Plt Dirut Tak Kuasa Memangkas, Karyawan RSMY Titipan Pejabat

BENGKULU, BE – Banyaknya pegawai yang bertugas di Rumah Sakit M Yunus (RSMY) Bengkulu membebani keuangan rumah sakit tersebut. Untuk diketahui, jumlah jumlah keseluruhan karyawan/ti RSMY saat ini mencapai 1.300 orang lebih. Jumlah tersebut terbagi dua, sekitar 1.100 pegawai berstatus sebagai PNS, sedangkan sisanya 200 orang lebih berstatus sebagai tenaga honorer. Jumlah tersebut jauh diatas jumlah ideal. Kebutuhan idealnya untuk rumah sakit tipe B seperti RSMY Bengkulu dengan tempat tidur 350 itu maksimal hanya 900 karyawan.
Pelaksana tugas (Plt) Direktur Utama RSMY, dr H Syafriadi MM mengaku bahwa jumlah karyawan/ti rumah sakit yang dipimpinnya itu memang overload. Namun ia sendiri tidak kuasa untuk melakukan pemangkasan, karena tenaga honorer tersebut merupakan titipan pejabat di lingkungan Pemerintah Provinsi Bengkulu.
“Kondisinya memang overload karena tenaga non PNS itukan lebih dari 200 orang. Banyak pertimbangan kalau kita mengeluarkan tenaga honorer itu, banyak yang harus dipertimbangkan karena mereka adalah anak-anak kita semua,” kata Syafriadi, kemarin (5/4).
Karena tidak bisa ‘dibuang’ tersebut, Syafriadi mengaku pihaknya akan memberdayakan para honorer itu, seperti menugaskan di tempat yang perawatannya masih kurang.
“Kita berdayakan saja dan menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Jika disalah satu unit kekurangan tanaga perawatnya, maka kita perbantukan kesana,” terangnya.
Gubernur Bengkulu H Junaidi Hamsyah juga mengaku prihatin dengan overloadnya karyawan/ti RSMY Bengkulu, karena tingkat pelayanan sendiri masih rendah. Sedangkan di daerah lain karyawan/ti pas-pasan sedangkan pelayanannya sangat baik.
“Saya kadang-kadang iri dengan rumah sakit di Jakarta, karena petugas yang piket hanya 4 orang tapi pelayanannya sangat luar biasa. Tutur sapanya halus dan perhatiannya kepada pasien cukup tinggi. Kita malah kebalikannya, kebanyak perawat kita hanya masih honor yang mau melayani dengan baik, setelah jadi PNS jadi beringas dan menakutkan,” ujarnya.
Namun demikian, ia meminta agar karyawa/ti RSMY tersebut semua diberdayakan dan diberikan beban tugas sesuai dengan kemampuannya. “Secara bertahap kita akan lihat apakah ada pengangkatannya menjadi PNS atau tidak, sebab ke depan peluang terbesar penerimaan CPNS adalah tenaga kesehatan dan guru, sedangkan yang lain tidak ada,” tandas UJH.

Gub Beri Peringatan
Di sisi lain, Gubernur UJH memberikan peringatan keras kepada semua karyawan/ti Rumah Sakit Umum M Yunus (RSMY) Bengkulu untuk meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat yang berobat. Jika terbukti tidak peduli, sombong dan tidak memberikan pelayanan yang prima, maka gubernur tidak segan-segan untuk mengganntikannya dengan orang lain yang benar-benar ingin bekerja untuk membenahi pelayanan di rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Bengkulu tersebut.
“Ini bukan ancaman, tapi benar-benar akan kita realisasikan terhadap pejabat yang pemalas dan tidak peduli dengan tugas dan fungsinya. RSMY itu pelayanan publik, sehingga semua karyawan/ti-nya harus memberikan pelayanan yang prima,” kata Junaidi usai menghadiri peringatan Hari Ginjal se-Dunia oleh Instalasi Hemodialisa (HD) RSMY di salah satu hotel di Kota Bengkulu, kemarin.
Menurut UJH, mutasi terhadap pegawai dan pejabat RSMY itu akan dilakukan ketika banyaknya keluhan dari pasien dan keluarganya tentang buruknya pelayanan di RS terbesar di Provinsi Bengkulu tersebut. Karenanya, dari keluhan itu akan dilakukan evaluasi untuk mencari solusinya.
“RSMY ini kan dituntut memberikan pelayanan publik yang maksimal, ketika setiap hari dikeluhkan masyarakat, maka akan kita evaluasi. Jika tidak ada kontrol dari kepala seksi (Kasi), Kepala Bidang (Kabid) dan seterusnya, artinya ini tidak dipantau oleh mereka. Kalau demikian halnya, untuk apa kita tempatkan petugas yang tidak peduli dengan pekerjaannya. Ini bukan ancaman, tapi mereka sendiri tidak bisa bekerja sesuai dengan Tupoksinya. Lebih baik kita cari pegawai yang lain saja yang siap bekerja,” terangnya.
UJH menginginkan semua pegawai di RS tersebut, mulai dari pimpinannya hingga ke staf yang non PNS untuk memberikan pelayanan yang semaksimal mungkin. Sebab, ia sendiri sudah merasakan tidak enaknya ketika tidak mendapatkan pelayanan yang baik dari petugas rumah sakit.
“Saya pernah membawa istri saya dari Bumi Ayu ke RSMY karena terjadi pendarahan hebat saat melahirkan anak ke-4. Setelah sampai di rumah sakit pukul 06.00 WIB pagi langsung menuju ke IGD, di sana belum diterima karena harus mendaftar terlebih dahulu. Selanjutnya saya datang ke tempat pendaftaran. Kemudian oleh petugas saya disuruh baca papan nama yang ada disana bahwa pendaftaran belum dibuka. Tidak enaknya lagi, petugasnya menjawab kami mau senam dulu. Namun tidak lama kemudian ada dokter yang lewat langsung memberikan pertolongan, karena istri saya sudah mengeluarkan darah yang cukup banyak. Tidak juga puas, akhirnya dibawa ke RS Tiara Sella, namun anak kami hanya bertahan hidup 24 jam,” kenangnya.
Sementara itu, Pelaksana tugas (Plt) Direktur Utama RSMY, dr H Syafriadi MM mengaku karyawan yang akan dipindahkan itu adalah tidak respon terhadap pelayanan.
“Kalau sekarang belum ada, jika nanti ada yang judes atau tidak memberikan pelayanan dengan baik, sudah ditegur namun tidak juga berubah, baru kita usulkan pemindahannya,” singkat Syafriadi. (400)

(400)