Perselingkuhan Dipicu KDRT , Nagtiman Dikenakan Pasal Berlapis

KDRT

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Perselingkuhan yang dilakukan istri atau suami sedang marak terjadi. Berdasarkan data di Women Crisis Centre (WCC) Cahaya Perempuan Provinsi Bengkulu, dari 23 kasus Kekerasan Terhadap Istri (KTI), 13 kasus dipicu karena suami melakukan perselingkuhan. Sehingga istri pun membalas dengan cara yang sama sebagai bentuk kekesalan terhadap tindakan suaminya.

“Perempuan berselingkuh sebagai bentuk kekesalan atau sakit hati saat mengalami kekerasan dari suaminya sehingga ia ingin menunjukkan bahwa dirinya juga bisa melakukannya,” ungkap Direktur Women Crisis Centre (WCC) Cahaya Perempuan Provinsi Bengkulu, Tety Sumeri, kemarin (12/3).

Sementara, berdasarkan data Pengadilan Agama Provinsi Bengkulu, kasus perselingkuhan disebabkan poligami pada tahun 2016 dan 2017 masing-masing ada 4 kasus. Tidak hanya laki-laki yang mampu, tetapi perempuan juga bisa melakukan perselingkuhan lantaran laki-laki melanggar komitmen pernikahan.

“Kasus perselingkuhan sekarang memang banyak terjadi, tidak hanya laki-laki, perempuan yang dikhianati juga bisa melakukan perselingkuhan,” lanjut Tety.

Menurutnya, perselingkuhan menunjukkan bahwa ada perilaku yang salah. Berdasarkan pengalaman kasus yang ditangani WCC, kebanyakan istri mendaptkan perlakuan kekerasan meliputi kekerasan ekonomi, kekerasan sosial atau tidak boleh melakukan aktivitas sosial, dan 0kekerasan psikologis yaitu karena tidak menjaga komitmen pernikahan, serta kekerasan fisik.

“Faktor terbesar penyebab terjadinya perselingkuhan yang dilakukan wanita biasanya karena berbagai tindak kekerasan yang dialaminya, seperti kekerasan psikologis dan fisik,” jelas Tety.

Perselingkuhan sendiri merupakan perilaku yang tidak baik yang seharusnya banyak disadari oleh setiap laki-laki maupun wanita. Diharapkan membangun relasi harus didasarkan pada penghargaan dan hubungan kekeluargaan dengan pendidikan dan keadilan gender.

“Kita harus menyasari semua hubungan di luar komitmen melalui asas penghargaan dan saling menghormati, tanpa ada asas lain yang nantinya akan mengarah pada perselingkuhan,” tukas Tety.

Sementara itu, Pakar Psikologi, Dr Ani Suprapti MS Psikolog mengatakan, fenomena wanita berselingkuh rata-rata dipicu oleh ketidakbahagiaan di dalam pernikahan dan bukan karena nafsu.

Wanita yang dilaporkan memiliki kebahagiaan hubungan yang rendah, hampir tiga kali mempunyai kecenderungan untuk berselingkuh dibandingkan para wanita yang merasa puas dengan kehidupan pernikahannya.

“Wanita lebih cenderung berselingkuh jika mereka tidak puas dengan pernikahan mereka, berbeda dengan pria lebih cenderung mencari hubungan fisik,” jelas Ani.

Perbedaan tentang perselingkuhan antara pria dan wanita tidak selesai di sana. Akibat dari perselingkuhan, seorang wanita bisa lebih dramatis. Seringkali pasangan selingkuh para wanita bisa memperlakukannya dengan sangat baik, dan wanita tersebut mungkin kemudian menyadari apa yang hilang dalam pernikahannya.

“Dalam kasus perselingkuhan wanita, dia mungkin tidak menyesali perselingkuhannya karena merasa mendapatkan kebahagiaan di luar pernikahannya,” lanjut Ani.

Biasanya ada berbagai faktor yang menyebabkan seorang wanita selingkuh dari pasangan resminya. Diantaranya, jika dalam perkawinan yang tidak dipelihara, emotional intimacynya menurun. Masing-masing, baik suami dan istri hidup dalam dunianya sendiri tanpa adanya koneksi atau hubungan yang mendalam tentang berbagai hal.

“Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya perselingkuhan, ini akibat kurangnya hubungan dan komunikasi yang baik antar pasangan,” sambung Ani.

