Pesawat dan Jengkol Sumbang Inflasi

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu menyebutkan Kota Bengkulu pada November 2017 mengalami inflasi sebesar 0,17 persen (month to month) setelah mengalami deflasi di dua bulan sebelumnya. Inflasi yang terjadi pada November ini terutama disebabkan oleh naiknya tarif angkutan udara.

Kepala BPS Provinsi Bengkulu Dyah Anugrah Kuswardani MA mengungkapkan, jika pada dua bulan sebelumnya tarif angkutan udara menyumbangkan deflasi, pada November 2017 naiknya tarif angkutan udara menyebabkan inflasi disertai kenaikan harga kebutuhan pokok lainnya. Kebutuhan pokok yang menyumbangkan inflasi pada November 2017 terdiri dari harga cabai merah, jengkol, seng, mie, ikan teri, besi beton, bahan bakar rumah tangga dan sebagainya. “Ada dua kelompok yang menyumbang inflasi yaitu transportasi, komunikasi dan jasa keuangan serta kesehatan,” ujar Dyah, Selasa (5/12).

Kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan tercatat menyumbangkan inflasi tertinggi di Kota Bengkulu mencapai 0,86 persen. Kemudian diikuti oleh kelompok kesehatan sebesar 0,6 persen. Namun BPS mencatat, inflasi yang tinggi bukan hanya terjadi pada kedua kelompok itu saja, namun juga terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar juga tercatat sebesar 0,55 persen. “Tetapi kelompok bahan makanan mengalami deflasi yang cukup dalam yakni minus 0,79 persen, sehingga inflasi daerah pada November 2017 ini masih bisa berada di bawah satu persen,” terang Dyah.

Sementara itu, kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi dipengaruhi dengan turunnya harga bahan makanan seperti harga daging ayam ras, ikan kape-kape, jeruk, tomat buah, kentang, semangka, ikan nila, kacang panjang, apel dan ikan mas. “Meskipun terjadi inflasi, namun ada beberapa produk di sektor pengeluaran yang mengalami deflasi karena menurunnya harga beberapa barang dan produk,” sambung Dyah.

Pada September 2017 lalu, Bengkulu mengalami deflasi minus 0,04 persen dan deflasi pada Oktober 0,12 persen. Namun bulan ini mengalami inflasi, karena hampir seluruh pengeluaran mengalami inflasi kecuali kelompok bahan makanan. “Inflasi terjadi karena kenaikan harga merata terjadi di bulan November ini,” ujar Dyah.

Kondisi inflasi dari Januari sampai November 2017, Kota Bengkulu ternyata menjadi salah satu kota dengan laju yang cukup baik yakni sebesar 2,84 persen atau sesuai dengan rentang target nasional. “Jika kita dilihat nilai tahunan yakni sebesar 2,99 persen (yoy), jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama di 2016 dengan angka 5,68 persen dan 2015 sebesar 5,54 persen,” tutur Dyah.

Selain itu, menjelang akhir tahun 2017 ini laju inflasi Bengkulu juga diharapkan akan tetap terkendali mengingat akan ada moment penting seperti hari raya natal dan tahun baru yang diprediksi akan mempengaruhi laju inflasi.

“Kita berharap laju inflasi Bengkulu tetap terkendali dan masih berada dalam kisaran target nasional,” tukas Dyah.

Sementara itu, Pakar Ekonomi Universitas Bengkulu (Unib), Prof Lizar Alfansi MBA mengaku naiknya tarif angkutan udara dan menyumbang inflasi mencapai 0,16 persen pada November 2017 dikarenakan meningkatnya jumlah masyarakat yang bepergian keluar provinsi menggunakan pesawat. Selain itu datangnya rombongan menteri BUMN dan jajarannya serta seluruh pimpinan BUMN ke Provinsi Bengkulu pada 23 November lalu juga memberikan porsi yang cukup signifikan pada peningkatan harga tiket pesawat. “Tetapi walaupun mengalami inflasi, kondisi ekonomi Bengkulu tetap terkendali,” tutup Lizar. (999)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*