebih lagi PPKNI tujuannya untuk memberikan pertolongan kepada perempuan yang terlibat narkoba.

“Kita sebagai media yang juga kerap membuat pemberitaan tentang penyalahgunaan narkoba jelas mendukung tujuan PPKNI yang ingin memberikan edukasi kepada perempuan pecandu narkoba,” pungkasnya.(167)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*