Lebih lanjut, Ani mengatakan, pasangan yang sudah memiliki anak akan lebih rentan mengalami penurunan emotional karena pembicaraan, waktu, dan energi suami-istri habis atau banyak tercurah ke sana.

“Kadang-kadang suami atau istri jadi terlupakan lalu hubungannya mengendur, tidak dekat lagi secara emosi dan makin lama makin menjauh,” tutur Ani.

Hal inilah yang kadang menimbulkan rasa sepi, bosan, dan jenuh. Kondisi ini jadi rentan ketika ada pihak lain yang simpatik dan memenuhi kebutuhan emosi seorang wanita. Dari yang semula hubungan hanya mengobrol biasa, lalu berkembang menjadi lebih jauh.

“Biasanya untuk perempuan, intimacy secara emosi lebih penting dibanding intimacy secara fisik,” sambung Ani.

Terakhir, Ani mengingatkan kepada semua pasangan untuk menjauhi perbuatan selingkuh, selain tidak baik, hal ini juga akan merusak hubungan keluarga yang telah dibangun. Ada baiknya semua masalah yang terjadi dibicarakan sebaik mungkin dan diselesaikan dengan baik sesegera mungkin.

“Semua masalah akan selesai dengan komunikasi yang baik, sehingga membangun komunikasi yang baik dan intens akan mampu menghindarkan semua asangan dari perselingkuhan,” tukas Ani.

Pelaku Dijerat Pasal Berlapis
Sementara itu, Polres Bengkulu Utara (BU), masih mendalami kasus pembunuhan terhadap Lilik Rahayu (40) warga Desa Tanah Tinggi Kecamatan Padang Jaya. Bahkan, dalam waktu dekat, Polres segera melakukan gelar perkara bagaimana sebenarnya pelaku menghabisi korban.

‘’Kita akan melihat hasil otopsi dulu untuk melihat kesesuaian antara yang disampaikan pelaku dengan fakta yang sebenarnya,’’ ujar Kapolres BU, AKBP Ariefaldi Warganegara SH SIK MM kepada Bengkulu Ekspress ditemui, kemarin (12/3).

Kapolres menambahkan, pelaku akan dikenakan pasal berlapis, yakni pasal 340, 358, 351 Ayat 3 KUHP. Namun, ia mengaku masih mengumpulkan keterangan lebih lanjut dari pelaku maupun para saksi guna penekanan hukuman yang akan diberikan.

‘’Memang berlapis pasalnya. Nanti kita lihat penekanannya dari hasil yang telah terhimpun,’’ ungkapnya.

Kapolres mengaku masih menggali informasi, apakah pelaku telah merencanakan pembunuhan itu atau memang dilakukan secara spontanitas. ‘’Kalau semuanya sudah lengkap, kita akan lihat seperti apa sebenarnya yang terjadi dalam kasus ini,’’ terangnya.

Tak hanya itu, Kapolres juga masih mencari data tambahan untuk kelengkapan Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Bahkan, bisa mengarah adanya dugaan keterlibatan oknum lain dalam kasus itu. Apalagi melihat postur badan korban jauh lebih besar dari pelaku.

‘’Kemungkinan-kemungkinan yang terduga itu masih kita dalami. Tetapi sampai saat ini, pelaku masih tunggal. Kita dalami lagi semua, apakah ada dugaan orang lain yang membantu dalam pembunuhan itu,’’ jelasnya.

Kapolres melanjutkan, sejauh ini kasus tersebut belum dapat disimpulkan pembunuhan berencana. Karena, pihaknya masih mengumpulkan data yang lebih lengkap. ‘’Kalau berencana itu, harus ada permulaannya. Tapi, berdasarkan data awal ini, belum bisa kita masukkan ke dalam pembunuhan berencana,’’ tuturnya.

Sebelumnya, ayah korban, Subagio menyebutkan sangat tidak menyangka jika pelaku tega membunuh anaknya dengan cara yang sedemikian rupa. Namun, ia menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus ini, agar pelaku dapat diberikan hukuman yang setimpal.

‘’Kalau dibilang dendam, ya ada. Tapi, apa yang mau diomong lagi, kenyataannya anak saya sudah tidak ada,’’ pungkasnya.(999/816)

Baca Juga

Korban Punya PIL , Menikah Siri Sejak Pisah Ranjang